Setelah Pak Benjamin Khaled keluar kamar, Kevin beranjak ke dalam toilet, membersihkan diri. Ia tak mengiyakan atau menolak keinginan Papanya. Lelaki yang telah lama hidup sendiri. Menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja.
Di bawah kucuran air, Kevin memejamkan kedua mata. Air yang mengalir membasahi tubuh, membuat pikiran dan hatinya lebih tenang. Seperti kobaran api yang tersiram hujan lebat. Padam.
Hampir dua puluh menit, Kevin berada di dalam toilet. Ia menyudahi, melilitkan handuk sebatas pinggang, lalu keluar. Pandangan Kevin langsung tertuju pada gadis yang masih berbaring di atas peraduannya. Kedua mata Jasmine masih terkatup rapat.
Kevin melangkah, membuka lemari, mengenakan pakaian santai. Setelahnya, Kevin mendekati Jasmine, duduk di sisi ranjang.
“Hei, bangun! Mau sampai kapan kamu gak sadarkan diri? Bangun, hei bangunlah!”
Kini, Kevin tak takut lagi kalau Jasmine akan meninggal dunia. Dadanya terlihat naik turun beraturan. Hanya saja, kedua mata Jasmine masih terpejam.
“Hei, kamu! Buka matamu! Hei!”
Masih saja terpejam. Tidak ada ekspresi apapun yang terlihat dari raut wajah gadis itu. Kevin semakin bingung mencari cara agar Jasmine mau membuka mata.
“Apa kamu masih mengantuk? Baiklah! Tidur saja sepuasmu! Nanti, kalau kamu sudah sadarkan diri, bersiaplah menerima perlakuanku!” tandas Kevin sinis. Beranjak ke mini bar, menuangkan alkohol pada gelas kecil. Pecahan botol akibat perbuatan Jasmine masih berserakan. Kevin enggan membersihkan. Dia berniat menyuruh Jasmine yang membersihkan.
Kepala Jasmine sangat pusing. Pun tenggorokannya terasa nyeri. Dia terbatuk hingga akhirnya kedua mata itu perlahan terbuka. Kevin langsung menoleh mendengar Jasmine terbatuk-batuk.
“Dasar lemah! Baru saja aku perlakukan seperti itu, sudah jatuh pingsan!” cibir Kevin, meneguk minuman dari gelas. Jasmine tak menghiraukan cibiran Kevin. Gadis itu berusaha duduk. Lehernya sangat nyeri. Sekadar menoleh rasanya sangat sakit.
Kevin mengembuskan napas. Turun dari kursi mini bar, mendekati Jasmine yang duduk bersandar di kepala ranjang. Kevin berdiri angkuh. Sorot matanya sangat tajam, menatap gadis sembilan belas tahun.
“Kamu bisu?” tanya Kevin lagi. Namun, Jasmine tetap diam.
“Sekarang keluar dari kamarku! Jangan pernah kembali lagi ke sini!” dengan kasar, Kevin menarik lengan Jasmine. Namun, gadis itu tetap bergeming. Menahan tubuhnya agar tidak turun dari ranjang.
“Kamu ingin mati di sini?” gertak Kevin kesal, melihat Jasmine tetap duduk di tempat tidurnya.
“Om akan membunuhku?” Akhirnya Jasmine berbicara. Kini, dia membalas tatapan Kevin, sama tajamnya.
“Kalau perlu!” Kevin melepaskan cekalan tangan pada lengan Jasmine.
Perlahan, Jasmine turun dari ranjang. Sesaat, tubuhnya agak limbung. Merasa tubuhnya sangat sakit.
“Kalau Om mau membunuhku, kenapa melepaskan tangan ini dari leherku?” tanya Jasmine memegang telapak tangan Kevin. Lelaki itu menghempaskan kasar. Sorot matanya masih dipenuhi kebencian. Dia benci karena Jasmine tak mau menyerah.
“Aku hanya ingin Om nikahi. Setelah Om nikahi aku, terserah Om ... mau menyiksaku atau membuatku lebih menderita. Terserah! Om, percayalah ... Aku akan menjadi istri yang baik. Menjadi ibu yang baik untuk anak-akak kita nanti.”
Jasmine pantang menyerah. Akan terus membujuk Kevin bersedia dinikahinya. Tubuh Jasmine lurus ke atas lantai, berlutut di depan lelaki bernama lengkap Kevin Khaled.
“Aku tidak mau menikah denganmu! Istriku hanya Erika! Hanya Erika!” teriak Kevin kesal, kedua matanya melotot, serta tangannya mengepal kuat.
“Kalau begitu, Om mati saja!”
“Apa kamu bilang? Kurang ajar!”
Sebelah tangan Kevin terangkat ke udara. Jasmine tak menghindar, justru menantang. Mendongakkan kepala, matanya nyalang menatap lelaki yang napasnya memburu.
“Memangnya ucapanku salah? Om setia pada orang yang sudah tidak ada. Mencintai orang yang telah mati. Cinta Om tak kan terbalaskan jika Om masih hidup. Lebih baik sekarang Om mati. Barang kali saja Om dan Tante Erika bisa bertemu di neraka!”
Sudah tidak ada rasa takut dalam diri Jasmine. Tidak peduli reaksi Kevin setelahnya. Dipukul atau disiksa seperti apapun, Jasmine tidak akan peduli. Sekarang tak ada lagi jalan keluar bagi kebahagiaan kedua orang tuanya selain terbebas dari hutang piutang.
Jasmine berjalan ke toilet. Mengabaikan kemarahan Kevin.
Mulut anak tunggal Benjamin Khaled seketika bungkam. Apa yang dikatakan Jasmine tidak semuanya salah. Memang ada benarnya. Bagai orang tidak waras, Kevin meratapi kepergian Erika. Wanita yang hingga kini jasadnya tidak juga ditemukan. Para tim SAR meyakini jika Erika sudah meninggal dunia. Entah jasadnya hangus terbakar atau tenggelam di lautan atau mungkin dimakan Ikan Hiu.
Kevin duduk di sisi ranjang. Merenungi ucapan Pak Benjamin dan juga ucapan Jasmine. Kedua orang itu seharian ini membuatnya sangat marah. Tetapi, sisi lain, yang dikatakan Pak Benjamin dan Jasmine benar adanya. Sudah mengusik nurani Kevin. Dia berada dalam kebimbangan.
Di dalam toilet, Jasmine membasuh tubuhnya perlahan. Ia ingin membersihkan diri. Jam dinding di kamar Kevin sudah menunjukkan jam tiga sore. Perutnya sangat lapar. Sejak kedatangannya pagi tadi, hanya sarapan sepotong roti tawar di rumah. Sekujur tubuh Jasmine terasa nyeri. Sesekali meringis kesakitan saat air mengenai wajah. Jasmine memerhatikan wajahnya dari pantulan cermin di dalam toilet. Lebam dan membiru. Seketika, ia membayangkan penyiksaan yang dilakukan Kevin jika mereka sudah menikah.
‘Ah, sepertinya lelaki itu sulit ditaklukkan. Apa mungkin dia tidak ingin menikah lagi? Atau, aku menyerah saja?’ Jasmine bermonolog. Menggelengkan kepala.
‘Tidak. Aku tidak boleh putus asa. Aku tidak akan membiarkan masa tua orang tuaku hidup serba kekurangan. Aku harus kuat, harus semangat.’
Jasmine menyemangati diri sendiri. Shower ia matikan. Mengeringkan tubuhnya dengan handuk kecil yang tersampir di dalam toilet. Jasmine mengenakan pakaian sebelumnya. Rambut yang basah, ia biarkan tergerai.
“Kamu habis mandi?” tanya Kevin berdiri di dekat pintu toilet.
“Iya,” sahut Jasmine datar, berjalan ke meja rias, mengambil sisir.
Kevin mendengkus kesal, meneguk kembali vodca. Dirinya mulai mabuk.
“Mau sampai kapan kamu ada di kamarku, heuh?”
“Sampai Om mau menikah denganku!”
“Mu ra h*n!” Kevin mencebik, menegak kembali minuman beralkohol. Jasmine menoleh, menghampiri Kevin. Keadaan lelaki itu sudah mabuk berat. Kedua matanya memerah.
Jasmine mengambil botol minuman dari tangan Kevin.
“Berhentilah meminum ini. Aku menemui Om bukan ingin berbuat jahat atau membuat hidup Om hancur. Justru aku ingin mengajak Om menata masa depan. Aku hanya ingin Om nikahi. Aku gak peduli, Om lebih tua atau sudah duda. Aku hanya ingin kita membangun rumah tangga. Lalu melahirkan anak-anak. Sekarang aku tak meminta Om untuk mencintaiku. Aku tahu, dalam hati Om masih ada Erika. Dan ... Hmm ... Wanita itu tak mudah tergantikan. Betul?”
Kevin menyunggingkan senyum sinis. Hendak merebut botol minuman, namun Jasmine menjauhkannya.
“Berikan minuman itu untukku! Berikan!” Kevin berusaha menggapai botol beralkohol dari tangan Jasmine. Namun, gadis itu terus saja menyembunyikan ke belakang tubuhnya. Kevin jatuh terjerembab, jatuh ke atas lantai.
“Berikan botol itu ....”
“Tidak akan! Sebaiknya Om istirahat saja! Om sudah mabuk berat!” Jasmine meletakkan vodca ke atas meja bar. Kemudian, sangat hati-hati, Jasmine memapah tubuh Kevin menuju ranjang. Lelaki itu butuh istirahat. Benar saja, baru saja tubuhnya ambruk di tempat tidur, ia langsung tertidur pulas.
“Aku harap, setelah bangun nanti. Om bersedia menikah denganku.”