Begitu sampai di Apartemen, Arinta merasa sangat terkejut, melihat Sintya yang terkulai lemah di atas sofa. Sepertinya, gadis itu sudah gak sanggup untuk menggerakkan badannya, walau hanya untuk masuk ke dalam kamar. Rasa bersalah menggerogoti Arinta, karena sejak pagi terus mengabaikan panggilan telepon dan juga pesan dari tunangannya itu. "Sayang, bangun sayang," ucap Arinta yang langsung duduk di pinggiran sofa. Pria itu memeriksa suhu badan Sintya, menggunakan punggung tangannya. Demam serta pucat, nampak jelas di wajah cantik Sintya. Bibirnya begitu kering, hingga terlihat pecahan-pecahan. "Hmm... Kamu udah datang, Mas?" gumam Sintya, tetapi masih dengan memejamkan mata. Rasa pening di kepalnya, membuat ia sangat berat untuk membuka kedua mata. "Iya, Sayang. Aku udah datang. Kita k

