Alea lawan Hellen

1034 Kata
Setibanya di kantor, Hansel memperlakukan Alea seakan Alea benar-benar calon istrinya. Dari mula di bukakan pintu mobil sampai meletakkan telapak tangannya di atas kepala Alea agar tidak terbentur bagian atas pintu mobil. Semua orang tercengang melihatnya, terlebih lagi melihat sikap hangat Hansel pada seorang gadis yang mereka pun bertanya-tanya siapakah gerangan. Namun biar begitu semua tetap tidak melupakan untuk memberikan penyambutan pada keduanya. "Gadis itu siapa? apa Tuan Hansel memiliki adik?" bisik salasatu karyawan di sana. "Adik? tapi aku rasa dia bukan adik tuan muda, apa mungkin kekasihnya?" timpal yang lainnya. "Mana mungkin, jelas-jelas nona itu terlihat masih sangat muda. Kalaupun iya itu berarti tuan muda termaksud pedofil." Beberapa karyawan terus membicarakan kedatangan gadis muda ke tempat kerja mereka yang di bawa oleh sang general manager si Tuan Hansel. Merasa kalau sedang menjadi bahan perbincangan, Alea hanya bisa menundukkan kepalanya sambil berjalan mengikuti langkah Hansel yang menuju sebuah lift. Namun, baru saja mereka berdua akan masuk ke dalam lift, seseorang memanggil Hansel dari belakang. Keduanya menoleh bersamaan, yang ternyata orang itu adalah Savian. Savian berlarian menyusul langkah mereka, tapi mata Savian malah gagal fokus pada Alea yang terlihat sangat cantik saat itu. "Hay Kak Savian!" sapa Alea dengan ramah pada Savian yang membalas dengan senyuman. Hansel mendengus melihatnya, rasa kesal yang tidak bisa ia jelaskan asal usulnya itu tiba-tiba datang begitu saja setiap kali melihat Alea yang terlihat lebih akrab pada Savian ketimbang dirinya. "Hay, Lea," balas Savian yang terus memandangi Alea tiada henti membuat Hansel berdehem kencang. "Chem! kalian tidak mau masuk!" sentak Hansel yang ternyata sudah berada di dalam lift. Maka dengan segera Alea dan Savian pun ikut masuk. Selama di dalam lift, Hansel bahkan seperti obat nyamuk karena mereka asik mengobrol tanpa mengajak Hansel masuk ke dalam perbincangan mereka. Namun, Hansel tidak menyela sedikit pun. Karena saat ini matanya terfokus pada paras ayu Alea yang terus tertawa karena Savian. Tidak berselang lama pintu lift pun terbuka dan mereka pun keluar bersama-sama dari sana. "Tuan, saya pamit ke bagian Devisi pemasaran. Alea sampai jumpa," seru Savian melambaikan tangannya dan berlalu pergi. Alea terus menatap ke mana Savian pergi sampai Hansel pun harus menegurnya. "Jangan terus mengabaikan ku, Alea." Suara Hansel membuat Alea tertegun, karena memang Hansel berbicara sedikit berbisik langsung pada bagian belakang telinganya. Hansel berlalu pergi dan Alea yang tidak mau nyasar pun ikut membuntut dari belakang. Tibalah mereka didepan pintu ruangan yang di sana tertuliskan general manager room. Begitu mereka masuk ternyata di dalam sana sudah ada Ravindra yang duduk sendirian dengan segelas kopinya. "Cucu menantu ku, kemarilah Nak' Kakek merindukanmu," ucap Ravindra pada Alea yang langsung menuju ke arah pria lanjut usia itu. Hansel berjalan belakangan, melihat kasih sayang Ravindra pada Alea membuat Hansel sedikit merasa bersalah, pasalnya ia telah membohongi kakeknya sendiri hanya karena demi sebuah warisan. "Han, pesankan makanan dan minuman untuk cucu menantuku!" perintah Ravindra pada Hansel yang bahkan baru saja akan menempelkan bokongnya di sofa. Hansel kembali berdiri, mau protes pun iya tidak bisa karena itu adalah sebuah perintah mutlak dari kakeknya. Maka, Hansel pun segera menghubungi sekretarisnya untuk menyiapkan apa yang Ravindra minta. "Kakek maaf, nanti aku tidak bisa lama-lama ya. Karena ada pekerjaan yang harus aku urus. Kakek tidak akan marah 'kan?" ujar Alea membuat Ravindra tersenyum bangga. Karena kebanyakan seusia Alea bukan sibuk dengan pekerjaan, justru sibuk dengan teman-temannya dan bermain sampai lupa waktu, tetapi berbeda dengan Alea yang bahkan sudah memiliki cabang dari cafenya. "Tentu saja tidak, Kakek ke sini juga hanya ingin menanyakan kelanjutan hubungan kalian." Ravindra menatap Alea dan Hansel secara bergantian, lalu berkata lagi, "Han, Lea ... Kakek sudah sangat tua, bahkan Kakek sendiri tidak tahu usia Kakek masih lama atau tidak. Kakek mohon pada kalian, segeralah menikah selagi Kakek masih ada." Hansel dan Alea saling menatap, ada gurat kesedihan pada Hansel tapi pria sombong itu tidak mau terlalu memperlihatkannya. Alea beralih menatap Ravindra yang matanya bahkan sudah berkaca-kaca, seakan memohon dengan sangat. Alea tersentuh mendengarnya, badan yang mulai bungkuk itu sedang melakukan permintaan pada mereka berdua yang bahkan dengan teganya malah membohonginya. Alea menundukkan kepalanya, rasa bersalah menghantui hatinya. "Jangan bicara seperti itu, Kek. Kakek bukan dewa ataupun malaikat yang bisa menafsirkan kapan kakek meninggal, bisa saja aku duluan yang berpulang," ujar Hansel dengan bijak, tapi itu membuatnya mendapatkan lemparan bantal dari sang Kakek. "Jangan sembarangan bicara, kamu masih muda!" omel sang Kakek. Alea memperhatikan keduanya. Alea tidak tahu bagaimana keadaan hubungan keluarga mereka, tapi yang dia tahu kalau Hansel dan Hellen memang bukanlah saudara kandung, juga, mereka tidak akrab seperti kakak beradik kebanyakan. Pintu terbuka tanpa diketuk, yang ternyata Hellen lah yang datang ke sana. Alea yang akan berdiri dari duduknya langsung ditahan oleh Hansel agar tetap duduk. "Tidak perlu sungkan padanya," bisik Hansel pada Alea. Hellen menatap Hansel dan Alea yang hanya duduk di sofa tanpa menyapanya. Kesal, tapi Hellen tidak bisa melupakannya karena di sana ada Kakeknya. "Hellen, duduklah 'Nak!" "Sedang membicarakan apa? sepertinya seru sekali, sampai tidak melihat aku datang," ucap Hellen yang sengaja menyinggung Hansel dan Alea. "Ini lho, Kakek sedang meminta mereka agar cepat-cepat menikah, Kakek juga kan ingin memamerkan menantu perempuan di depan teman-teman Kakek." Hellen menghela nafasnya pelan, masih dengan bibir yang tersenyum simpul ia pun mengatakan, "Kakek jangan seperti itu, mereka juga masih tahap pengenalan. Kalian belum kenal lama 'kan?" Hellen bertanya dengan menyeringai. "Emm, Anda benar Nona. Kami memang baru mengenal 4 bulan ini, tapi aku dan Hansel sudah membicarakan soal ini bersama-sama, benar begitu 'kan Mas?" Hansel tertegun, kepalanya sontak menoleh ke arah Alea yang bukan hanya berhasil mengarang tentang masa perkenalannya, Alea juga sukses membuat Hansel terkesip karena panggilannya itu. "Iy–iya, Alea benar," jawab Hansel yang tergagap. Hellen memicing tidak suka. Ia tidak menyangka kalau ternyata Alea yang di anggapnya bocah ingusan bisa membalas ucapannya. Bahkan ia terlihat seperti kalah telak dari Alea. Disaat mereka tengah mengobrol sambil memakan cemilan, suara dering ponsel membuat semua terdiam. Ya deringan itu berasal dari ponsel milik Alea. "Kek, aku izin angkat telepon dulu," ucap Alea dan Ravindra mengizinkannya. "Ya, Dini? ada apa?" "Hah? kok bisa?!" raut wajah terkejut, cemas dan syok menjadi satu pada wajah Alea. Hansel yang penasaran pun menghampirinya lalu bertanya, "Ada apa?" Tapi Alea tidak menjawabnya, ia hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN