Bab 11. Pelarian di Tengah Kota

903 Kata
Tim Mr. Midnight bergerak cepat menuruni tangga darurat. Langkah kaki mereka hampir tanpa suara, hanya napas teratur yang terdengar di antara ketegangan malam. Adrian memimpin di depan, diikuti Gilang dan Raka, sementara Rena dan Rahmat menutup barisan belakang. Saat mereka mencapai lantai dua, Rahmat mengintip ke luar melalui celah kecil di dinding. “Tiga mobil, sekitar delapan orang. Mereka menyebar.” Adrian mengumpat pelan. “Mereka pasti udah pasang orang di setiap pintu keluar.” “Kalau kita keluar sekarang, kemungkinan besar baku tembak nggak bisa dihindari,” tambah Raka. Gilang mengecek magasin pistolnya. “Gue nggak masalah.” Rena menyeringai kecil. “Tapi itu bakal menarik perhatian lebih banyak orang.” Adrian berpikir cepat. “Kita harus cari cara lain.” Mata Rena berkilat nakal. “Gue ada ide.” — Sepuluh menit kemudian Seorang pria berbadan besar yang berjaga di dekat pintu belakang mengernyit saat mendengar suara alarm kebakaran berbunyi. Lampu merah berkedip-kedip di sepanjang koridor. “Ada apa ini?” Sebelum dia sempat bereaksi lebih jauh, seseorang menabraknya dari belakang. Brak! Pria itu terjatuh ke lantai, pingsan seketika. Dari balik bayangan, Rena menarik napas santai sambil merapikan bajunya. “Gue benci kekacauan, tapi kadang ini berguna.” Adrian dan yang lain segera bergerak melewati pintu yang sekarang tanpa penjagaan. Alarm kebakaran yang Rena aktifkan membuat orang-orang di gedung berlarian keluar, menciptakan kekacauan yang sempurna untuk kabur tanpa dicurigai. Mereka menyelinap keluar, membaur dengan orang-orang panik di jalanan. Rahmat sudah menyiapkan kendaraan cadangan di gang sempit tak jauh dari sana. Begitu mereka masuk, Adrian menatap Rahmat. “Bawa kita ke tempat aman.” Rahmat menginjak gas, dan mobil melaju meninggalkan lokasi. Dari kejauhan, salah satu anak buah Mr. X menyipitkan mata saat melihat sebuah mobil melaju kencang keluar dari area tersebut. Dia meraih radio komunikasinya. “Mereka kabur. Kejar.” ... Rahmat memacu mobil dengan kecepatan tinggi, menyelinap di antara lalu lintas malam Bangkok yang padat. Di belakang mereka, tiga mobil hitam melaju agresif, mengejar tanpa ragu. “Anjing! Mereka ngejar kita!” seru Gilang sambil melihat kaca spion. “Jangan sampai mereka nembak ban kita,” kata Adrian sambil meraih pistolnya. Rena yang duduk di kursi penumpang depan menoleh ke Rahmat. “Lu bisa nyetir lebih cepat dari ini?” Rahmat menyeringai. “Pegangan.” Dia membanting setir ke kanan, masuk ke jalan yang lebih sempit. Ban mobil berdecit keras, hampir menyapu dinding gedung di sisi jalan. Satu mobil hitam yang mengejar mereka gagal berbelok tepat waktu dan menghantam kios pinggir jalan. Brak! Sisa dua mobil. Raka menurunkan kaca jendela dan mengangkat pistolnya. Dia menembak ban salah satu mobil musuh. Dor! Dor! Salah satu tembakannya kena. Mobil itu oleng, lalu menghantam trotoar sebelum terbalik. “Nice shot,” puji Gilang. “Tinggal satu,” kata Adrian, matanya tajam mengawasi kaca belakang. Mobil terakhir lebih agresif. Pengemudinya sengaja menabrakkan bempernya ke belakang mobil mereka. Brak! Rahmat mengumpat. “Gue nggak bisa nahan ini lama-lama!” Rena membuka dashboard dan mengeluarkan sebuah granat asap. Dia menatap Adrian sambil mengangkat alis. “Jangan bilang lu mau—” Rena sudah membuka pin granat sebelum Adrian selesai bicara. Dengan gerakan cepat, dia melemparnya keluar jendela. Brak! Asap tebal menyelimuti jalan. Mobil musuh kehilangan pandangan dan langsung menabrak dinding beton di tikungan berikutnya. Rahmat tertawa. “Gue suka gaya lu, Ren.” Rena menyeringai. “Gue tahu.” Adrian menarik napas lega. “Sekarang kita harus cari tempat buat sembunyi.” Rahmat mengangguk dan mengarahkan mobil ke luar kota, menuju tempat aman yang sudah dia siapkan. Tapi Adrian tahu satu hal. Ini belum selesai. Mr. X tidak akan tinggal diam. ... Rahmat membawa mobil ke sebuah gudang tua di pinggiran kota Bangkok. Tempat itu terlihat kumuh, tapi cukup aman untuk sementara. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti, mereka semua turun dan masuk ke dalam. Gilang menutup pintu besi dengan hati-hati. “Gue nggak suka tempat kayak gini.” “Lebih baik dari pada kita ketangkep,” sahut Raka sambil mengecek senjatanya. Adrian berjalan ke tengah ruangan dan menatap Rahmat. “Ini tempat aman?” Rahmat mengangkat bahu. “Sementara, iya. Gue punya beberapa tempat cadangan kalau kita butuh pindah lagi.” Rena bersandar di dinding, menyilangkan tangan. “Mr. X pasti udah tahu kita ada di sini. Cepat atau lambat dia bakal ngirim orang lagi.” Adrian mengangguk. “Makanya kita harus bergerak sebelum itu terjadi.” Gilang duduk di salah satu peti kayu. “Oke, jadi sekarang apa rencana kita?” Adrian berpikir sejenak sebelum menjawab. “Kita butuh lebih banyak informasi tentang operasi Mr. X di Bangkok. Kita tahu dia terlibat dalam narkoba, senjata ilegal, dan perdagangan orang, tapi kita masih belum tahu di mana pusat operasinya.” Raka mengeluarkan ponselnya. “Gue bisa coba lacak transaksi keuangan dari beberapa sumber yang pernah kita pakai sebelumnya.” Rahmat mengangguk. “Gue bisa cari informasi dari jaringan gue di Bangkok.” Rena menatap Adrian. “Dan gue bisa cari tahu lewat cara gue sendiri.” Adrian menyipitkan mata. “Cara apa?” Rena tersenyum licik. “Gue punya beberapa koneksi di dunia bawah tanah. Kalau ada orang yang tahu di mana Mr. X bersembunyi, gue bisa cari tahu.” Adrian menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Oke, kita pisah sementara. Tapi tetap waspada. Jangan sampai ada yang tertangkap.” Rena tersenyum tipis. “Jangan khawatir, sayang. Gue nggak gampang ditangkap.” Adrian hanya menggeleng dan menarik napas dalam. Permainan ini baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN