Van melaju membelah jalanan Bangkok yang masih ramai meski sudah lewat tengah malam. Cahaya lampu jalan berpendar di kaca jendela, menciptakan bayangan samar di wajah mereka yang masih dipenuhi adrenalin.
Adrian duduk di samping Rena, matanya fokus ke drive yang mereka dapatkan. Tangannya terasa gatal ingin segera memeriksa isinya, tapi dia tahu mereka harus menunggu sampai tiba di tempat yang aman.
“Jadi, ke mana kita?” tanya Rena, melirik ke arah Gilang yang masih fokus mengemudi.
Gilang tidak langsung menjawab. Dia membelokkan van ke jalan yang lebih sepi sebelum menjawab, “Tempat lama yang biasa dipakai agen bayangan untuk bersembunyi. Tidak ada kamera, tidak ada jejak digital, dan yang paling penting, tidak ada orang asing yang tahu.”
“Bagaimana kau bisa yakin tempat itu belum dibobol?” Raka bertanya dari kursi depan.
“Kita akan tahu saat sampai di sana,” sahut Gilang santai.
Adrian hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa banyak bicara. Matanya sesekali melirik ke kaca belakang, memastikan tidak ada kendaraan yang mengikuti mereka. Dirga yang duduk di sebelahnya juga tampak waspada, tangannya masih menggenggam senapan otomatis.
Lima belas menit kemudian, van berbelok ke gang sempit di antara dua gedung tua. Gilang mematikan lampu utama dan melaju perlahan sebelum berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang tampak seperti toko terbengkalai.
“Ini tempatnya,” kata Gilang.
Mereka semua keluar dari van dengan sigap. Rena mengangkat alis, menatap bangunan itu dengan ekspresi ragu. “Ini terlihat seperti tempat yang bagus untuk pembunuhan diam-diam.”
Dirga terkekeh. “Justru itu yang membuatnya aman.”
Raka maju lebih dulu, mengetuk pintu besi tua dengan pola tertentu. Beberapa detik kemudian, suara kunci terbuka terdengar, dan pintu itu sedikit terbuka.
Seorang pria bertubuh kurus dengan mata tajam menyambut mereka. “Lama tidak bertemu,” katanya dengan suara datar.
Adrian mengenali pria itu—Rahmat, informan yang pernah membantu mereka sebelumnya.
“Kita butuh tempat aman,” kata Adrian langsung.
Rahmat menatap mereka satu per satu sebelum mengangguk dan membuka pintu lebih lebar. “Masuk sebelum ada yang melihat.”
Tanpa banyak bicara, mereka semua masuk ke dalam.
—
Ruangan di dalam jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Ada beberapa layar monitor tua, meja kayu dengan peta yang sudah menguning, dan rak penuh dokumen serta perlengkapan elektronik.
Adrian segera duduk di depan salah satu meja dan memasukkan drive ke dalam laptopnya.
“Baiklah, mari kita lihat apa yang sudah kita curi dari Mr. X,” gumamnya.
Layar laptop menyala, menampilkan direktori file.
Mata mereka semua terpaku pada layar saat Adrian mulai membuka satu per satu file di dalamnya.
Dan saat mereka melihat isinya, ekspresi mereka berubah serius.
Mereka baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka duga.
...
Adrian menggeser kursor, membuka salah satu file video yang ada di dalam drive. Layar laptop menampilkan rekaman berkualitas rendah, sebuah gudang besar dengan ratusan orang di dalamnya. Beberapa di antaranya tampak seperti tahanan, duduk bersandar di dinding dengan tangan terikat. Yang lain, berpakaian rapi, berjalan mengelilingi ruangan seolah sedang menilai “barang dagangan” mereka.
“Ini…” Raka mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
“Tempat penampungan korban perdagangan manusia,” sahut Dirga, matanya tak lepas dari layar.
Adrian mempercepat video. Di menit-menit berikutnya, seorang pria bertubuh besar dengan jas hitam masuk ke dalam frame. Kamera bergetar sedikit saat dia berbicara dengan seseorang yang wajahnya tidak terlihat.
“Lihat siapa itu,” gumam Rena, menunjuk layar.
Adrian memperbesar gambar. Wajah pria itu semakin jelas.
“Mr. X,” ucap Gilang.
Ruangan mendadak hening.
Mereka akhirnya mendapat bukti visual yang menghubungkan Mr. X dengan perdagangan manusia.
“Sekarang kita punya cukup bukti untuk menyerang,” kata Adrian tegas.
“Tunggu,” potong Raka. “Kita tidak bisa gegabah. Kalau kita ketahuan sebelum waktunya, mereka bisa memindahkan semua tahanan.”
“Benar,” sahut Gilang. “Kita harus tahu dulu di mana lokasi pastinya dan bagaimana sistem keamanannya sebelum bergerak.”
Adrian mengetukkan jarinya di meja. “Kita bisa mulai dari rekaman ini. Lihat bayangan di lantai—ventilasi ada di atas, yang berarti tempat ini ada di gedung dengan atap tinggi. Selain itu, lihat bagian belakang, ada tulisan dalam bahasa Thailand. Kita bisa mencari tahu lokasi dengan itu.”
Rahmat, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. “Aku punya orang yang bisa mencari tahu. Beri aku waktu beberapa jam.”
“Bagus.” Adrian mengangguk. “Sementara itu, kita siapkan rencana. Ini akan jadi operasi yang besar.”
Rena menyilangkan tangan. “Aku bisa mengalihkan perhatian penjaga, mungkin dengan sedikit ‘kecelakaan kecil’ di area sekitar.”
Gilang menatap Rena dengan ragu. “Kecelakaan seperti apa?”
Rena tersenyum kecil. “Kebakaran. Sesuatu yang cukup besar untuk menarik perhatian, tapi tidak mencurigakan.”
Adrian berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Oke, kita bagi tugas. Rena akan mengatur pengalihan. Raka dan Dirga akan mencari tahu rute keluar untuk para korban. Gilang dan aku akan menyusup ke dalam. Kita lakukan ini dengan cepat dan bersih.”
Rahmat mengangguk. “Kalau begitu, aku akan menghubungi orangku sekarang.”
Adrian mengembuskan napas panjang. “Kita hanya punya satu kesempatan. Pastikan semua berjalan sesuai rencana.”
Mata mereka semua saling bertemu.
...
Rahmat kembali dengan informasi yang mereka butuhkan dalam waktu kurang dari tiga jam. Dia meletakkan ponselnya di meja, memutar layar ke arah mereka.
“Aku dapat koordinatnya,” katanya. “Gudang itu ada di pinggiran Bangkok, dekat pelabuhan lama. Tempat itu punya koneksi langsung ke jalur penyelundupan laut. Mereka bisa menghilangkan barang—atau orang—dalam hitungan jam kalau merasa terancam.”
Adrian mempelajari peta di layar. “Berarti kita harus bergerak cepat. Begitu mereka tahu kita datang, mereka bisa mengosongkan tempat itu dalam sekejap.”
Raka menyandarkan punggung ke kursi. “Keamanan di sana seperti apa?”
Rahmat menggeser layar, menampilkan data lain. “Minimal sepuluh penjaga bersenjata. Ditambah beberapa kamera pengawas. Aku belum tahu apakah ada sistem keamanan lain yang lebih canggih.”
Dirga bersiul pelan. “Sepuluh orang bukan jumlah yang sedikit.”
“Tapi kita juga bukan orang sembarangan,” sahut Gilang dengan nada percaya diri.
Adrian memutar kepala ke arah Rena. “Bagaimana dengan pengalihan?”
Rena tersenyum miring. “Sudah kuatur. Ada pekerja di sekitar gudang yang bisa disuap untuk memicu korsleting listrik. Tidak akan terlalu mencurigakan, tapi cukup untuk membuat mereka panik.”
“Bagus,” kata Adrian. “Kita bagi tugas sesuai rencana awal. Rena mengatur pengalihan. Raka dan Dirga mencari jalur evakuasi untuk para korban. Gilang dan aku menyusup ke dalam untuk menonaktifkan sistem keamanan dan menghabisi siapa pun yang mencoba menghentikan kita.”
Semua mengangguk.
Rahmat menambahkan, “Aku akan tetap di luar, memantau komunikasi. Kalau ada yang tidak beres, aku bisa mengirim bala bantuan atau rencana cadangan.”
Adrian mengencangkan sarung tangan hitamnya. “Kalau begitu, kita mulai operasi ini besok malam. Kita pastikan Mr. X tidak punya kesempatan kabur lagi.”
Raka menatapnya tajam. “Kita juga harus pastikan semua korban selamat.”
“Tentu,” sahut Adrian. “Ini bukan sekadar misi. Ini perang.”
Mereka semua bertukar pandang. Besok malam, semuanya akan berubah.