Alea Yang Mandiri

1046 Kata
"Alea! di mana dia? Alea di mana? panggilkan cepat!" Seseorang berteriak begitu arogannya di depan pintu cafe yang bahkan pagi itu belum buka. Seorang pegawai cafe yang kebetulan sedang mengelap kaca terjingkat kala orang itu berteriak di depan sana. "Maaf Bu. Kakak Alea sepertinya masih di kamarnya," ujar pegawai itu yang sepertinya usianya lebih muda dari Alea. "Baiklah, di mana kamarnya?" tanya wanita paru baya itu. "Ehh, maaf Bu. Ibu bisa datang lain kali," jawab ragu pegawai cafe itu. Namun, tak berselang lama orang yang tengah dicarinya malah datang sendiri sebelum di susul. Dengan seragam sekolahnya Alea menatap dingin pada wanita itu, seakan ia tidak suka akan kedatangannya. "Turunkan pandanganmu!" bentak wanita itu, tapi tidak membuat gadis berusia 19 tahun itu gentar, ia tetap menatap sang wanita pembuat onar dengan dingin. "Ada apa Bibi datang ke sini?" tanya Alea dengan acuh, sembari membetulkan tali sepatunya. "Kenapa telpon ku tidak pernah di jawab, hah!" pekiknya lagi. "Aku tidak tahu," jawab santai Alea. "Tidak tahu katamu? apa kamu tidak pernah melihat ponsel mu, hah!" "Bicara saja pada intinya, Bi. Aku sudah telat," ucap Alea yang lagi-lagi dengan sikap acuh tak acuhnya. Alea beranjak dari kursi begitu juga wanita yang di panggilnya Bibi itu, dan tanpa diduga wanita itu dengan kasarnya mencengkram kuat lengan Alea. Raut wajah yang begitu bringas dan tatapan mata yang sangat tajam saat ini ditunjukan pada Alea yang bahkan tidak bereaksi apapun. "Dasar anak tidak tahu diri! kalau tahu akan seperti ini, sudah ku buang kau ke hutan belantara sana! kau tahu, saat kedua orang tua mu mati! akulah yang merawat mu!" cerca Risma adik dari mendiang ibu Alea. "Bibi bukan merawat ku, tapi memanfaatkan ku!" balas Alea penuh penekanan. "Ck, kau sudah berani melawan ya? sekarang siapkan duit sepuluh juta, kakak sepupumu akan masuk kuliah!" Risma menghempaskan lengan Alea yang hampir saja membuat Alea terjatuh kalau tidak ada yang menahannya saat itu. Alea mengangkat kepalanya, pemilik lengan berotot itu saat ini tengah menahan tubuhnya. Pandangan Alea terus naik sampai ia melihat jelas wajah pemilik lengan berotot itu. "Kamu?" ucap Alea pelan. "Kenapa kau kasar padanya?" tanya pria itu yang ternyata adalah Hansel. "Bukan urusan mu! dia keponakan ku!" sungut Risma memandang rendah pada Hansel. Mata Hansel turun, menatap mata Alea yang memerah. Membantunya berdiri dan membawanya bersembunyi di belakangnya. "Apa yang membuat Anda datang?" tanya Hansel dengan formal. Risma tidak langsung menjawab, ia justru turut memperhatikan penampilan Hansel yang rapih lengkap dengan setelan jasnya. Lalu, matanya kian melirik kearah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. "Siapa dia? dia terlihat seperti orang kaya," gumam Risma dalam hatinya. "Emm, aku hanya sedang menagih utangnya," ucap Risma yang pada kenyataannya, dia datang hanya ingin meminta duit pada Alea bukan menagih utang. Hansel memutar kepalanya menatap Alea seakan bertanya tentang kebenaran apa yang wanita itu katakan. Dengan yakin Alea menggelengkan kepalanya seolah memberikan jawaban atas pertanyaan Hansel. "Hutang apa? apa ada nota, atau semacam surat perjanjian? karena tidaklah mungkin jika keponakan mu berhutang yang nilainya cukup banyak tanpa adanya perjanjian, bukan?" Mendengar ucapan Hansel, Risma pun bingung, ia tidak tahu harus berkata apa. Bahkan ia tidak sama sekali malu mengaku-ngaku seperti itu. "Sebenarnya kau ini siapa?! kekasihnya, iya?" Risma mendelik tajam. Namun, Hansel pun terdiam tapi hanya sebentar karena entah kenapa ia dengan yakin menjawabnya, "Ya, aku kekasihnya!" Sungguh, Alea terkejut. Bukankah mereka sudah sepakat kalau mereka akan merahasiakan hubungan kontrak ini, tapi kenapa .... "Oh, bagus kalau begitu! bantu dia bayar hutangnya bisa 'kan?" Hansel berdecih, menatap dengan aneh pada Alea yang justru menjawab ucapan sang bibi dengan begitu lantang. "Jangankan 10 juta, sepeserpun tidak akan ku berikan!" "Kurang ajar! anak tidak tahu diuntung, anak tidak tahu diri! kamu harus tahu berterima kasih, aku yang memberikan mu makan dari kecil sampai kau bisa membangkang seperti ini! dan, cafe ini! aku juga berhak atas cafe ini!" sungut Risma dengan berapi-api. "Berhak atas cafe ini? cafe ini milik ayahku! yang diperuntukkan memang untukku!" Alea sudah tidak tahan lagi, ia bahkan membekas teriakan Risma dengan amarahnya. Alea sudah berdiri depan Hansel seakan menantang Risma yang bisa saja kapanpun menerkamnya. "Kurang ajar!" Tangan Risma melayang dan hampir saja mengenai pipi mulus Alea kalau saja Hansel tidak menahan tangan itu. "Sedikit saja dia terluka karena Anda, saya tidak akan menjamin keselamatan Anda, mengerti!" Hansel menghempaskan kasar tangan Risma ke udara. Dengan kesal, Risma pun berlalu pergi dari sana. Entah karena takut atau memang karena malu, tapi yang pasti Alea bisa bernafas lega untuk sekarang. "Cih! masih ada orang yang seperti itu!" gerutu Hansel. Alea tertunduk, ia malu sebenarnya karena Hansel harus mengetahui hubungannya dengan bibinya tidak baik. Tanpa berkata apapun, Alea berbalik dan melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah Hansel sudah menarik tas ranselnya. "Mau kemana kau?'' "Sekolah," jawab pelan Alea. "Sekolah mu dimulai jam berapa?" "Tujuh." Hansel berdecih, kemudian menunjukkan arlojinya pada Alea. "Iiss, iya aku tahu jam mu bermerek, tidak perlu pamer!" sungut Alea menepis tangan Hansel. Namun, Hansel justru memukul kepalanya. "Aku bukan pamer, aku hanya menunjukan kalau sekarang sudah pukul 07:25." Mata Alea terbelalak, ia benar-benar kesal. Karena bibinya, ia sampai tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini. "Menyebalkan!" Alea menghentakkan kakinya dan berjalan kearah kursi pelanggan yang segera di susul Hansel yang ikut duduk di sana. "Jadi dia yang merawat mu?" Hansel pun tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu. "Lebih tepatnya bukan merawat tetapi hanya ingin memanfaatkan keberadaanku dan kematian kedua orang tuaku." Hansel memicing tidak mengerti, bukankah yang namanya keluarga menang harus saling menjaga, karena memang itulah yang dia tahu, tapi tidak dengan kehidupan Alea. Hansel tidak ingin bertanya lebih lanjut karena memang dia tidak berhak untuk itu. Hansel hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan memperhatikan sekeliling seraya bertanya, "Kau mengurus cafe ini sendirian?" Alea sebenarnya cukup heran karena hari ini Hansel banyak bicara tidak seperti kemarin yang pertama kali mereka bertemu. Cuek dan ketus. "Tentu saja tidak, aku mempekerjakan teman-teman ku yang putus sekolah." "Lalu, yang kau ceritakan itu, soal cabang yang akan kau buka?" "Ya, aku memang akan membuka cabang ku bulan ini." mengulik usia Alea yang baru saja 19 tahun, ia memang cukup pintar mengelola bisnis. Hansel sedikit kagum, karena yang dia dengar tadi daru hasil perdebatan antara Alea dan Risma kalau cafe itu adalah peninggalan ayah Alea, dan ternyata Alea berhasil sampai bisa membuka cabang. "Lalu uang yang aku berikan untuk apa?" tanya Hansel semakin penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN