Saat ini Vaniesya tengah berada didalam cafe dekat dengan universitas nya. Ia fokus membaca buku dengan headset yang bertengger manis dikedua telinganya. Ia sesekali menyesap coffee latte yang tadi sempat dipesan.
Sangking fokusnya pada buku yang tengah dibacanya, Vaniesya sampai tak sadar bila ada pria bersetelan formal berjalan kearah mejanya.
"Apa bisa aku duduk disini, nona manis?"
Vaniesya mendongak dan menatap seseorang yang tengah berdiri didepannya. Tatapannya terkunci pada pria itu, saat ini pun tangan Vaniesya sudah mengeluarkan keringat dingin. Ini sudah menjadi kebiasaannya jika sedang merasa ketakutan.
Ia risih dan merasa takut berdekatan dengan kaum adam, ia takut. Mungkin ia akan terbiasa pada orang-orang tertentu saja, misal paman, supir, dan tentu anak buah pamannya. Itupun hanya sebagian. Karena masa lalu itu, membuat ruang kenyamanan Vaniesya terbatas.
"Masih ada banyak meja yang kosong, kenapa mau disini?"
Pria itu tersenyum dan tanpa persetujuan Vaniesya, pria itu sudah duduk disampingnya dan meletakkan tangannya tepat dipaha Vaniesya.
"Apa-apaan kau." bentak Vaniesya kesal, seraya menyingkirkan tangan pria itu.
"Nona manis kenapa galak sekali?"
"Cih, lepaskan tangan kotor mu dariku" sentak Vaniesya. Ia berusaha menjauhkan tangan pria itu, namun semuanya sia-sia.
"Jangan sok jual mahal nona. Kau tahu, aku dari tadi memperhatikan mu. Kau tahu kenapa? Karena aku tertarik pada mu. Kau itu sangat cantik." bisik pria itu, dengan tangan yang sudah meraba kemana-mana.
"Lepas, lepaskan." ronta Vaniesya kala pinggangnya ditarik paksa, untuk mendekat.
Dan sialnya, pengunjung cafe itu hanya bebrapa orang. Itupun jarak meja mereka dengan meja Vaniesya jauh. Dan itu menambah ketakutan Vaniesya, meskipun ia berusaha untuk terlihat berani.
"Lepas." sentak Vaniesya. Kali ini ia terbebas dari rengkuhan pria itu, dan berusaha bangkit dari duduknya.
"Nona kau mau kemana." pria itu mencekal pergelangan tangan Vaniesya.
"Lepas, lepaskan aku." teriak Vaniesya akhirnya. Beberapa orang yang ada disana menoleh kearah Vaniesya, dengan pandangan berbeda-beda.
"Hey kenapa menatap seperti itu, ini kekasih ku."
Vaniesya melototkan matanya, "Bajingan."
Dengan sekuat tenaga Vaniesya mendorong pria itu, dan berniat untuk lari dari sana. Akan tetapi, ketika ia berbalik ia tak sengaja menabrak seorang pria, sehingga membuat gelas kopi yang dibawa pria tadi mengenai setelan jas nya.
"Apa yang kau perbuat, lihatlah jas ku ini. Kau--" teriakan pria itu terhenti ketika melihat wajah sang pelaku.
"Nona, kau lagi." ucap nya. Sedangkan Vaniesya sudah bersiap untuk pergi.
Pria yang tak sengaja ditabrak Vaniesya adalah pria yang semalam.
"Maaf, maaf tuan. Bisakah Anda jangan halangi jalan saya untuk pergi?"
"Kau sudah menabrak tapi tidak minta maaf, tidak ada sopan-sopannya kau."
"Maaf, tapi--"
"Apakah yang dibelakang mu itu kekasih mu?" entah kenapa tiba-tiba pertanyaan itu yang muncul. Saat matanya tak sengaja menatap sosok pria dibelakang gadis yang menabraknya tadi.
Vaniesya menggeleng kuat dan segera lari keluar cafe, sebelumnya ia sudah membayar pesanannya.
°•°•°•°•°•°
Nafas Vaniesya terengah-engah, ia berlari cukup jauh dari cafe. Ia sampai lupa mengabari supirnya, alhasil saat ini Vaniesya harus menunggu jemputan agar bisa kembali pulang ke mansion.
Selagi menunggu Vaniesya mengedarkan pandangannya kejalanan, sampai sebuah mobil Sport hitam, berhenti tepat didepannya.
Pintu mobil itu terbuka, keluarlah pria dengan kacamata hitam yang menghiasi matanya. Vaniesya melangkah mundur, kala pria itu berjalan mendekatinya. Ia takut jika pria itu adalah pria yang sama saat di cafe. Pria yang kurang ajar terhadapnya.
Namun, dugaan Vaniesya salah saat pria itu membuka kacamata hitamnya.
"Kita bertemu untuk yang ketiga kalinya nona. Dipertemuan pertama kau menabrak mobilku, dipertemuan kedua kau menumpahkan kopi di jas ku, dan pertemuan ketiga disini."
Vaniesya diam, menunggu kelanjutan dari didepannya ini.
"Apa kau tahu nona, dengan kau tidak mau meminta maaf tadi. Itu sudah membuat harga diriku turun dihadapan perempuan."
"Ak--"
"Kau malah langsung pergi dan meninggalkan aku sendiri dengan kekasih mu itu."
"Itu bukan kekasih ku"
"Ah lupakan itu, sekarang aku--"
PLAK
Vaniesya menampar pipi pria itu. Salah siapa sendiri memajukan badanya mendekati Vaniesya, refleks Vaniesya menamparnya.
"Kau, beraninya kau." geram pria itu. Ia kesal, bisa-bisanya ada perempuan yang menampar dirinya.
Baru saja pria dihadapan Vaniesya ingin mengeluarkan suara, mobil jemputan Vaniesya sudah sampai dan supirnya menyuruh Vaniesya agar segera masuk.
Oh, dewi fortuna sedang berpihak kepada nya.
Dengan cepat Vaniesya kearah mobil nya, dan masuk dengan perasaan lega. Namun berbeda dengan pria itu.
"Menarik untuk seorang Adeks." gumamnya. Ia segara mengeluarkan ponsel nya dan mendial nomor seseorang.
"Amer, segara cari tahu mobil dengan plat nomor ×××××!" perintah nya, pada seseorang disebrang telfon.
"Baik tuan Adeks."
Telfon ia putuskans sepihak dan menatap mobil yang ditumpangi Vaniesya melaju meninggalkan tempat.
"Kita akan bertemu lagi, gadis kurang ajar."