Angin malam Bangkok berembus hangat, membawa aroma khas jalanan kota yang masih hidup meski mendekati tengah malam. Tim Mr. Midnight bersembunyi di sebuah gang sempit, tidak jauh dari lokasi gudang yang menjadi target mereka.
Adrian mengamati tempat itu dari kejauhan menggunakan teropong malam. Gudang itu tampak seperti bangunan tua biasa, tapi aktivitas di dalamnya menunjukkan hal lain. Beberapa pria bersenjata berjaga di pintu masuk, sementara beberapa truk besar parkir di halaman.
“Mereka bersiap mengirim ‘barang’,” gumamnya.
Gilang yang berdiri di sampingnya mengangkat alis. “Berarti kita datang tepat waktu.”
Rena, yang sedang berkomunikasi dengan orang dalamnya melalui earpiece, menyeringai kecil. “Korsleting akan terjadi dalam lima menit. Begitu listrik padam, mereka pasti panik.”
Raka dan Dirga sudah lebih dulu bergerak ke sisi lain gudang, mencari jalur keluar yang bisa digunakan untuk menyelamatkan para korban.
Rahmat, yang tetap di dalam mobil dengan laptopnya, memberikan laporan. “Aku melihat pola patroli mereka. Ada satu titik buta di sisi utara. Itu kesempatan kalian untuk masuk tanpa ketahuan.”
Adrian menyeringai. “Bagus. Begitu lampu padam, kita mulai.”
—
Lima menit kemudian, seperti yang direncanakan, lampu di seluruh kompleks gudang tiba-tiba mati. Pekikan dan teriakan terdengar dari dalam. Para penjaga langsung siaga, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Saat itulah Adrian dan Gilang bergerak. Mereka melesat cepat melewati pagar belakang, menyusup ke dalam gedung tanpa suara.
Di dalam, mereka menemukan puluhan orang dikurung dalam kandang besi seperti hewan. Mata mereka dipenuhi ketakutan. Beberapa anak kecil bersembunyi di sudut, menggenggam tangan ibu mereka.
Gilang menggeram pelan. “Bajingan.”
Adrian tetap fokus. Dia berkomunikasi dengan Raka dan Dirga. “Kami sudah di dalam. Bagaimana jalur keluar?”
“Tempat ini punya terowongan pembuangan di bawah,” jawab Raka. “Kita bisa lewat sana.”
Adrian mengangguk. “Bagus. Kita buka semua kandang dan bawa mereka keluar.”
Gilang mulai membobol gembok-gembok penjara itu. Para korban menatap mereka dengan bingung dan ragu.
“Tenang, kami di sini untuk menyelamatkan kalian,” kata Adrian dengan suara tegas. “Ikuti kami.”
Di luar, suara tembakan pertama terdengar.
Rena menyuarakan peringatan melalui radio. “Mereka tahu ada penyusup!”
Adrian mengeluarkan pistolnya. “Cepat! Kita harus keluar sebelum mereka memblokir jalan!”
Misi penyelamatan baru saja berubah menjadi baku tembak.
...
Suara tembakan menggema di dalam gudang. Para penjaga yang menyadari penyusupan mulai menyerbu ke arah Adrian dan Gilang.
“Cepat! Bawa mereka ke terowongan!” seru Adrian sambil melepaskan beberapa tembakan ke arah penjaga yang mendekat.
Gilang membantu beberapa korban keluar dari kandang, sementara Raka dan Dirga datang dari sisi lain gudang.
“Jalur aman!” teriak Raka. “Ayo keluar sekarang!”
Para korban mulai berlari menuju terowongan yang mereka temukan di bagian belakang gudang. Beberapa masih tampak ragu, tapi Rena muncul dari bayang-bayang dan berteriak, “Kalau kalian tetap di sini, kalian akan mati! Jalan sekarang!”
Ketegasan Rena berhasil. Orang-orang itu segera bergerak.
Sementara itu, Adrian dan Gilang menahan para penjaga yang semakin banyak. Adrian menembak salah satu pria bersenjata yang mencoba mendekat, sementara Gilang menendang musuh lain hingga terjatuh.
Rena, yang sudah menghabisi satu musuh dengan pisaunya, berbicara cepat di radio. “Rahmat, status di luar?”
“Bala bantuan mereka datang dalam waktu kurang dari lima menit! Kalian harus cepat!” suara Rahmat terdengar tegang.
Adrian menggertakkan giginya. “Sial. Raka, pastikan semua orang sudah masuk ke terowongan!”
“Kami hampir selesai!” jawab Raka.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, sebuah ledakan kecil mengguncang gudang. Salah satu musuh mereka telah melempar granat ke arah mereka.
Adrian dan Gilang melompat menghindar tepat waktu, tetapi ledakan itu membuat struktur gudang mulai runtuh.
Rena terbatuk, berusaha melihat melalui debu yang berterbangan. “Kita harus keluar sekarang!”
Para korban sudah berhasil masuk ke terowongan, tapi beberapa anggota Mr. Midnight masih tertinggal.
Adrian melihat sekeliling dan membuat keputusan cepat. “Raka, Dirga, pastikan mereka sampai di titik pertemuan! Kami akan menahan mereka di sini!”
Raka mengangguk. “Jangan mati di sini!”
Dia dan Dirga masuk ke dalam terowongan bersama para korban, meninggalkan Adrian, Gilang, dan Rena di belakang.
Musuh semakin banyak. Mereka tidak punya banyak waktu.
Adrian menatap Gilang dan Rena. “Kita buat jalan keluar sendiri.”
Rena menyeringai. “Aku suka caramu berpikir.”
Gilang memeriksa magazinnya. “Ayo kita habisi mereka.”
Dengan itu, mereka kembali bertempur, memastikan tidak ada yang bisa mengejar para korban yang telah mereka selamatkan.
...
Tembakan masih menggema di dalam gudang yang mulai runtuh. Adrian, Gilang, dan Rena bergerak cepat di antara reruntuhan, mencari celah untuk keluar.
“Kita nggak bisa terus bertahan di sini,” ujar Gilang sambil mengisi ulang senjatanya. “Kalau nggak mati kena peluru, kita bisa terkubur hidup-hidup.”
Rena menendang salah satu musuh yang masih bergerak di lantai, lalu merampas senjatanya. “Salah satu dinding gudang ini bisa kita ledakkan. Itu cara tercepat keluar.”
Adrian menyipitkan mata, memperhitungkan risiko. “Kita cuma punya satu granat tersisa.”
“Tapi kita nggak punya pilihan lain,” balas Rena.
Sebuah tembakan nyaris mengenai kepala Adrian. Dia berbalik cepat dan membalas tembakan, menjatuhkan musuh terakhir yang tersisa.
Gilang menghela napas. “Cepat, lempar granatnya sebelum bala bantuan datang!”
Adrian menarik pin granat dan melemparkannya ke dinding yang terlihat paling rapuh.
BOOM!
Dinding itu hancur, membuka jalan keluar ke gang sempit di belakang gudang.
“Kabur sekarang!” teriak Adrian.
Mereka bertiga berlari menembus asap dan debu, keluar dari gudang yang kini benar-benar ambruk. Saat mereka sampai di gang, suara sirene mulai terdengar dari kejauhan.
“Kita harus cepat pergi,” ujar Rena. “Rahmat sudah menyiapkan kendaraan di ujung jalan.”
Adrian memimpin jalan, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
Setelah beberapa menit berlari, mereka melihat Rahmat menunggu dengan mobil hitam. Dia membuka pintu dan berteriak, “Cepat masuk!”
Tanpa ragu, mereka bertiga melompat ke dalam mobil, dan Rahmat segera menancap gas.
Dari kaca belakang, Adrian melihat gudang itu kini tinggal puing, dan beberapa kendaraan milik anak buah Mr. X tiba di lokasi.
“Kita berhasil.” Gilang menyandarkan kepalanya, terengah-engah.
Rena tersenyum tipis. “Untuk sekarang.”
Adrian tetap diam, menatap jalanan di depan. Dia tahu ini belum selesai. Mr. X pasti akan membalas.
Dan mereka harus siap menghadapi itu.