Keinginan

1258 Kata
Kevin melepaskan cekalan tangannya di leher Jasmine. Kedua mata gadis itu terpejam rapat. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Rasa takut menyergap hati Kevin. “Hei, bangun! Buka matamu! Hei, bangun!” Kevin menempelkan telinga pada d**a Jasmine. Kepanikan tergambar jelas dari sikapnya. Kevin berdiri, membopong tubuh Jasmine, merebahkan ke atas ranjang. Kevin mengacak rambut. Tidak tahu apa yang mesti dilakukan? Kevin duduk di sisi ranjang, kembali membangunkan gadis yang lehernya terdapat telapak tangan. “Hei, bangun! Bangun! Buka matamu! Astaga! Sialan!” Kevin berteriak frustasi. Meskipun dirinya sangat kasar, tetapi ia tidak bermaksud membunuh gadis itu. Kevin hanya ingin membuat Jasmine ketakutan dan pergi dari kamarnya. Tetapi sial, Jasmine justru keras kepala. Dia tetap bersikukuh menginginkan sebuah pernikahan. Kevin keluar kamar. Berteriak bagai kesetanan memanggil Benjamin. “Hei, di mana papaku?” teriak Kevin pada beberapa asisten rumah tangga yang sibuk di dapur. Kelima wanita berseragam Chef itu berbaris, merunduk. Saling melirik satu sama lain. “Kalian tuli? Di mana Papaku?” gertak Kevin mendekati salah satu wanita yang usianya jauh lebih tua dari yang lainnya. Kevin tahu, wanita itu kepala Chef di istananya. “Pak Benjamin be-belum pulang.” Terbata-bata wanita yang usianya sekitar lima puluhan tahunan menjawab. Kevin berteriak kesal. Merogoh handphone menghubungi Benjamin. “Papa di mana?” tanya Kevin tanpa berbasa-basi. “Kamu kenapa?” Benjamin tak mengerti. Dia menduga, Kevin sedang panik, terdengar dari nada suaranya. “Aku tanya! Sekarang Papa di mana?” sentak Kevin, mengusap wajahnya kasar. Benjamin memejamkan kedua mata sejenak, menarik napas panjang. Dia sudah sering kali dibentak anak tunggalnya sejak kecelakaan pesawat itu. “Dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi sampai.” Setenang mungkin, Benjamin menjawab pertanyaan anak semata wayangnya. Jika bukan karena kasih sayang, mungkin Benjamin tidak mempedulikan kehidupan dan masa depan Kevin. Selama ini, dia sudah berusaha sabar. Bahkan, Benjamin sering kali mendatangkan psikolog untuk memulihkan kejiwaan Kevin yang berubah menjadi tempramental. “Cepat pulang!” Sambungan telepon terputus. Kevin berjalan cepat ke kamar. Melihat keadaan Jasmine. Dia mondar-mandir tak karuan. Menunggu kedatangan Benjamin Khaled. Pintu kamar terbuka. Terlihat Benjamin berdiri di depan pintu. “Kenapa kau berdiri di sana? Masuk, Pa!” titah Kevin pada lelaki yang sebagian rambutnya sudah ditumbuhi uban. “Jasmine? Kenapa dia? Kamu apakan dia, Kevin?” Benjamin terkejut melihat keadaan Jasmine yang berbaring lemah di atas tempat tidur. Lelaki tua itu duduk di sisi ranjang, menempelkan dua jarinya ke depan hidung Jasmine. Kemudian, memeriksa urat nadinya. Kedua mata Benjamin membeliak melihat bekas telapak tangan di leher Jasmine. Kedua tangan Benjamin mengepal kuat. Berdiri, menghadap Kevin yang tidak dapat menyembunyikan kecemasan. “Kamu mau membunuhnya? Kamu mau jadi seorang pembunuh?” teriak pak Benjamin murka, diiringi tamparan keras yang melayang di pipi kiri Kevin. “Jangan salahkan aku! Papa yang mengirimkan dia ke sini. Papa yang menyuruhnya untuk membujukku agar bersedia menikahinya.” Kevin tak terima jika disalahkan. Benjamin menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan sikap anak semata wayangnya yang sudah keterlaluan. “Aku akan membawanya ke rumah sakit dan aku akan melakukan visum. Dan kamu ... Bersiaplah masuk penjara!” ancam Benjamin menatap tajam Kevin. “Apa? Papa tega memenjarakanku hanya karena w************n itu?” “Jaga mulutmu, Kevin! Dia bukan w************n! Cuci otakmu! Buka matamu! Lihat ... Apakah penampilan Jasmine seperti w************n? Apa dia membuka semua pakaiannya di depanmu? Jawab pertanyaan Papa, Kevin Khaled” Benjamin sudah sangat murka akan perilaku kasar anaknya. Jika wanita sebelumnya yang datang diperlakukan kasar, Benjamin tidak peduli. Tetapi, jika Jasmine yang mengalami, sumpah demi apapun, Benjamin akan memenjarakan Kevin meskipun dia adalah pewaris tunggal keluarga Benjamin Khaled. Kevin terdiam, memalingkan muka ke arah lain. Ia mengusap wajah, tak berani membalas tatapan sengit Papa kandungnya. Melihat anaknya tetap diam, Benjamin Khaled bersiap membopong tubuh Jasmine. Namun, pergerakan tangan Benjamin dicegah Kevin. “Jangan bawa dia ke rumah sakit! Aku yang akan menyembuhkannya.” Suara Kevin terdengar pelan dari sebelumnya. Benjamin berdecak, tersenyum sinis. “Kamu akan menyembuhkannya atau akan melukainya lagi?” “Pah, beri aku kesempatan untuk mengobatinya.” “Lalu?” tantang Benjamin, ingin mendengar alasan anaknya bersedia mengobati Jasmine. “Lalu apa?” Bukannya menjawab, Kevin justru balik bertanya. Dia mendorong tubuh Benjamin agar menjauh dari tubuh Jasmine. Kevin memeriksa wajah Jasmine yang penuh lebam. Dalam hati, ia mengakui jika gadis ini bukanlah gadis murahan. Sedari awal, Jasmine hanya meminta dinikahi bukan merayu dengan menunjukkan tubuhnya. Bahkan ketika Kevin hendak mengajaknya bercinta, Jasmine secara terang-terangan menolak. Dia ingin melakukannya setelah pernikahan terjadi. “Apa Jasmine mengatakan alasannya ingin kau nikahi?” tanya Benjamin yang berdiri di belakangi tubuh Kevin. Tanpa menoleh, Kevin menjawab, “Dia ingin nama baikku kembali baik. Ingin membuktikan ke seluruh dunia kalau aku bukan seorang penyuka sesama jenis. Dia ingin aku memiliki keturunan. Apa ada alasan lain selain itu yang Papa ketahui?” Benjamin menghela napas kasar. Berdiri mendekati Jasmine yang belum juga sadarkan diri. “Jangan Papa sentuh dia! Jangan bawa dia ke rumah sakit!” cegah Kevin saat Benjamin mengulurkan sebelah tangan ingin mengusap rambut Jasmine. “Kamu sungguh keterlaluan, Kevin. Memperlakukan dia sangat kejam!” Kevin tak menanggapi. Tak tahu, apakah dia menyesali perbuatannya atau justru tetap menyalahkan Benjamin? “Kevin, gadis itu usianya masih belasan tahun, tetapi dia ... Dia sudah mau mengorbankan masa depan demi kedua orang tuanya. Sedangkan kamu? sudah berusia tiga puluh lima tahun, jangankan berkorban, memikirkan keadaan Papamu ini pun tidak!” Kekecewaan Benjamin terhadap anaknya tak mampu lagi disembunyikan. Setitik air mata mengalir membasahi sebelah pipi. Namun, segera ia seka. Kevin tetap membisu, menunggu pak Benjamin melanjutkan ucapannya. Meski hati Kevin penasaran, alasan lain apa yang membuat Jasmine bersikukuh ingin dinikahi dan bersedia menerima perlakuan kasar darinya? “Kamu tahu? Jasmine rela tidak melanjutkan kuliah demi ingin kamu nikahi. Dia memupuskan cita-citanya menjadi seorang designer demi ingin menjadi istrimu. Mungkin alasan yang telah diucapkan Jasmine padamu memang benar. Tetapi, alasan utama dia melakukan semua ini karena ... Karena tidak ingin orang tuanya jatuh miskin! Tidak ingin orang tuanya menderita karena perusahaan yang didirikan Papanya bangkrut! Tidak ingin orang tuanya bersedih! Jasmine rela menanggalkan pendidikan dan masa depannya demi kebahagiaan Mama Papanya!” Benjamin mendekati Kevin, membungkukkan badan dan berkata tepat ditelinga anaknya. “Lihatlah! Jasmine tidak peduli kamu siksa! Tidak peduli kamu sakiti! Terpenting, Pak Haris dan Ibu Liana hidup berkecukupan dan bahagia. Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, Kevin. Kedatangan Jasmine ke sini, tanpa diketahui pak Haris Antonio dan istrinya. Bahkan, Jasmine tidak tahu, jika aku ... Aku Papamu ... Telah memberikan syarat pada kedua orang tuanya, agar mau membujukmu untuk menikah dengannya. Sebelumnya dia tidak tahu. Tetapi, Papa mengerti alasan Pak Haris tidak memberitahu Jasmine. Orang tua mana yang rela menyuruh anak gadisnya menikah dengan pria buruk rupa dan berperangai buruk sepertimu?” Benjamin menjeda kalimat. Menunggu reaksi Kevin. Tetapi, putranya tetap diam membisu. “Tapi, ketika Jasmine tahu syarat untuk melunasi hutang Papanya, dia langsung menyanggupi. Jasmine sudah rela berkorban banyak untuk kedua orang tuanya. Sedangkan kamu? Apa yang sudah kau korbankan untuk satu orang tuamu ini, Nak?” Setelah bertanya, Benjamin hendak keluar dari kamar. Ia tak ingin menangisi nasib di depan anaknya. “Papa!” panggilan Kevin membuat gerakan tangan pak Benjamin yang hendak membuka terhenti. “Apa yang Papa inginkan dariku? Katakanlah!” Kevin bertanya tanpa memindai pandangan dari wajah Jasmine. Benjamin mengulas senyum tipis. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan anak semata wayangnya. “Kalau Papa menjawabnya, apa kamu akan mengabulkan?” “Katakanlah!” Meski tak yakin Kevin bersedia mengabulkan satu keinginannya, tetapi Benjamin tetap menjawab, “Papa hanya ingin, kau menikahi Jasmine! Hanya itu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN