DUA

1114 Kata
Keesokan harinya, Vaniesya kembali melakukan rutinitas kesehariannya, yaitu berangkat kuliah dipagi hari. Seperti biasa, Vaniesya tak akan pergi sendirian ke kampus, ia akan pergi bersama sang supir, dan supir akan menunggunya sampai selesai kuliah. Itu sudah menjadi kebiasaan, apalagi setelah insiden beberapa tahun yang lalu. Yang mengharuskan Vaniesya dikawal oleh seorang supir. "Pak, tunggu ditempat biasa saja, jangan didepan gerbang." perintah Vaniesya sebelum keluar dari dalam mobil. Supir itu mengangguk, pertanda paham akan perintah majikannya. Setelah itu Vaniesya keluar dan segara masuk kedalam universitas. Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, banyak sekali pasang mata yang memperhatikan sosok Vaniesya. Bagi mereka, Vaniesya adalah sosok yang misterius dan sulit untuk didekati. Mereka kebanyakan penasaran akan sosoknya itu. "Vane." panggilan itu terdengar, membuat Vaniesya menoleh dan mendapati seorang perempuan sedang berjalan kearahnya. "Hm?" "Aku dengar kondisi bibi Dharina kembali kritis ya? Aku tahu itu dari kakakku yang bekerja di rumah sakit, tempat mommy mu dirawat." jelas perempuan itu-Elena. "Iya, tapi sudah membaik kembali." Terlihat Elena tersenyum. Elena adalah sahabat terdekat yang dimiliki Vaniesya, karena hanya Elena lah sahabatnya. Sudah dibilang bukan, Vaniesya adalah orang susah untuk didekati, namun keberuntungan apa yang ditangan Elena, sampai ia berhasil menjadi sahabat Vaniesya. Mereka berjalan beriringan menuju fakultas masing-masing. Karena mereka berbeda fakultas, Vaniesya fakultas seni dan desain. Sedangkan Elena fakultas hukum. °•°•°•°•°•° Cuaca cerah yang mendukung, membuat Adeks berakhir ditempat golf. Ia tidak sendirian, melainkan ada seorang wanita berpakain sexy yang menemaninya. Itu sudah menjadi kebiasaan Adeks, tidak akan pernah luput dari yang namanya wanita sexy. Bagi Adeks, para wanita itu adalah mainan yang akan menghiburnya diwaktu-waktu tertentu, seperti saat ini. "Tuan, apa kau tidak merasa lelah? Bagimana jika tuan istirahat sebentar." celetuk wanita disamping Adeks dengan nada yang dibuat semenggoda mungkin. "Istirahat saja?" tanya Adeks, seraya menampilkan seringaiannya. Wanita itu tersenyum, dan merapatkan bagian tubuh depannya dilengan Adeks. Tentu saja Adeks dapat merasakan bagian privasi wanita itu, tapi Adeks diam dan menunggu apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya. "Mau ke hotel? Mencari kenikmatan dunia." Adeks tersenyum miring, ia segara membawa wanita itu meninggalkan lapangan golf. Sesampainya di parkiran, Adeks menyuruh wanita tersebut masuk kedalam mobilnya terlebih dahulu. "Laksanakan rencana ku Amer!" perintah Adeks pada seseorang disebrang telfon sana. Setelah mengatakan itu, Adeks menutup panggilannya sepihak dan kembali memasukkan ponsel miliknya kedalam saku celana. "Kejutan menantimu Rose." Muncul seringaian tipis, dan tatapan mata yang menajam,  menakutkan. "Kenapa lama sekali, menelfon siapa?" tanya wanita itu, yang diketahui namanya Rose. Rose. Rose Meevelnio, model terkenal di London yang dengan bodohnya mau dimanfaatkan oleh pria tua bangka, yang sebantar lagi mungkin akan mati. Ada alasan kenapa Rose sampai bisa berada di Turki. Itu semua ulah tua bangka yang mengirimnya kemari, hanya untuk tujuan menggoda seorang Adeks Abraska Frandes. Hal itu bertujuan agar Adeks menyerahkan kekuasaannya yang berada di London, pada tua bangka yang sudah menjadi musuhnya itu. Rose dijadikan sebagai umpan, agar Adeks bersedia menyerahkan kekuasaan itu. Pria tua bangka itu berpikir jika Adeks adalah orang yang gila perempuan, maka dengan cara mengirim Rose akan mempermudah keinginannya mendapatkan kekuasaan di Rusia. Padahal, apa yang dilakukan tua bangka itu, justru hal yang sia-sia. Bukannya akan mendapat kekuasaan, tua bangka itu akan mendapat hadiah yang sangat mengejutkan dari Adeks. Begitupun dengan Rose, wanita itu akan menerima akibat karena menuruti perintah tua bangka itu hanya karena iming-iming satu mansion mewah di London. Bagimana bisa Adeks mengetahui semua itu? Jawabannya, karena Adeks pintar. Dan ia dengan mudah meminta anak buahnya untuk mencari informasi mengenai Rose, yang datang tiba-tiba ke Turki. Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Adeks sudah tiba didepan Hotel Mourane. Dengan segara Adeks turun dan membukakan pintu untuk Rose. Itu semua Adeks lakukan hanya untuk memberi kesan manis sebelum berakhirnya hidup seorang Rose, model terkenal. Adeks orang berbahaya, yang tak segan-segan melenyapkan orang yang mempunyai niatan buruk terhadap dirinya. Dengan senang hati, Rose menyambut uluran tangan Adeks. Rose berpikir, kedatangannya kemari adalah sebuah keberuntungan karena bisa merasakan bagaimana perilaku lembutnya seorang Adeks. "Kau manis sekali tuan. Sampai mau membukakan pintu untukku, aku jadi tidak ingin pulang ke London." ucap Rose yang tengah bergelayut manja dilengan Adeks. "Memang kau tak akan pulang ke London Rose." "Tapi kau akan pulang kepada sang pencipta mu." Lanjut Adeks dalam hati. Ia sudah tak sabar. °•°•°•°•°•° Rose bersandar dikepala ranjang, dengan tangan kanan yang memegangi selimut, untuk menutupi tubuh polosnya. Sedangkan tangan kirinya sibuk bermain ponsel. Adeks? Pria itu sudah pergi dari hotel setengah jam yang lalu. Tapi, sebelum pergi ia menyempatkan untuk memberi Rose hadiah kalung cantik, sebagian kenang-kenangan terakhirnya. Tentu saja, hadiah dari Adeks membuat Rose merasa senang. Pasalnya, kalung yang diberikan Adeks adalah kalung berlapis berlian asli. Siapa wanita yang tidak mau diberi itu? "Ah, aku rasa aku tak perlu kembali ke London." "Disini sehari saja, aku sudah mendapatkan kalung berlapis berlian asli. Bagimana jika aku disini sebulan? Atau menjadi kekasih Adeks? Ah, hidupku akan semakin makmur." monolog Rose membayangkan ia akan menjadi kekasih Adeks. "Tak sia-sia aku menuruti perintah tua bangka itu. Sudah dapat satu mansion, dapat Adeks lagi. Tambang emas ku." Rose semakin menjadi-jadi membayangkan Adeks. Bahkan wanita itu terus saja menatap kalung pemberian Adeks, sampai terdengar bunyi ketukan pintu dari luar, membuatnya berdecak kesal. "Siapa sih, mengganggu saja." omel Rose. Ia turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu, hanya dengan selimut putih yang melilit tubuh polosnya. Tak lupa tangnnya juga menggenggam kalung berlian miliknya. Tangan Rose yang bebas membuka kunci, dan membuka pintunya melihat siapa gerangan yang mengetuk pintu. Namun, alangkah terkejutnya. Rose sampai menjatuhkan kalung yang dipegangnya. Ia mengeratkan lilitan selimutnya dan berjalan mundur menjauhi sang pelaku pengetukan pintu. Ingin rasanya Rose berteriak, namun lidahnya terasa keluh untuk mengucapkan sesuatu. Sampai bunyi pintu kembali tertutup, semakin menambah rasa ketakutan di diri Rose. "Ma--mau apa kau?" "Saya? Saya hanya ingin menjalankan perintah tuan saya, untuk melenyapkan hidup mu nona." Rose menggeleng cepat, ia sungguh ketakutan. Keringat sudah membasahi pelipisnya dan pasokan udara serasa semakin menipis, membuat Rose kesulitan untuk bernafas. "Nona sudah memilih jalan yang salah dengan datang ke Turki, dan berniat merayu tuan saya. Seharusnya nona menolak perintah tua bangka itu." Belum sempat Rose mengeluarkan suara, benda lancip dan sangat tajam sudah menembus bagian perutnya. "Ahkkkk--ak--" Rose tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya tercekat. Dan setelahnya kegelapan menguasai Rose. Pria itu tersenyum melihat Rose yang sudah tak bernyawa. Ia mengambil kalung yang sempat terjatuh dari genggaman Rose, dan memakaikannya di leher Rose dengan hati-hati. Tentu saja melakukan itu tidak dengan tangan kosong, pria itu memakai sarung tangan. "Tuan, sudah beres semuanya." ucap pria itu memberitahu seseorang disebrang telfon sana. "Sekarang tinggal tua bangka itu tuan." ucapnya lagi. Dan setelah itu keluar dari dalam kamar hotel, yang terdapat mayat Rose. "Semoga kau masuk surga nona."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN