Sintya Merajuk

1343 Kata
“Assalamualaikum...” ucap Sintya sedikit kesal, saat panggilan teleponnya baru dijawab oleh sang pujaan hati. Hari ini Arinta dan Sintya memang memiliki rencana untuk pergi bersama, namun sepertinya Arinta terlambat untuk datang menjemput, sehingga Sintya merasa kesal karena sudah terlalu lama menunggu. Sintya yang sudah siap sejak dua jam lalu, tentu saja akan marah. Segala penampilan terbaik yang sudah di siapkannya, seakan sudah tak memiliki arti apapun lagi. “Waalaikumsalam... Hai, gadis cantik... Kenapa suaranya kesal begitu?” tanya Arinta dengan nada menggoda. Pria itu sesungguhnya sudah mengetahui, jika gadis yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya, dan dalam hitungan bulan akan berganti menjadi tunangannya, pasti sedang merajuk. “Mas Ari, dimana?” ujar Sintya, tak menjawab pertanyaan yang Arinta lontarkan. “Masih di rumah, kenapa?” sahut Arinta, mampu membuat Sintya semakin kesal. Bagaimana mungkin, Arinta melupakan janjinya untuk mengajak Sintya pergi ke suatu tempat. Padahal, sejak tadi malam pria itu terus mengingatkan Sintya, untuk bersiap karena dirinya akan menjemput jam delapan pagi. Tetapi, sekarang sudah pukul sepuluh pagi, Arinta mengatakan jika dirinya masih berada di rumah. “Kok malah tanya, kenapa. Mas Ari tuh gimana sih, hari ini kan kita mau jalan. Lupa, ya?” cerocos Sintya dengan nada semakin kesal. Penampilan terbaik yang sudah gadis itu siapkan, kini berantakan karena terlalu lama menunggu. Dibalik telepon Arinta menyunggingkan senyum yang menghiasi wajah tampannya, karena sebetulnya pria itu sedang tak berada di rumah, seperti apa yang tadi di ucapkannya. Arinta sedang duduk di dalam mobil hitam miliknya, sambil memperhatikan kekasih hatinya yang begitu cantik walau sedang merajuk, dan memasang wajah masam. “Aku gak lupa kok, kamu aja yang kebanyakan marah-marah. Sampai gak sadar, kalau mobil aku sudah parkir dari tadi di depan rumah,” ucap Arinta santai, membuat Sintya terlonjak dan langsung menolehkan kepalanya. Bukan merasa senang dengan apa yang di lihatnya, Sintya justru semakin kesal karena kekasih hatinya itu sudah berbohong. Walaupun dalam hatinya begitu berbunga-bunga, tetapi kemarahan tetap menghiasi wajah cantiknya. Arinta dan Sintya memang sudah saling jujur satu sama lain, termasuk mereka yang tidak suka memiliki pasangan yang gemar berbohong. Namun, kebohongan yang Arinta lakukan pagi ini, memang bukan sebuah kebohongan besar, tetapi tetap saja membuat Sintya merasa tak suka, marah dan sangat kesal pada pria tampan yang sangat di cintainya. Arinta segera keluar dari mobilnya dan mematikan sambungan telepon, karena baginya sudah tak ada yang perlu di bicarakan lagi. Pria itu melangkahkan kakinya cepat, agar bisa segera tiba di tempat sang kekasih masih berdiri dengan tatapan penuh permusuhan. “Hai, cantik...” ucap Arinta saat sudah berdiri tepat di hadapan Sintya. “Gak usah senyum-senyum gitu, Mas. Tya gak suka, apalagi hari ini Mas Ari telat dua jam,” ketus Sintya. Arinta dan Sintya memang sudah sepakat dengan panggilan yang tak biasa orang lain gunakan, Ari dan Tya biasa di gunakan hanya oleh orang terdekat saja. Tetapi dalam hubungan mereka, keduanya akan menggunakan panggilan tersebut, karena baik Arinta ataupun Sintya merasa nyaman. “Jadi, aku juga harus cemberut ya?” goda Arinta, yang senang melihat raut wajah kesal kekasihnya. “Ish... Ya gak gitu dong, Mas Ari. Tau ah, Tya kesel banget,” ucap Sintya dan berlalu pergi, masuk ke dalam rumah. “Loh... Loh... Sayang, Tya kesayangannya Mas Ari, hei cantik... Kok aku ditinggal sih?” teriak Arinta bingung, saat melihat Sintya yang pergi tanpa kata. Pria itu kini merasa bingung, apa yang harus di lakukan. Jika ia menyusul Sintya ke dalam rumah, Arinta merasa tidak enak jika ada tetangga yang melihat. Namun, tetap berdiri disini juga membuatnya bingung, karena Arinta takut Sintya benar-benar marah padanya. Arinta memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya, lalu pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Arinta berpikir untuk menghubungi Sintya, agar bisa menanyakan apa yang sedang gadis itu lakukan di dalam rumah. Namun, belum sempat panggilannya tersambung, ia sudah mendengar suara pintu rumah tertutup. Arinta langsung menolehkan kepalanya ke asal suara, betapa bahagianya pria tampan berlesung pipi itu, karena melihat sang kekasih sudah siap untuk pergi, dengan tas yang sudah dibawanya. Ternyata yang terjadi tidak seburuk yang Arinta pikirkan, karena Sintya masuk ke dalam rumah bukan karena merajuk, melainkan gadis itu mengambil tas dan juga merapikan tatanan rambut, dan sedikit memoles kembali wajahnya dengan riasan sederhana. “Aku kira kamu marah,” ujar Arinta dan langsung berdiri dari tempat duduknya. “Ya emang lagi marah, tapi kan tetap mau pergi jalan-jalan,” sahut Sintya tanpa menatap wajah Arinta, mungkin karena gadis itu masih merasa kesal pada kekasihnya. “Hmm... Kalau masih marah, aku gak mau ajak kamu jalan-jalan,” ucap Arinta, mencoba untuk bernegosiasi dengan Sintya, agar gadis cantik di hadapannya tak terus menampilkan wajah cemberut. “Oh gitu, ya udah Tya pergi jalan-jalan aja sendiri,” timpal Sintya dan langsung melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Arinta yang masih berdiri mematung, tak menyangka jika gadis lemah lembut yang begitu di cintainya, sedikit menyeramkan saat sedang merajuk. “Tya... Sayang... Hei... Tungguin aku,” teriak Arinta mengejar langkah kaki Sintya. Arinta segera mencekal pergelangan tangan kekasihnya, agar gadis itu menghentikan langkah yang begitu terburu-buru. Sintya menatap Arinta dengan tatapan datar, membuat bulu kuduk Arinta seketika merinding, karena takut jika gadis cantiknya kini berubah menjadi sosok yang begitu menyeramkan. Pria tampan dengan kaos biru berkerah, segera memutar otaknya, memikirkan hal yang harus segera ia lakukan, agar Sintya yang begitu di cintainya tak melanjutkan aksi marahnya. “Kenapa?” tanya Sintya dengan suara datarnya, sama datar dengan raut wajah yang terpampang di hadapan Arinta. “Kamu yang kenapa? Main pergi gitu aja,” ucap Arinta, bertanya pada Sintya, karena kekasihnya begitu berbeda di bandingkan dengan hari-hari sebelumnya. “Mas Ari bayangin gak sih, betapa kesalnya aku hari ini. Nungguin kamu jemput dari jam delapan pagi, sampai jam sepuluh aku telpon, kamu bilang kalau kamu masih di rumah. Tapi, taunya kamu bohongin aku, padahal kamu tau, kalau aku gak suka di bohongin. Aku masih coba buat sabar, aku gak mau, apa yang udah kita rencanain jadi berantakan. Tapi, lagi dan lagi, yang aku dapetin malah ucapan kamu, nyakitin perasaan aku, Mas...” ujar Sintya dengan kalimat panjangnya, dan melirih di akhir karena air mata mengalir begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Arinta sungguh merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi pagi ini, ia tak menyangka jika semua candaan yang di lakukannya, mampu melukai perasaan gadis yang begitu di cintainya. Arinta memang sudah menyusun sebuah rencana, dengan datang terlambat, karena mempersiapkan sebuah kejutan sederhana untuk Sintya. Ucapan tak ingin mengajak kekasihnya jalan-jalan, itu hanya sebuah gurauan, dengan harapan gadis cantik itu tak terus marah. Tetapi dugannya menjadi sebuah kesalahan besar, kini ia justru membuat kekasihnya terluka dan kecewa, bahkan gadis itu sampai menumpahkan semuanya dalam air mata, yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. Arinta langsung membawa tubuh Sintya ke dalam pelukannya, pria itu melontarkan ucapan maaf dengan sangat tulus, berharap gadis cantik dalam pelukannya, masih mau memaafkan atas kesalahan yang sudah ia lakukan. “Maafin aku, ya. Aku gak pernah berniat, untuk bikin kamu sakit hati, kecewa, apalagi sampai menangis seperti ini,” ucap tulus Arinta yang hanya dijawab dengan anggukan kepala. “Jangan ulangi lagi,” lirih Sintya sesaat setelah melepaskan diri dari pelukan Arinta, seraya menghapus jejak air mata di pipinya. “Iya, Sayang. Aku janji, gak akan pernah buat kamu menangis lagi.” Arinta membantu menghapus basahnya air mata di wajah Sintya, lalu pria itu segera mengajak kekasihnya menuju mobil. Arinta sudah menyiapkan sesuatu, yang pastinya tak akan pernah Sintya duga sebelumnya. Pria itu mempersiapkan semua ini sejak beberapa hari lalu, namun ia sempat merusaknya dengan kejadian yang tak pernah di inginkan. Tetapi, setelah ini Arinta harap semuanya bisa berjalan lancar, dan apa yang akan ia berikan untuk Sintya, mampu menyembuhkan semua kesedihan, kekecewaan dan luka yang gadis itu rasakan pagi ini. Arinta mulai melajukan mobil miliknya, meninggalkan rumah Sintya. Menuju tempat yang selalu pria itu rahasiakan sejak tadi malam. Saat ia mengajak Sintya untuk pergi jalan-jalan, namun jika gadis itu bertanya kemana tujuan mereka pergi, Arinta tak pernah sekalipun memberitahunya. Bahkan sampai saat ini, hanya Arinta yang mengetahui, kemana tempat yang akan keduanya tuju, sebagai pengisi akhir pekan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN