Dinner Paling Memalukan

1077 Kata
Setelah mengatakan pernyataan yang sumpah bikin aku malu banget kemarin, Hiro mengantarkan aku pulang sampai ke depan pintu kamar hotel tempatku dan Hiro menginap. Dengan gaya arogannya itu, si Hiro berdehem dan mengusap kepalaku. Alah, dia sok romantis banget, kan? tapi kok aku suka? Layaknya orang yang lagi jatuh cinta, aku pun senyum-senyum sendiri mengingat perlakuan Hiro sableng kemarin. Apa lagi sekarang aku sedang bersiap-siap untuk pergi kencan? Ah, aku makin gerogi membayangkan kalau kami akan berkencan hehe. Tapi, seperti di kembalikan dari dunia khayalan secara paksa, sesuatu menarik diriku untuk bersikap waspada sebab apa yang saat ini sedang terjadi, hanyalah kamuflase saja. Ya, semua hanya permainan agar si Hiro sableng nggak menjadi satu-satunya manusia yang sedang patah hati. Diriku murung. Astaga! Memangnya apa yang ku harapkan dari cerita yang endingnya nggak mungkin persis seperti yang ku harapkan. "Sadar Litia!!!! Memangnya akhir yang kayak gimana sih yang kamu mau?" kesalku. Kenapa aku mendadak jadi mellow gini ya? Ahh nggak mungkin kan aku berharap lebih ke si muka datar itu? Ya, dia milik orang lain. Dia cinta sama Anastasya Ruby dan itu kenyataan. Mana mungkin seorang Litia bisa mengalahkan perempuan sesempurna Ana. "Wah aku mulai ngelantur nih," untung handphoneku bunyi. "Hallo?" siapa lagi yang nelpon kecuali Hiro. Aku berdehem, jantungku maraton lagi cuma gara-gara dengar suaranya. Tanda bahaya ini. Efek terlalu sering nyebut nama tuh orang. "Cepat! Saya nggak suka nunggu terlalu lama!" "Iya!" bentakku. Kesal juga aku karena Hiro sangat pemaksa. Aku mengambil sling bag kesayanganku. Melihat sebentar ke arah Heels yang saat ini ku gunakan. Ya Tuhan! Ngapain juga aku pakai ini? Aku menghela napas lalu perlahan melepas High Heels yang ada di kakiku. Ku buka koperku dengan sedikit kesal. Dari pada High Heels lebih baik Flatshoes. Saat membuka pintu, tebakanku tentu saja benar. Hiro sudah di depan sambil menyenderkan punggungnya di dinding. Tanpa berniat menyapa, ku tinggalkan saja dia sendirian. "Tunggu!" katanya. Nah, maunya apa sih Hiro ini? Jelas-jelas tadi dia bilang nggak suka nunggu lama, giliran aku buru-buru, dianya yang minta ditungguin. Kan, edan. Nggak disangka-sangka Hiro menautkan jarinya ke jariku. Nggak butuh waktu lama bagi kami berdua untuk sampai ke salah satu restoran terkenal di tempat ini. Suasananya romantis, ada lilin di atas meja yang begitu tertata. Musik berbunyi. Lagu tentang cinta mengalun indah menambah keromantisan yang kesannya nggak dibuat-buat. Ah hatiku nelangsa lagi. "Rileks," bisikan itu seakan membuatku tersadar. Aku malu. Kenapa aku bisa memiliki perasaan kecewa hanya karena semua ini nggak senyata kelihatannya. "Mau makan apa?" pertanyaan Hiro mengudara. Aku menghembuskan napas dengan lirih. Ku tarik kedua sudut bibirku, mencoba menepis semua perasaan nggak suka saat melihat kemunafikan dan kecurangan Hiro padaku. "Apa aja yang penting halal," jawabku dengan kekehan. Kernyitan di kening Hiro menandakan kalau dirinya bingung dengan jawabanku. Tapi, tanpa berniat menanyakan lebih detail apa yang mau aku makan, Hiro lebih memilih memesankan makanan sesuai keinginannya. Lagi-lagi aku mengeluh. Harus berapa kali aku bilang kalau semua ini hanya kamuflase! Nggak mungkin Hiro mau repot-repot menanyakan sekali lagi apa yang ku mau. Laki-laki itu malah sibuk dengan handphonenya. Sesekali dia berdecak, wajahnya mengeras. Ah, aku bisa tebak, Hiro pasti sedang baca berita tentang Ana. Ayolah Liti! Apa lagi yang bisa membuat Hiro kesal selain hal yang berhubungan dengan Ana. Kenapa aku kesal? Kenapa aku nggak suka? Lama dia menunduk, makanan yang kami pesan juga belum datang. Ibarat bayangan, entah kenapa aku merasa, ekstensiku nggak bisa dirasakan dan dilihat oleh Hiro. Bunyi gesekan antara kaki kursi dan lantai ternyata berhasil menarik Hiro dari dunianya itu. Ia mendongak. Menatapku dengan kening berkerut. "Aku ke toilet bentar," ucapku menjawab pertanyaan tersirat dari raut wajah itu. Hiro berdehem. Kakiku melangkah, detakan jantung jadi lebih nggak karuan. Sampai toilet aku nangis, kan bodoh? "Isssshh nanti luntur!" maskara yang ku maksud. Setengah jam berlalu. Aku keluar toilet dengan mata yang sembab. "Kamu kenapa?" "Aku kenapa?" aku mengulangi pertanyaan Hiro. Iya, aku ini kenapa sih? Alih-alih nemu jawabannya, aku malah makin ingin nangis sangking sebelnya sama sikap anehku ini. Hiro tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Mau kemana dia? Masih dengan tampang bertanya-tanya, ku lihat Hiro menarik kursi di sebelahku. Dengan santainya dia duduk di situ. Tatapannya juga nggak beralih dari aku. "Kenapa?" tanyanya lagi. Aku mengerjap kayak orang bodoh. Siapa coba yang nggak baper ditatap sama cowok seganteng Hiro? Mana suaranya lembut banget lagi. Kan aku jadi mau nangis lagi karena terharu. Tiba-tiba dia meluk aku sambil curi-curi ciuman di kepalaku. Ini kenapa lagi sih? Kok kita berdua udah kayak orang pacaran beneran, ya? Aku menggelengkan kepala. Nggak mau terlena lagi karena Hiro. Aku dorong tubuhnya sampai pelukannya terlepas. Kini giliran dia yang kayak orang bodoh. Pasti dia syok karena perlakuan aku. Duh, bodoh amat deh. Lagi pula aku malu banget dilihatin orang banyak kayak gini. "Jangan baperin aku terus!" pernah dengar istilah 'mulutmu harimaumu' nggak? Nah kira-kira itu yang sedang terjadi sama aku sekarang. Lihat! Hiro jadi senyum-senyum sendiri. Kerasukan lagi kayaknya nih orang. Dia berdehem, "jadi kamu baper?" tanyanya. Ishh aku kan malu ditanya kayak gitu. "Nggak! Biasa aja!" jawabku ketus. Dia malah tertawa. Apa yang lucu sih? Jangan-jangan yang ada di depanku sekarang bukan Hiro? Dedemit mana yang ada di jiwa raga Hiro? Jangan-jangan.. "Nggak usah kebanyakan mikir!" Hiro mencegahku berhalusinasi. Aku ikut berdehem kayak yang tadi dia lakukan. Agak sedikit bergeser, rencana mau ngasih jarak gitu tapi Hiro malah ikut geser juga. Ku pelototi saja dia. "Ngapain ikut geser sih?" tanyaku. Dia terkekeh. "Jawab!" ketusku. Dia terkekeh lagi. Ah, aku baru sadar sejak tadi ekspresi Hiro nggak cuma satu. "Gini ya kalau kamu lagi datang bulan?" Hiro ngomongnya santai banget. Nggak ngomong formal kayak biasanya. Tapi tunggu... "APA???" teriakku. Aku datang bulan? Haha nggak mungkin. Cepat-cepat aku cek hp dan melarikan jempol tanganku ke ikon yang bertuliskan 'kalender'. Di detik itu juga aku ingin sekali menyumpahi kepikunanku. Serius ini tanggal 'itu'ku ya? Aku terkena serangan panik saat ingat sikap anehku sejak tadi. Harusnya aku sadar kenapa aku jadi lebih sensitive, suka marah, dan bahkan dengan bodohnya nangis-nangis di toilet. Dinner malam ini benar-benar jadi dinner yang memalukan. Tapi seenggaknya aku lega, sebab ku pikir aku suka Hiro dan cemburu karena Ana, juga kesal saat Hiro cuma memanfaatkan aku. Semua itu hanya karena aku kedatangan tamu bulanan. Nggak lebih. Nggak ada yang spesial dari degubku. Kami pulang tanpa sempat memakan pesanan kami. Entah darimana Hiro mendapatkan jaket, yang aku tahu jaket itu melingkar di perutku, menutupi bagian belakangku karena aku yakin nggak akan lama lagi warna merah akan tercetak di sana.    . . TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN