Pewaris Bisnis

1101 Kata
Jasmine keluar kamar setelah memastikan Kevin tertidur pulas. Tujuannya ingin bertemu dengan Pak Benjamin. Ruangan yang luas dan megah membuat Jasmine kebingungan mencari sosok orang yang disegani di rumah ini. ‘Apa mungkin, Pak Benjamin belum pulang kerja?’ gumam Jasmine seorang diri. Ia pun memutuskan masuk kembali ke dalam kamar. Namun, seseorang menghentikan langkahnya. “Nona Jasmine!” “Iya?” Jasmine membalikkan badan. Rupanya salah satu asisten rumah tangga Pak Benjamin yang memanggil. “Mohon maaf, Nona. Pak Ben tadi berpesan, kalau Nona sudah sadarkan diri, silakan menyantap makanan yang tersedia.” Seketika, Jasmine menelan air liur. Kedua matanya melebar. Kebetulan sekali perut Jasmine sangat lapar. Pak Benjamin memang sangat pengertian. Seharian ini Jasmine hanya memakan sepotong roti tawar. Itu pun tadi pagi ketika sarapan bersama kedua orang tuanya. “Baiklah, kebetulan sekali perutku sangat lapar,” ucap Jasmine tersenyum lebar. Kemudian, Jasmine mengikuti langkah ketua Chef menuju ruang meja makan yang amat luas. Kedua mata Jasmine membeliak tak percaya melihat deretan lauk pauk yang tersaji di atas meja berbentuk segi panjang. “Silakan duduk, Nona.” Salah satu Asisten rumah tangga menarik kursi, mempersilakan Jasmine duduk. Gadis itu mengucapkan terima kasih. Setelahnya, dua orang asisten rumah tangga meninggalkan Jasmine seorang diri. Jasmine dengan sigap memilih beberapa lauk pauk yang disukai. Selang beberapa menit, suara Pak Benjamin terdengar. Jasmine terkesiap. “Kamu sudah sadarkan diri, Jasmine?” “Sudah, Pak. Mohon maaf kalau tadi aku merepotkan.” Jasmine tak enak karena fisiknya tak kuat menahan penyiksaan yang dilakukan Kevin. “Tidak merepotkan. Sekarang bagaimana keadaanmu? Apa lehermu masih sakit?” Pak Benjamin tak dapat menutupi kecemasannya. Lelaki tua itu duduk di kursi yang tak jauh dari anak gadis Pak Haris dan Ibu Liana. Setelah lebih mengenal kepribadian Jasmine, Pak Benjamin semakin yakin kalau Jasmine pantas menjadi anak menantu keluarga Pak Benjamin Khaled “Sudah lebih baik, Pak. Hmm ... Pak Ben, terima kasih atas makanannya.” Jasmine menyudahi makannya yang terlambat. Lumayan, perutnya sekarang sudah terisi. Tubuhnya pun sudah tidak lemas lagi. Paling tidak, jika tubuh Jasmine telah bertenaga, ia memiliki kekuatan ketika mendapat siksaan dari Kevin. “Kamu jangan sungkan. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Tadi aku sudah bicara pada Kevin. Aku rasa, dia bersedia menikahimu,” ucap Pak Benjamin setengah berbisik. Kedua mata Jasmine membesar, terkejut. “Benarkah? Kenapa Pak Ben begitu yakin?” “Kamu lihat saja nanti. Ya sudah, nikmati makanmu. Kamu yakin tidak ingin ke dokter? Aku bisa memanggilkan dokter pribadi untuk memeriksa keadaanmu.” “Tidak usah, Pak. Aku sudah lebih baik,” timpal Jasmine tersenyum merekah. Jauh dari lubuk hati, pak Benjamin sebenarnya merasa kasihan pada Jasmine. Gadis itu rela diperlakukan kasar oleh anak semata wayangnya demi kedua orang tuanya. Memang, sepintas syarat yang diberikan Pak Benjamin telah menyakiti Jasmine. Tetapi, Pak Benjamin pun tidak ingin anak semata wayangnya larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan. Kevin harus menikah, harus memulai hidup baru lagi, harus memiliki keturunan dari wanita baik-baik dan Pak Benjamin yakin kalau Jasmine adalah wanita yang baik-baik. “Sekarang Kevin di mana?” “Dia mabuk. Sekarang sedang tidur.” “Dasar Pemabuk! Mau sampai kapan dia seperti itu? Jasmine, kalau kamu jadi istrinya, kamu mesti melarang dia minum-minuman!” perintah Pak Benjamin ditanggapi anggukkan kepala Jasmine. “Baik, Pak.” Meskipun Jasmine ragu apakah usahanya membujuk Kevin berhasil atau tidak? Terpenting sekarang, Jasmine tidak boleh patah semangat. *** Pukul delapan malam, Kevin masih tertidur pulas. Sedari tadi, Jasmine hanya menonton televisi. Dia tidak berani mengaktifkan handphone-nya karena tidak mau dihubungi Pak Haris dan Ibu Liana. Jasmine tahu, kalau Pak Harus dan Ibu Liana sedang mengkhawatirkannya. Tetapi, Jasmine harus merahasiakan keberadaannya saat ini. Jika kedua orang tua Jasmine tahu kalau dia sedang di rumah Pak Benjamin, pasti Pak Haris akan datang. Ketukan pintu menyentak gadis berusia belasan tahun. “Jasmine, Kevin sudah bangun?” “Belum bangun, Pak.” Jasmine membuka pintu kamar lebar, membiarkan Pak Benjamin masuk ke dalam. “Anak pemalas! Kamu ambil ini! Ganti pakaianmu di dalam toilet sana!” Pak Benjamin menyerahkan goodie bag. Ragu, Jasmine mengambilnya. “Ta-tapi ....” “Aku tahu, kamu tidak akan pulang ke rumah kalau belum bisa membuat si pemabuk itu menikahimu. Benar bukan?” “Benar, Pak,” jawab Jasmine meraih goodie bag yang disodorkan Pak Benjamin. Ia lantas masuk ke dalam toilet, mengganti pakaian yang seharian dipakai. Pak Benjamin mendekati anak tunggalnya yang tertidur pulas. “Hei, Kevin! Bangunlah! Kevin, bangun!” Pak Benjamin menggoyangkan lengan Kevin. Pria itu menggeliat, mengerjapkan kedua mata. “Ngapain Papa ada di kamarku?” tanya Kevin, melihat keberadaan Pak Benjamin duduk di sisi ranjang. “Mau membangunkanmu! Bangunlah! Ada yang ingin Papa bicarakan!” Kevin bersingut, duduk bersandar sambil menguap. Kevin berusaha memulihkan kesadaran, kedua matanya kembali mengerjap, memandang sekeliling. “Gadis itu sudah pulang?” Kevin teringat Jasmine yang sebelumnya bersikukuh tetap di dalam kamarnya. “Memangnya kenapa kalau dia pulang?” “Baguslah! Dengan begitu, aku tidak perlu menikah lagi!” Kevin menyibak selimut, turun dari tempat tidur, berjalan menuju toilet. “Kevin, kamu mau kemana?” “Mandi!” “Jasmine ada di dalam toilet!” “Apa? Jadi gadis itu belum pulang?” Kevin terkejut. Langkahnya kembali menghampiri Pak Benjamin yang menghela napas berat. “Belum. Dia gadis yang pantang menyerah. Seharusnya kamu mau menikahinya. Kevin, Papa hanya ingin kamu menikah, punya istri dan punya anak! Kamu tentu tahu betapa besar arti keturunan Khaled bagi Papa!” Kevin mengacak rambut, duduk di sisi ranjang, sebelah Papanya. Pandangan Kevin menerawang ke depan. “Pa, apakah Papa tidak takut kalau gadis itu hanya menginginkan uang Papa saja?” sorot mata Kevin tajam memandang Papa kandungnya. “Tujuan Jasmine ingin kamu nikahi memang seperti itu! Dia ingin seluruh hutang keluarganya lunas! Dia tidak ingin kalau keluarganya hidup kekurangan! Makanya dia tetap ingin kau nikahi! Sudah Papa katakan padamu, Jasmine bukan manusia egois sepertimu! Kamu yang hanya mementingkan dirimu saja tanpa mau mementingkan keinginan Papa! Cobalah berdamai dengan keadaan. Nikahi Jasmine! Kelak, kamu akan menemukan kebahagiaan bersama gadis itu!” Pak Benjamin tak bosan membujuk anak tunggalnya agar bersedia menikahi Jasmine. Sungguh, Pak Benjamin sangat menginginkan anak semata wayangnya memiliki keturunan. Keturunan yang kelak akan meneruskan tahta perusahaan Ben Khaled Corporation. Kevin terdiam. Memikirkan ucapan yang meluncur dari mulut Papanya. Mungkin yang dikatakan Pak Benjamin ada benarnya. Dia akan menemukan kebahagiaan bersama gadis yang usianya masih belasan tahun. Pak Benjamin berharap, kalimat yang akan keluar dari mulut Kevin adalah persetujuan dirinya menikah dengan Jasmine Antonio. “Bagaimana? Apa kamu setuju menikah dengan Jasmine? Kamu tak perlu memaksakan diri untuk mencintainya. Paling tidak, berikan Papa pewaris untuk meneruskan kerajaan bisnis kita, Kevin Khaled!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN