bc

THAT'S MY REASON [ Indonesia ]

book_age18+
570
IKUTI
1.9K
BACA
contract marriage
second chance
pregnant
goodgirl
drama
sweet
bxg
like
intro-logo
Uraian

Arinta Permana, pria berusia dua puluh enam tahun yang tampan dan mempesona. Pria tampan itu menjalin hubungan dengan Sintya Alfriska Pahlevi, wanita cantik yang merupakan adik kelasnya saat duduk di bangku SMA.

Hubungan Arinta dan Sintya berjalan mulus, restu dari orangtua pun dengan mudah mereka dapatkan. Sampai pada titik, Arinta bertemu dengan mantan kekasihnya dahulu, yaitu Ranti Safika. Ranti adalah wanita cantik dan sederhana, mantan kekasih Arinta setelah menjalin hubungan selama dua tahun. Tetapi, hubungan keduanya harus berakhir, karena Arinta harus meneruskan pendidikan di Singapura.

“Arinta, aku di hamili atasan ku. Tapi, dia tidak mau bertanggung jawab. Tolong bantu aku, nikahi aku sampai aku melahirkan, agar saat bayi ku lahir, ada sosok Ayah disisinya.” Ranti Safika.

“Aku mencintai Sintya, hubungan kita sudah berakhir sejak enam tahun lalu. Jangan seperti ini, aku tidak bisa mengkhianati Sintya, wanita yang tak akan pernah aku lukai hatinya.” Arinta Permana Adiwijaya.

“Nikahi, jika kamu ingin melindungi Ranti atas aibnya. Tetapi, jangan pernah nikahi dia, hanya karena nafsu mu pada wanita itu.” Sintya Alfriska Pahlevi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Cinta dan Restu
Arinta Permana Adiwijaya, lulusan terbaik salah satu Universitas ternama di Singapura. Pria berusia dua puluh enam tahun itu, saat ini memutuskan untuk mulai membangun bisnis, yang sudah ia rencanakan sejak lama. Bukan tanpa alasan, ia kembali ke Indonesia atas permintaan sang Ayah. Arinta adalah anak tunggal, semenjak Ibunya meninggal, sang Ayah selalu merasa kesepian. Terlebih saat Arinta memutuskan untuk kuliah di luar negeri, karena rasa hormat dan sayangnya, akhirnya Arinta menuruti keinginan Danu Adiwijaya, Ayahnya. Berkat ilmu bisnis yang ia pelajari dan memiliki banyak kenalan pebisnis, segalanya menjadi mudah dan berjalan lancar. Terhitung dalam kurun waktu tiga bulan, bisnis Arinta sudah berkembang pesat. Walaupun masih belum terlalu besar, tetapi pencapaian yang di dapat pria itu sejauh ini terbilang sangat baik. Siang ini Arinta akan bertemu salah satu klien di salah satu restoran, yang ada di sebuah pusat perbelanjaan. Tak bersama sekretarisnya, karena Arinta merasa bisa mengatasinya sendiri. Pria itu memang terbilang sangat mandiri, selama ia mampu mengerjakannya, maka tak akan bergantung pada sekretaris ataupun asisten pribadinya. Pertemuan kali ini kembali berjalan lancar, Arinta kembali mendapatkan kepercayaan untuk mengerjakan projek besar dari klien tersebut. Raut bahagia terpancar jelas di wajah Arinta, pria itu sangat bersyukur atas apa yang ia dapatkan hari ini. Karena dengan mendapatkan projek tersebut, perusahaan Arinta akan semakin dikenal banyak pebisnis besar. Arinta masih duduk di tempat ia bertemu dengan kliennya tadi, pria itu sedang meningmati secangkir kopi yang ada di hadapannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang wanita cantik, berambut panjang berwarna hitam legam sedang duduk menikmati makan siang seorang diri. Bukan tanpa alasan Arinta memperhatikan wanita itu, karena Arinta merasa mengenali sosok tersebut. Tetapi, lelaki itu tak mengingat kapan ia pernah bertemu dengan orang tersebut. Untuk mengusir rasa penasarannya, Arinta memutuskan untuk menghampiri wanita tersebut. “Hai...” sapa Arinta. Wanita yang sedang menikmati minuman dingin dengan rasa lemon itu, seketika menoleh dan menengadahkan sedikit kepalanya agar bisa melihat, siapa yang baru saja menyapanya. “Kak Arinta?” sebuah pernyataan yang terlontar seperti sebuah pertanyaan, meluncur begitu saja dari bibir cantiknya. “Anda kenal saya?” pertanyaan bodoh yang Arinta lontarkan, membuat pria itu menjadi salah tingkah dan mengusap tengkuknya karena merasa bingung. Untuk apa ia bertanya seperti itu, karena faktanya ia yang baru saja menghampiri dan menyapa lebih dulu. “Loh, anda yang baru saja menyapa lebih dulu?” tanya wanita itu, benar saja dugaan Arinta, dirinya telah salah melontarkan sebuah pertanyaan. “Boleh saya duduk?” tanya Arinta, merasa ia harus meluruskan kesalahan yang baru saja dilakukannya. “Oh, silahkan.” Setelah duduk dihadapan wanita itu, Arinta mulai menjelaskan yang sebenarnya. Apa yang membuatnya ia menghampiri dan menyapa wanita itu, ternyata dugaan Arinta tak salah. Ia memang mengenal wanita itu, hanya saja, penampilan wanita itu yang memang berubah sejak terakhir kali Arinta pernah melihatnya, membuat Arinta tak mampu mengenali dengan baik. Sintya Alfriska Pahlevi, wanita cantik yang memiliki ukuran tubuh proporsional wanita Indonesia. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu adalah adik kelas Arinta saat SMA dulu, kini wanita itu bekerja di salah satu Bank Swasta terkemuka di negara ini. Wajar jika Arinta sempat tak mengenalinya, karena perubahan penampilan Sintya memang sangat drastis. Saat sekolah dulu, Sintya hanyalah gadis lugu dan pendiam berpenampilan sederhana. Tetapi saat ini, ia telah berubah menjadi wanita yang berpenampilan sangat modis, dan mampu mengikuti tren busana yang memang sedang di gemari wanita seusianya. “Jadi, setelah ini mau kemana?” tanya Arinta, karena melihat Sintya sudah bersiap akan meninggalkan tempat tersebut. “Langsung pulang aja sih, Mas kemana?” Sintya balik bertanya. Memang panggilan ‘Mas’ wanita itu sematkan, karena bagaimanapun Arinta dua tahun lebih tua darinya. Arinta pun tak keberatan dengan panggilan itu. “Balik lagi ke kantor, kamu bawa kendaraan?” “Kebetulan hari ini gak bawa, jadi aku pulang naik taksi.” “Ya udah, aku antar ya.” “Jangan, nanti merepotkan. Mas Arinta kan, masih harus kembali ke kantor. Aku biar naik taksi saja, lagi pula rumah ku gak jauh dari sini.” Sintya menolak dengan halus tawaran Arinta, karena wanita itu merasa tidak enak jika harus diantar pulang. Bukan tanpa sebab, tetapi rumahnya dan kantor Arinta berbeda arah. Jadi, ia tak mau membuat Arinta telat kembali ke kantornya, sedangkan hari sudah menjelang sore. “Aku gak merasa di repotkan, lagi pula kan aku yang menawarkan. Yuk aku antar saja, aku tidak merasa keberatan walaupun rumah mu dan kantor ku berbeda arah.” Ucap Arinta sedikit tegas, karena pria itu sudah tak ingin mendengar penolakan lagi. Akhirnya Sintya tak mampu lagi menolak, ia menerima tawaran Arinta untuk mengantarkannya ke rumah. Selama berbincang dengan Arinta, baik saat di restoran ataupun di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Sesungguhnya wanita itu merasakan kegugupan yang luar biasa, karena Arinta adalah sosok kakak kelas yang ia kagumi sejak pertama kali wanita itu melihatnya. Ketampanan dan pesona seorang Arinta Permana Adiwijaya memang tak dapat di ragukan lagi, ketua osis yang selalu menjadi incaran para gadis di sekolahnya, baik teman sekelas, adik kelas bahkan kakak kelas pun mengagumi lelaki itu. Salah satu wanita yang selalu mengagumi Arinta dalam diam adalah Sintya, gadis lugu yang tak pernah menunjukan di hadapan siapapun, jika dirinya mengagumi sosok kakak kelasnya yang tampan. Sintya tak pernah menyangka, jika dirinya bisa mengenal sosok Arinta sedekat ini. Walaupun sudah enam tahun berlalu, semenjak terakhir kali Sintya bisa melihat sosok Arinta saat kelulusan. Rasa kagum wanita itu masih utuh hingga saat ini, apalagi pesona ketampanan Arinta saat ini semakin bertambah dengan penampilannya yang lebih dewasa. *** Cinta hadir dengan cepat di hati Arinta dan Sintya, semenjak pertemuannya pertama kali keduanya semakin dekat dan saat ini telah resmi menjalin hubungan. Usianya yang bukan lagi remaja, baik Arinta ataupun Sintya sangat menginginkan hubungan yang serius. Mereka memutuskan untuk menemui orangtua masing-masing, meminta restu karena akan melangsungkan acara pertunangan, untuk membuktikan keseriusan hubungan mereka. Dikediaman orangtua Arinta, pria itu sedang duduk bersama dengan sang Ayah. Menikmati secangkir kopi di temani cemilan sebagai makanan pendamping. Pria paruh baya yang masih nampak tampan itu menikmati waktu kebersamaannya dengan sang putra, sudah lama sekali ia ta memiliki waktu untuk sekedar minum kopi bersama dengan putra sematawayangnya itu. “Ada apa, Nak? Kata kamu, ada yang mau di bicarain sama Papa,” tanya Danu Adiwijaya, Ayah Arinta yang biasa disapa Danu. “Jadi begini, Pa. Arinta sekarang lagi deket sama seorang wanita. Arinta cinta sama dia, dan kita udah menjalin kedekatan beberapa waktu terakhir,” ucap Arinta. “Lalu?” “Arinta sama dia merasa usia kita udah bukan waktunya buat pacaran seperti ABG. Jadi, walaupun belum melangkah ke jenjang pernikahan, kita mau meresmikan hubungan kita dengan pertunangan dalam waktu dekat ini,” “Kenapa wanita itu gak kamu bawa kesini? Kenalin sama Papa,” tanya Danu yang merasa heran pada putranya, ingin meminta restu tetapi hanya datang sendiri saja. Padahal dirinya belum pernah sekalipun bertemu dengan wanita yang di cintai putranya, jadi bagaimana ia bisa memberikan restu. Begitu pikir Danu saat mendengar, Arinta putranya meminta restu. “Nanti Arinta pasti bawa dia kesini, sekarang dia juga lagi bertemu Mamanya yang tinggal di Bandung. Kita sama-sama meminta restu ke orangtua masing-masing lebih dulu, Pa. Minggu depan, rencananya Arinta mau ajak Papa ketemu sama dia dan Mamanya sekalian. Hanya untuk saling berkenalan dan makan siang bersama, menurut Papa gimana?” “Boleh, ide bagus itu. Tapi, sebelum Papa ketemu Mamanya. Papa mau ketemu kekasih kamu lebih dulu ya, kalau boleh Papa tau, siapa nama gadis itu?” “Oke, Pa. Nanti Arinta ajak dia temuin Papa disini, nama dia Sintya Alfriska Pahlevi.” “Pahlevi?” beo Danu menyebutkan nama belakang Sintya. “Iya, Pa. Kenapa?” tanya Arinta kebingungan. “Apa Papanya dia sudah meninggal” tanya Danu lagi, namun membuat Arinta semakin kebingungan. “Iya, Pa. Dari sejak Sintya kelas 3 SMA,” jawab Arinta sesuai dengan apa yang ia ketahui. “Apa nama Papanya Restu Pahlevi?” “Kok Papa tau?” tanya Arinta dengan raut wajah semakin bingung. “Ya ampun, ternyata dunia ini memang sempit ya. Arinta dengerin Papa, Restu Pahlevi itu sahabat Papa dari kecil. Kakek kamu sama Kakeknya Sintya juga bersahabat lama, waktu Restu punya anak perempuan Kakek mu bilang akan jodohin kamu sama anaknya Restu. Tetapi, Papa gak pernah tau nama anaknya Restu, karena mereka sempat tinggal di luar kota. Sampai akhirnya Restu meninggal, Papa lagi sibuk ngurusin Mama kamu yang sakit. Waktu itu juga kita saling kehilangan kontak untuk komunikasi. Yang Papa dan Kakek mu tau, kalau Restu punya anak perempuan. Ya berarti, calon tunangan mu sekarang itu,” Danu menjelaskan. “Papa serius?” ujar Arinta karena sedikit tidak yakin dengan fakta yang baru saja ia dengar. “Sekarang begini deh, apa nama Mamanya Sintya itu Teresa Farhana?” “Iya betul, Pa. Berarti itu memang betul, Pa. Papa bisa tau semua nama orangtua Sintya, padahal aku belum kasih tau,” “Iya itu betul, nanti kita buktikan sama-sama saat pertemuan ya. Papa hanya berharap ini memang sebuah kenyataan. Jadi, kita bisa mewujudkan keinginan Kakek mu, menikahkan cucunya dengan cucu sahabatnya.” “Aamiin, Pa. Aku juga berharap semuanya bisa berjalan lancar.” Setelah perbincangan itu, senyum selalu terbit dari kedua sudut bibir Arinta. Mengetahui fakta menyenangkan, karena tidak akan sulit bagi dirinya dan Sintya untuk mendapatkan restu dari kedua keluarga terutama orangtua mereka. Arinta sangat merasa beruntung, semuanya sangat di permudah, baik dalam usahanya merintis bisnis ataupun, dalam hubungan percintaannya. Di tempat lain juga Sintya sudah mengungkapkan mengenai tujuannya menemui Mamanya, dan tak berjauh berbeda Sintya dengan mudah mendapatkan restu itu. Walaupun berbeda dengan Arinta yang mendapat fakta mengejutkan, Sintya tak mendapat informasi yang sama. Karena Farhana memang tak pernah mengetahui rencana perjodohan yang pernah di rencanakan Ayah mertuanya. Meskipun sang suami sudah meninggal dunia, tetapi Farhana sampai saat ini masih mengurus mertuanya yang sudah tua. Wanita itu juga tak pernah berpikir untuk menikah lagi, yang menjadi prioritasnya adalah mengurus keluarga dan melihat putri sematawayangnya bahagia. Awalnya memang Farhana sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Sintya, karena putrinya itu memang tak pernah ia ketahui menjalin hubungan dengan seorang pria. Tetapi, saat ini ia langsung mendengar jika sang putri meminta restu untuk bertunangan dengan pria pilihannya. Memberikan restu untuk putrinya itu menjadi keputusan terbaik bagi Farhana, karena menurutnya apa yang menjadi pilihan sang putri akan menjadi sumber kebahagiaan Sintya. Farhana sangat yakin, jika putrinya tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan. Sintya pasti sudah memikirkan segala sesuatunya, itulah sebabnya Farhana memberikan restu walaupun belum bertemu secara langsung dengan Arinta.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook