Bab 10. Balas Dendam

1035 Kata
Mobil melaju kencang di jalanan Bangkok yang mulai ramai. Adrian duduk di kursi depan, matanya terus mengawasi kaca spion. Gilang dan Rena di belakang, masih waspada meski mereka sudah keluar dari zona bahaya. Rahmat melirik Adrian. “Kita ke mana sekarang?” Adrian berpikir cepat. “Ke tempat persembunyian. Kita harus regroup dengan Raka dan Dirga.” “Tapi kita juga harus ganti kendaraan,” tambah Rena. “Kalau anak buah Mr. X menangkap ciri-ciri mobil ini, kita bakal dikejar.” Rahmat mengangguk dan membelokkan mobil ke sebuah gang kecil. Mereka berhenti di depan sebuah garasi tua. Seorang pria lokal yang sudah menunggu segera membukakan pintu dan memberi isyarat agar mereka masuk. Begitu mobil masuk dan pintu garasi tertutup, Adrian turun lebih dulu, memastikan semuanya aman. “Sudah siap?” tanya pria itu dalam bahasa Thailand. Rahmat menyerahkan kunci mobilnya dan mengambil kunci mobil lain yang disediakan. “Kita butuh waktu sepuluh menit, lalu pergi.” Sementara itu, Rena duduk di atas kap mobil baru, menyilangkan kakinya. “Mr. X pasti tahu kita yang menyerang tempat penampungan tadi. Dia nggak akan tinggal diam.” Adrian mengangguk. “Dia akan mencari kita. Dan kalau kita nggak bergerak lebih cepat, dia yang akan menemukan kita lebih dulu.” Gilang bersandar di dinding, wajahnya serius. “Apa rencana kita sekarang?” Adrian menatap mereka satu per satu. “Kita harus menyerang sebelum dia sempat menyusun strategi. Kali ini, kita yang berburu.” Rahmat menyeringai. “Kau punya target pertama?” Adrian mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah pesan terenkripsi dari Raka. “Ada satu tempat yang bisa kita datangi lebih dulu,” ujarnya. “Markas keuangan Mr. X. Kalau kita bisa menghancurkan sumber uangnya, kita bisa melemahkan dia.” Rena tersenyum sinis. “Kalau begitu, ayo kita buat dia bangkrut.” ... Mobil melaju menuju distrik bisnis Bangkok, tempat markas keuangan Mr. X berada. Gedung itu tersembunyi di balik nama perusahaan fiktif, namun informasi dari Raka memastikan bahwa ini adalah salah satu pusat operasional utama mereka. Dari dalam mobil, Adrian menatap gedung kaca modern itu. “Tempat ini dijaga ketat. Kita nggak bisa masuk sembarangan.” Rena membuka peta digital di ponselnya. “Aku bisa masuk lewat bagian administrasi. Dengan sedikit trik, aku bisa buat server mereka lumpuh.” Gilang menyilangkan tangan. “Tapi kita butuh gangguan supaya penjaga nggak fokus ke dalam.” Rahmat menyalakan rokoknya dan menyeringai. “Serahkan itu padaku. Aku bisa buat kehebohan kecil di luar.” Adrian mengangguk. “Oke, rencana kita simpel. Rahmat buat kekacauan di luar, Rena menyusup ke dalam dan merusak sistem keuangan mereka, sementara aku dan Gilang siapkan jalan keluar.” Rena tersenyum. “Kedengarannya menyenangkan.” Mereka keluar dari mobil dan berpencar sesuai peran masing-masing. — Di luar gedung Rahmat berjalan santai ke arah parkiran, lalu tiba-tiba membunyikan alarm mobil dengan perangkat kecil di tangannya. Dalam hitungan detik, alarm berbunyi di mana-mana, menarik perhatian para penjaga. Seolah belum cukup, dia menyalakan korek api dan melemparnya ke tumpukan sampah di dekatnya, membuat api kecil yang segera membesar. “Hei! Ada kebakaran!” teriak seseorang. Para penjaga langsung berlarian menuju sumber api, memberi Rena celah untuk masuk. — Di dalam gedung Rena berjalan cepat menuju ruangan server. Dengan keahlian yang dia miliki, dia berhasil membobol sistem keamanan internal hanya dalam beberapa menit. Tangannya cekatan menekan tombol-tombol di laptopnya. “Aku masuk,” bisiknya melalui earphone. Di layar, angka-angka transaksi mulai berubah. Dia mentransfer sebagian besar uang Mr. X ke rekening luar negeri yang sudah mereka siapkan. Kemudian, dia menanam virus yang akan menghancurkan seluruh data keuangan mereka. Senyumnya melebar saat dia menekan tombol terakhir. “Uangnya kita ambil, sistemnya kita hancurkan. Mr. X bakal pusing tujuh keliling.” — Di luar gedung Adrian dan Gilang sudah bersiap di mobil. Rena keluar dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Begitu dia masuk ke dalam mobil, Rahmat juga kembali dengan langkah cepat. “Jalan sekarang!” teriaknya. Adrian menekan pedal gas, melaju kencang sebelum siapa pun menyadari apa yang terjadi. Dari kejauhan, mereka melihat gedung itu mulai mengalami kekacauan. Lampu berkedip-kedip, sistem alarm berbunyi tanpa henti, dan orang-orang panik. Gilang terkekeh. “Mr. X baru saja kehilangan uangnya.” Adrian menatap ke depan. “Tapi ini belum selesai. Dia pasti akan membalas.” Rena menyeringai. “Bagus. Aku ingin lihat sejauh mana dia bisa bertahan.” ... Malam itu, mereka kembali ke tempat persembunyian di sebuah apartemen yang disewa Rena. Semua masih dalam keadaan waspada. Mereka berhasil menghantam sistem keuangan Mr. X, tapi Adrian tahu ini belum selesai. Dia berdiri di balkon, menyalakan rokok sambil memikirkan langkah selanjutnya. Rahmat duduk di sofa, sibuk dengan laptopnya, memastikan tidak ada jejak digital yang tertinggal. Raka bersandar di dinding, melipat tangan. “Kita baru saja mencabut kuku harimau,” kata Raka pelan. “Sekarang harimau itu pasti akan menyerang balik.” Adrian mengangguk. “Gue tahu. Makanya kita harus siap.” — Sementara itu, di tempat lain Di sebuah gudang tersembunyi di pinggiran kota, seorang pria berkacamata gelap duduk di belakang meja besar. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Seorang anak buahnya melaporkan, “Kami kehilangan hampir semua dana yang tersimpan di Bangkok. Sistem kami lumpuh.” Pria itu mengetukkan jarinya di meja. “Adrian dan timnya?” “Ya, kemungkinan besar mereka dalangnya.” Pria itu menyeringai dingin. “Bawa mereka ke saya. Hidup atau mati.” — Kembali ke persembunyian Rahmat tiba-tiba mengangkat wajah dari laptopnya. “Kita punya masalah.” Adrian langsung berbalik. “Apa?” “Mereka menemukan kita.” Rena, yang sedang duduk di meja makan sambil menikmati segelas anggur, mengangkat alis. “Cepat juga.” Rahmat mengutuk pelan. “Mereka nggak main-main. Ada tiga mobil menuju ke sini.” Adrian melempar rokoknya ke asbak. “Kita keluar sekarang.” Gilang sudah mengambil senjata yang disembunyikan di bawah meja. “Jalan mana?” Raka membuka peta gedung di ponselnya. “Lewat tangga darurat belakang. Kalau kita cepat, kita bisa kabur sebelum mereka naik.” Adrian mengangguk. “Ayo.” Mereka bergerak cepat, mengambil semua perlengkapan penting, lalu menyelinap keluar dari apartemen tepat saat suara langkah kaki terdengar di lorong depan. Dari belakang, Rena menoleh dan tersenyum tipis. “Mr. X benar-benar marah.” Adrian menatapnya sekilas. “Bagus. Sekarang kita mainkan babak berikutnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN