Tak Sadarkan Diri

1091 Kata
“Maksudku bukan seperti ini, Om! Nikahi aku dulu! Setelah itu, Om bisa menikmati tubuhku siang dan malam!” teriak Jasmine, berusaha terus agar terlepas dari cengkraman Kevin. Lelaki itu tak peduli. Terus berusaha mencium wajah Jasmine dengan brutal dan kasar. Dengan kesal, Jasmine menginjak kaki Kevin sangat kuat. “Lelaki tidak ber mo r*l! Sudah buruk rupamu, buruk pula tabiatmu!” maki Jasmine setelah berhasil lepas dari rengkuhan Kevin. Kevin murka, menarik kembali rambut Jasmine yang berantakan. “Berani sekali kamu menghinaku? Kamu pikir, dirimu siapa, heuh? Kamu meminta aku nikahi, tetapi kamu ... Kamu justru menghinaku! Kurang ajar!” Kali ini, tamparan Kevin lebih keras dari sebelumnya hingga sudut bibir Jasmine mengeluarkan darah. Tubuh gadis itu terhuyung, jatuh tersungkur hampir membentur dinding. Jasmine berusaha keras menahan rasa sakit. Dia berdiri, menatap nyalang lelaki yang napasnya menderu karena amarah yang menguasai diri. “Silakan Om sakiti aku. Aku hanya ingin Om nikahi!” Jasmine memegang dinding, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh lagi. “Om, apa ... Apa Om tidak ingin memiliki anak keturunan? Apa Om ingin, kalau harta Pak Benjamin yang sangat melimpah jatuh ke tangan orang lain? Apa Om tidak menyayangkan itu? Nama Om sekarang sedang dipertaruhkan. Pak Benjamin memang datang padaku agar bersedia membujuk Om untuk menikahiku. Apa Om tidak berpikir, kalau Pak Ben menahan malu karena banyak orang yang menghina dan merendahkanmu? Coba Om pikirkan perasaan Papamu! Om jangan egois!” Napas Kevin memburu. Menatap nyalang gadis yang telah lancang berbicara banyak padanya. Bahkan gadis itu, tetap bersikukuh ingin dinikahi olehnya padahal Kevin sudah berlaku kasar dan kejam. “Aku hanya kasihan pada Pak Ben yang telah banyak membantu keluargaku, Om! Ah, jika bukan karena balas budi, tak sudi aku mengemis ingin Om nikahi! Usiaku saja jauh lebih muda darimu! Rasanya tak adil!” Akhirnya kejujuran itu perlahan terungkap dari mulut Jasmine. Hanya saja, Jasmine tak ingin kalau orang tuanya memiliki hutang pada Pak Benjamin Khaled. Sesaat, Kevin terdiam. Mencerna kata demi kata yang diucapkan Jasmine. “Berapa uang yang kau dapatkan dari Papaku jika aku bersedia menikahimu?” Suara Kevin terdengar datar dan dingin. Jasmine masih tetap waspada. Khawatir kalau Kevin berusaha memperkosanya. Jasmine tidak ingin menyerahkan keperawanannya untuk lelaki yang belum berstatus suami. “Om pikir aku wanita b*yaran? Kalau aku wanita bay*ran, kalau aku wanita mur*han, dari tadi aku sudah menyerah. Sudah pergi dari sini! Lebih baik aku cari pelanggan lain yang lebih lembut dari pada melayanimu yang kasar dan tak punya hati!” Jasmine mengungkapkan siapa jati dirinya. Dia memang bukan wanita panggilan. Kedatangannya mengemis ingin dinikahi Kevin hanya demi kedua orang tuanya. Tak ingin orang yang disayangi Jasmine menderita apalagi sampai jatuh miskin. Jasmine akan berusaha keras mengabulkan permintaan pak Benjamin. Membuat anak tunggal Benjamin Khaled bersedia menikahinya. “Aku yakin, kamu ingin aku nikahi karena memiliki alasan lain! Katakan padaku, apa yang kau inginkan dariku?” “Aku hanya ingin Om nikahi! Ingin menjadi wanita yang akan melahirkan keturunan hanya dari benihmu, Om Kevin Khaled!” Sontak, Kevin menoleh cepat. Menatap lekat gadis yang berdiri cukup jauh darinya. Kalimat terakhir Jasmine mengingatkan Kevin akan ucapan Erika, istri pertamanya. Di malam itu, sebelum mereka melangsungkan perjalanan bulan madu, Erika pernah berucap, “kamu tahu, Sayang? Aku berharap ... Hanya aku wanita yang akan melahirkan anak-anak dari benihmu.” Tubuh Kevin limbung ke belakang. Kepalanya mendadak pening. Kevin menjerit histeris memanggil nama wanita yang sangat amat dicintainya. Wanita yang telah mengubah seorang Kevin yang dahulu sangat baik dan lembut, kini berubah kasar seperti monster akibat kepergiannya. Jasmine terkejut melihat ekspresi Kevin. Lelaki yang telah menyakitinya ambruk ke atas lantai. Ia menangis tersedu-sedu. Jasmine ingin mendekati, tetapi ia takut. Takut jika mahkotanya akan direnggut sebelum pernikahan terlaksana. Namun, sisi lain, Jasmine tak tega melihat Kevin berteriak, menangis dan menyakiti diri sendiri dengan memukul kepala berulang kali. “Om, hentikan! Hentikan! Jangan menyakiti diri sendiri! Kalau Om marah, pukul aku saja! Om, hentikan! Hentikan!” Kedua tangan Jasmine berhasil mencekal pergelangan tangan Kevin. Lelaki itu masih menangis tersedu-sedu. Beberapa menit, Jasmine membiarkan Kevin menangis sampai dirinya lebih tenang. Kemudian, perlahan Jasmine memeluk tubuh Kevin. Pelukan yang telah lama tidak Kevin rasakan. Mendapat pelukan Jasmine, Kevin kembali menangis. Tangisannya semakin histeris. Ia bahkan memukul punggung Jasmine. Meski sangat sakit, Jasmine tetap bertahan. Dia merasa, Kevin butuh melampiaskan kemarahannya. “Aku memukulmu, kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak lepaskan pelukanmu? Kenapa?” tanya Kevin setelah pelukan terlepas. Mereka duduk di atas lantai, saling berhadapan. Jasmine tersenyum tipis, menatap lekat kedua bola mata Kevin. Sungguh pun, wajah Kevin sangat menyeramkan tetapi entah mengapa, Jasmine tidak merasa takut. Dia justru menemukan keteduhan dari kedua bola mata Kevin. “Lebih baik aku yang Om sakiti dari pada Om sakiti diri sendiri! Om ... Om adalah pewaris tunggal kekayaan Pak Benjamin Khaled. Apakah Om tidak mengkhawatirkan keadaan Pak Ben? Apakah Om tidak merasa kasihan padanya? Tiap hari, pak Ben pergi ke kantor. Bekerja dari pagi hingga malam. Ketika pulang, dia hanya berteman sepi. Tidak ada anak atau pun istri. Om jangan egois, Om ... Jangan hanya karena istri pertamamu telah tiada, lalu melupakan yang ada.” Lagi, perkataan Jasmine membuat Kevin kembali menitikkan air mata. Jasmine benar, dia sudah lupa akan Papanya. Justru Kevin setiap hari membenci ak Benjamin karena lelaki tua itu selalu saja mengirimkan wanita-wanita agar bersedia dinikahinya. “Pak Benjamin kesepian. Dia telah menjadi korban dari musibah yang Om alami. Sudahi masa lalumu, Om. Sudahi! Aku adalah wanita yang diminta Papamu untuk Om jadikan istrimu. Om ... Aku mohon, menikahlah denganku. Mau ya, nikah sama aku?” Jasmine memberanikan menggenggam telapak tangan Kevin. Dalam beberapa detik, mereka terdiam, memandang satu sama lain. Jasmine tersenyum manis. Benaknya berkata, kali ini Kevin pasti luluh hatinya dan bersedia menikah dengannya. Lalu, tanpa Jasmine duga, tiba-tiba saja Kevin menc*kik leher gadis itu. Jasmine tersedak, kedua matanya melotot. “Kamu pikir, aku terharu dan luluh dengan perkataanmu? Kamu pikir, aku akan bersedia menikahimu hanya karena ucapanmu tadi? Bagiku, semua ucapanmu tak ubahnya gonggongan Anjing!” Jasmine memejamkan kedua mata. Tenggorokannya sangat nyeri. Kedua tangan Jasmine tak lagi memukul lengan Kevin. Ia pasrah! Jasmine rela jika pun harus mati di tangan Kevin. Terpenting baginya, dia sudah berusaha keras membujuk lelaki monster itu bersedia menikahinya. Dalam keadaan seperti ini, Jasmine berdoa semoga pak Benjamin menganggap lunas hutang-hutang kedua orang tuanya dengan dibayar oleh kematiannya. Kening Kevin mengkerut ketika merasakan tubuh Jasmine mulai melemah. Kedua mata gadis itu telah terpejam, mulutnya tak lagi menganga, terkatup rapat. “Kenapa dia tidak melawan lagi? Kenapa dia diam? Apa ... Apa gadis ini telah mati di tanganku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN