Pagi itu, entah kenapa Hansel tiba-tiba ingin sekali berangkat sendiri ke kantornya, dan alhasil, ia tidak menunggu lagi kedatangan Savian.
Namun, di pertengahan jalan ia teringat kalau jalan yang akan ia tempuh ke kantor melewati cafe yang Alea sebutkan itu.
Matanya memicing ketika melihat dua orang perempuan yang sedang berdebat di depan cafe yang bahkan masih tutup. Salasatu dari orang itu sangat Hansel kenal dan ia pun semakin penasaran, Hansel memutuskan untuk mengehentikan laju kendaraannya dan menurunkan kaca mobilnya karena ingin mendengar apa yang sedang mereka perdebatkan.
Beberapa saat, Hansel masih saja memperhatikan dengan santai sambil menghisap rokoknya, tapi tiba-tiba ia meradang karena melihat orang yang dia kenal tengah di sakiti.
Hansel membuang rokoknya ke sembarang, lalu turun dari mobil melangkah dengan lebar menuju dua perempuan itu yang salasatu dari mereka adalah Alea, wanita yang akan menjadi pengantin kontraknya.
Dengan sangat kebetulan, saat Alea di dorong wanita paru baya itu Hansel pun menangkap Alea hingga Alea tidak jatuh ke tanah.
Perdebatan kecil pun terjadi antara Hansel dan Risma, nama wanita paruh baya tersebut yang juga adalah Bibi dari Alea.
.
Alea tertunduk ketika mendapatkan pertanyaan dari Hansel tentang uang yang dia berikan padanya.
Sebenarnya, memang Alea sedang mengalami kesulitan dan Alea juga harus segera membayar upah para karyawan yang hampir 3 bulan belum juga Alea bayarkan, dan ternyata sangat kebetulan ada kesempatan untuk menghasilkan uang yaitu dari Hansel, dan pada akhirnya Alea pun menyetujuinya demi sejumlah uang yang di janjikan Hansel.
Bukan hanya untuk membayar upah karyawan, ternyata uang yang di berikan Hansel bisa untuk meneruskan niatnya membuka cabang yang hampir saja batal.
Maka Alea pun menceritakan semuanya pada Hansel, bukan berarti mencari perhatian, tapi memang Alea merasa ia perlu mengatakannya.
"Jadi ... dia benar-benar kerabat mu?" tanya Hansel lagi.
Alea mengangguk. Perbincangan pun selesai sampai di situ karena ponsel Hansel yang berbunyi.
"Ya!" Hansel menjawab telpon dengan sedikit membentak.
"Kau duluan aja ke kantor, aku akan menyusul, ada sedikit urusan." Hansel akan menutup panggilan tapi tiba-tiba ter-urungkan karena si penelpon seperti mengatakan sesuatu lagi.
"Emm, baiklah!" Hansel pun menutup panggilan itu.
Tanpa Hansel sadari, Alea sejak tadi terus memperhatikannya. Diam-diam gadis 19 tahun itu mengagumi ketampanan Hansel yang baru ia sadari. Namun, ketika Hansel selesai berbincang dengan si penelpon, dengan cepat Alea membuang pandangannya ke arah lain sehingga Hansel sendiri tidak menyadari kalau Alea yang terus memandanginya tadi.
"Kakek menanyakan mu,'' ucap Hansel membuat Alea menoleh ke arahnya.
"Ya?"
"Dia menunggu kita. Apa kau bisa ikut dengan ku?" tanya Hansel dan Alea sedikit berpikir. "Aku ganti baju dulu," sahut Alea kemudian.
Hansel bingung, kenapa Alea mengatakan akan berganti pakaian tapi malah masuk ke dalam cafenya.
"Apa dia tinggal di sini?" gumam Hansel.
Tak berselang lama, Alea pun kembali dengan penampilan yang berbeda. Celana jins dan baju kaus tapi masih menggunakan sneaker yang sama seperti tadi.
"Ayo!" seru Alea tanpa tahu ekspresi aneh dari Hansel.
"Kamu mau pakai ini menemui kakekku?" pertanyaan Hansel sukses membuat Alea ikut bingung, ia turut memperhatikan penampilannya yang bagi dia memang sudah bagus.
"Memangnya kenapa dengan pakaianku?" tanya Alea.
"Ya ... tidak apa-apa, tapi apa kamu tidak memiliki pakaian lainnya, seperti dress atau baju yang sedikit lebih bagus?"
"Dress? bukankah dress hanya di pakai saat pesta saja?" Hansel menepuk keningnya kesal.
Dress banyak bentuknya, bukan berarti Hansel memintanya dress yang berbentuk gaun. Tanpa berkata apapun Hansel beranjak dari duduknya dan menarik tangan Alea untuk ikut masuk kedalam mobil.
Roda mobil pun bergerak meninggalkan cafe. Hansel mengendarai mobilnya dengan tenang, matanya hanya fokus pada jalanan hingga ketika Alea memecah konsentrasinya karena pertanyaan yang sangat konyol bagi Hansel.
"Oh ya, aku mau tanya. Apa tidak ada gadis yang mau denganmu kah?"
Hansel menoleh dengan mata yang melotot. "Apa katamu?" Hansel meminta Alea meralat ucapannya.
"Euumm, apa tidak ada gadis yang mau denganmu? sampai meminta ke gadis sembarangan untuk menikah denganmu?"
Hansel tidak mengira kalau Alea sampai berpikir seperti itu. "Sudah! jangan berkata apa-apa lagi!" sentak Hansel yang membuat Alea memanyunkan bibirnya.
"Apa salah ku, aku 'kan hanya bertanya. Orang tua ini sangat berperasaan," gerutu Alea pelan.
Hansel merasa harga dirinya sedang di pertanyakan oleh seorang gadis ingusan itu. Pertanyaan yang membuat harga dirinya seperti terombang-ambing dibuatnya.
Hansel terus menggerutu sepanjang jalan, sampai roda mobil pun sengaja ia berhentikan. Tepat di depan sebuah bangunan yang bisa Alea lihat kalau bangunan itu adalah sebuah butik.
"Mau apa kita ke sini, Kakek mu di sini?" tanya Alea, tapi Hansel tidak sama sekali menyahutinnya, justru ia keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Alea.
"Keluar!" Dengan mencebikkan bibirnya, Alea pun keluar dan mengikuti ke mana langkah lebar Hansel berjalan.
Begitu mereka masuk, Alea tercengang karena beberapa orang pegawai di sana langsung menyambut kedatangan mereka, UPS! ralat, bukan mereka tetapi hanya Hansel. Karena memang Hansel saja yang mereka kenal.
"Selamat datang Tuan Muda ...." seru beberapa pegawai di sana.
"Pilihkan pakaian untuknya. Jangan berlebihan, ini hanya untuk pertemuan biasa, mengerti?" semua pun mengangguk. Lalu berlatih menatap Alea yang berdiri di belakang Hansel.
Mereka menatap dengan tersenyum, karena memang Alea sudah cantik, dan mereka tidak harus bekerja keras untuk membuat Alea terlihat cantik.
Mereka pun mulai membawa Alea mencoba beberapa pakaian dan memberikan riasan yang sangat tipis karena memang wajah Alea sudah cantik alami dengan bibir yang merah muda tanpa adanya tambahan pewarna bibir dan sebagainya, dan mereka hanya menambah lipblam juga sedikit bedak saja.
Pilihan pakaian pun jatuh kepada dress berwarna abu-abu yang sederhana namun sangat elegan terlebih lagi Alea yang memakainya.
Hansel yang menunggu Alea di ruang tunggu tidak sengaja melirik ke arah di mana Alea datang bersama dua pegawai. Entah terkesima atau memang tidak menyangka kalau lagi-lagi ia mengakui kecantikan gadis kecil itu.
"Sudah kah?"
"Sudah Tuan, semoga Anda puas dengan penampilan Nona,'' ucap sala satu dari pegawai itu.
''Ya, ya. Terserah! Lagipula tidak ada perubahan juga," ucap Hansel dengan sengaja. Dan Hansel pun berlalu pergi tanpa mengatakan apapun pada Alea yang kesal dengan tanggapan yang sangat menyebalkan itu.
Namun, Hansel tidak bisa membohongi diri memang, kalau ia merasa Alea sangatlah cantik.
Merekapun melanjutkan perjalanan menuju kantor tanpa berbicara sedikitpun.