Pertemuan Orangtua

1449 Kata
Hari ini Arinta bersama Danu sudah tiba di Bandung, namun esok hari mereka baru akan menemui Sintya dan Farhana di kediaman Farhana yang tak begitu jauh dari hotel tempatnya menginap malam ini. Arinta memang memutuskan untuk berangkat malam hari, agar esok hari tidak terburu-buru dan memiliki waktu yang lebih leluasa. Kedua pria berbeda usia itu memutuskan untuk langsung beristirahat saat tiba di dalam kamar hotel. Walaupun sebetulnya Arinta tidak bisa dengan cepat menjemput alam tidurnya, merasakan ketegangan untuk menghadapi hari esok, walaupun hanya pertemuan santai dan makan siang bersama, tetapi ada beberapa hal yang menjadi kecemasannya. Terutama ketakutan, jika Ibu kekasihnya tak bisa menerima dirinya, padahal Sintya sudah mengatakan berulang kali jika Ibunya memberi restu, tetapi rasa cemas tetap menguasai perasaan Arinta. Keesokan harinya, pukul sepuluh pagi Arinta dan Danu sudah siap untuk berkunjung ke kediaman orangtua Sintya. Menaiki mobil pribadinya yang tadi malam juga ia gunakan dalam perjalanan dari Jakarta, pria itu mengendarainya menuju alamat yang sudah Sintya berikan. Pria itu mencoba mengatur perasaannya yang terasa campur aduk untuk menjadi lebih tenang, dan terus membacakan mantra, jika semuanya akan baik-baik saja. Jarak yang mereka tempuh memang tidak jauh, dalam waktu lima belas menit mobil yang di kendarai Arinta sudah tiba di depan rumah yang ia yakini itu rumah yang menjadi tujuannya. Karena ia menuju tempat itu mengikuti panduan sebuah aplikasi, yang akan menunjukan arah jalan. Arinta turun dari mobilnya, lalu berjalan menghampiri petugas penjaga keamanan yang sedang berdiri di depan gerbang rumah itu. Walaupun tak terlalu besar, sepertinya orangtua Sintya memberikan penjagaan yang cukup ketat di rumahnya. Terlihat di sisi gerbang tersebut, terpasang sebuah kamera CCTV. “Permisi Pak, apa betul ini rumah Ibu Farhana?” tanya Arinta ramah, pada pria berseragam putih sebagai atasannya, dan biru tua sebagai bawahannya. “Iya betul, dengan Mas Arinta?” tanya pria yang diketahui bernama Jafra tersebut, karena dengan jelas namanya terpasang di baju yang pria itu kenakan. “Iya, saya Arinta.” “Silahkan masuk, Mas. Sudah di tunggu Ibu dan Mba Sintya di dalam, saya memang di perintah menunggu kedatangan anda.” “Baik, terimakasih Pak Jafra.” Setelah itu Arinta kembali masuk ke dalam mobilnya, sedangnkan Pak Jafra membuka gerbang besar itu dengan lebar. Agar mobil yang di kendarai Arinta segera masuk ke pelataran rumah, Pak Jafra pun membungkukan badannya tanda hormat, saat Arinta melewati pintu gerbang seraya membunyikan klakson tanda balasan penghormatan Pak Jafra. *** Dua orang pria bersama dua wanita sudah berkumpul di satu ruangan, ya mereka Arinta bersama sang Papa, dan Sintya bersama Mamanya. Belum ada perbincangan antara mereka, walaupun Danu sudah sangat meyakini jika wanita paruh baya di depannya adalah orang yang pernah ia kenal di masa lalu. Karena, walaupun usianya sudah tak muda lagi, berbeda dengan saat ia mengenalnya dulu, tetapi kecantikannya tak pernah berubah. “Bagaimana perjalanannya, Om?” tanya Sintya pada Danu membuka pembicaraan, karena ia sudah pernah bertemu sebelumnya, jadi tak merasakan kecanggungan yang dirasakan Arinta, karena baru pertama kali bertemu dengan Farhana. “Alhamdulillah lancar, tadi malam gak kejebak macet,” jawab Danu. Lalu perhatian empat orang itu teralihkan saat seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun datang, membawakan empat gelas minuman dan juga beberapa piring kue yang di letakan di meja yang ada di hadapan mereka. Setelah wanita itu selesai dengan kegiatannya dan mempersilahkan untuk menikmati hidangan, ia berpamitan untuk kembali ke belakang melanjutkan pekerjaannya. “Silahkan di minum,” ujar Farhana. “Iya, terima kasih. Jadi, kamu betul Farhana? Istri dari Almarhum Restu Pahlevi,” ucap Danu karena sudah penasaran dengan kebenaran atas fakta yang ia ketahui. Baik Farhana atau Sintya merasa terkejut dengan pertanyaan yang Danu lontarkan, berbeda dengan Arinta yang sudah lebih dulu mengetahuinya. “Anda kenal saya atau mendiang suami saya?” tanya Farhana kebingungan. “Jadi, betul? Kamu benar-benar tak ingat siapa saya?” “Maaf, jika saya melupakan suatu hal, karena saya sangat asing dengan anda.” Ucap Farhana merasa tak enak. “Tak apa, memang kita dulu jarang bertemu. Saya lebih sering bertemu dengan restu, saya Danu sahabatnya Restu. Apa kamu ingat?” “Mas Danu, suaminya Mba Rika?” tanya Farhana untuk meyakinkan. “Iya betul.” Perbincangan mereka pun berlanjut, sampai tahap Danu menceritakan niat Almarhum Ayahnya yang ingin menjodohkan Arinta dengan Sintya, yang saat itu tak mereka ketahui siapa namanya. Semua berjalan hangat, bagai dua keluarga yang sudah lama tidak berjumpa dan kembali di pertemukan dengan rasa bahagia yang luar biasa. Setelah berbincang cukup lama, mereka melanjutkan pertemuan itu dengan makan siang bersama. Danu pun sudah mengutarakan tujuannya bersama Arinta datang, untuk mengikat Sintya dalam hubungan yang lebih serius. Karena, benar apa yang Arinta katakan padanya satu minggu lalu, jika usia mereka sudah bukan waktunya untuk berpacaran. Mungkin dengan bertunangan, mereka akan lebih bisa menghargai status hubungannya. Makan siang berlangsung dengan sesekali tetap ada perbincangan mereka, membahas almarhum Restu ataupun almarhumah Rika. Baik Danu ataupun Farhana merasakan kesedihan yang sama, karena tidak bisa datang saat orang yang mereka kenal baik pergi untuk selamanya, tetapi tak bisa datang untuk sekedar memberikan salam terakhir. Namun, itu semua sudah berlalu, lagi pula semuanya memiliki alasan masing-masing saat itu. Tak hanya mereka berempat di ruang makan, tetapi disana juga ada Pak Reza Pahlevi, pria tua yang masih nampak segar dan sehat. Beliau ayah dari almarhum Restu sekaligus Kakek Sintya, rona bahagia sangat terpancar di wajah pria itu, saat Danu menceritakan bagaimana Ayahnya sangat ingin jika Arinta bisa menikah dengan cucu Pak Reza. Seperti tenggelam pada masa lalunya, Pak Reza mengingat kata demi kata yang selalu ia ucapkan bersama dengan sahabatnya. Membayangkan jika kedua cucu mereka akan menikah, menjadi pasangan paling serasi bagi mereka. Dan saat ini semuanya akan terwujud, karena pada hakikatnya semua sudah menjadi takdir Tuhan. Tanpa ada rencana perjodohan lebih lanjut saat cucu-cucu mereka dewasa, tetapi Allah menakdirkan cucu mereka dekat dengan sendirinya. “Om Reza, mari sama-sama kita wujudkan mimpi Daddy dan Om Reza di masa lalu, lewat Arinta dan Sintya. Semoga semuanya berjalan dengan lancar, hubungan mereka selalu di limpahkan kebahagiaan,” ucap Danu menatap Reza yang masih tenggelam dalam bayangan masa lalu. Selesai makan siang bersama tadi, memang mereka sudah kembali berkumpul di ruangan keluarga. “Arinta, Sintya, makasih ya, Nak. Karena kalian sudah mewujudkan mimpi Kakek bersama Rio, Kakek merestui kalian, dan Kakek selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua,” ucap Reza sedikit terbata, setetes air mata mengalir dari kedua sudut mata lelaki tua itu. “Kakek, terima kasih. Sintya akan mewujudkan mimpi Kakek, apapun akan Sintya lakukan untuk kebahagiaan Kakek. Semoga Allah melancarkan segala niat baik Sintya bersama Mas Arinta, ya.” Ucap Sintya seraya menghampiri Reza, lalu memeluk hangat pria yang beberapa tahun ini menggantikan sosok Ayah dalam kehidupan Sintya. “Arinta juga berjanji, Arinta akan menjaga Sintya dengan baik. Arinta akan membahagiaan Sintya semampu Arinta, Kek.” Timpal Arinta yang ikut memeluk Reza, karena Arinta juga merindukan sosok almarhum Kakeknya, dan kini ia kembali mendapatkan sosok itu melalui Reza. “Jadi, kapan pertunangan kalian akan di laksanakan?” tanya Danu. Memang sejak tadi mereka hanya membahas perencanaan, tetapi belum menentukan waktu dan juga tempatnya. “Gimana kalau satu bulan lagi? Bertepatan dengan hari ulang tahun Ayah,” usul Farhana yang mengingat, jika dalam waktu satu bulan lagi, sang Ayah mertua akan berulang tahun. “Boleh, Tante. Ide bagus, Arinta setuju,” Arinta menanggapi. “Sintya juga setuju,” sahut Sintya. Akhirnya waktu pertunangan pun sudah di sepakati, akan di laksanakan satu bulan lagi. Acara yang akan di selenggerakan secara sederhana, mengundang keluarga dan sahabat terdekat saja. Karena Arinta dan Sintya memang tak begitu menyukai acara yang berlebihan, bagi mereka kemewahan tak penting untuk acara kali ini. Karena tujuan mereka yang utama adalah, mempererat hubungannya agar semakin terjaga dengan baik ke depannya. Setelah selesai membahas perencanaan acara yang akan di selenggarakan di kediaman keluarga Sintya, Arinta bersama Danu berpamitan pulang. Sintya pun ikut bersama kedua pria itu kembali ke Jakarta, karena esok hari ia harus kembali bekerja. Selama dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, begitu banyak hal yang menjadi pembahasan antara Sintya bersama dua pria berbeda usia tersebut. Wanita itu pun semakin dekat dan akrab berbincang dengan Danu, tak ada rasa canggung seperti sebelumnya, bahkan Sintya merasa beruntung bisa kembali mendapatkan sosok Ayah dari Danu. Walaupun selama ini ia mendapatkan limpahan kasih sayang dari Reza, tetapi rasanya akan tetap berbeda. Sintya berharap, Danu akan menjadi Ayah mertua yang baik nantinya. Ia juga akan terus berusaha untuk menjadi, calon menantu yang baik, yang tak akan pernah mengecewakan Danu dan juga Mama serta yang utana adalah Kakeknya. Perjalanan cukup lancar, sampai akhirnya Arinta sudah sampai dirumahnya. Setelah sebelumnya ia mengantarkan Sintya lebih dulu, lelah yang pria itu rasakan pada tubuhnya, membuat Arinta ingin segera beristirahat di kamarnya. Menjemput mimpi indah dengan rasa bahagia yang melimpah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN