Cafe Yang Kebakaran

1009 Kata
Diamnya Alea membuat Hansel khawatir, begitu juga dengan Ravindra yang ikut cemas. Namun, tidak dengan Hellen yang memandangnya acuh. "Ada apa, Lea?" tanya Hansel lagi seraya mengguncang sedikit lengan Alea. "Cafe ku kebakaran," lirih Alea dengan berbarengan luruhnya air mata. Hansel mengernyit, merasa ada yang aneh. Namun, dia sendiri tidak bisa berkata apa-apa ia hanya bisa mengusap lengan Alea tetapi justru Alea malah menyandarkan kepalanya di d**a Hansel. Hansel tentu terkejut, tapi dia juga tidak bisa bereaksi berlebihan, karena ingat di sana ada Kakeknya. Maka, Hansel pun hanya bisa menimpalinya. "Tidak perlu bersedih, musibah tidak ada yang tahu 'kan?" Alea yang tengah terisak sontak menjauh dari Hansel karena mendengar ucapannya, dengan mata yang merah ia menatap Hansel kesal, dan beberapa saat kemudian sebuah botol air mineral melayang ke kepala Hansel. "Aww! sakit!" pekik Hansel yang langsung berbalik dan bersiap akan mengomel, tapi ia urungkan karena ternyata itu ulah dari sang kakek yang sudah berdiri di belakangnya. "Jangan bersedih sayang, sebaiknya kita pergi ke lokasi, hmm?" Alea mengangguk dan mereka pun berlalu pergi, terkecuali Hellen yang tidak ikut serta dengan alasan masih banyak pekerjaan. Perjalanan menuju ke sana membuat Alea khawatir, pasalnya bukan hanya cafenya yang hilang tetapi kenangan pun sirna, cafe yang di bangun oleh sang ayah dan menyisakan banyak kenangan akan hilang begitu saja. Juga, disana adalah tempat tinggalnya setelah ia memutuskan untuk pergi dari rumah Risma, sang bibi. Dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Di mana, di sana sudah banyak orang dan ada juga tiga mobil damkar yang sedang mencoba memadamkan api. Alea yang keluar dari mobil tidak bisa lagi berdiri tegak di atas kakinya, ia luruh ke tanah, menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis di sana. "Kak Lea?" panggil seseorang yang ternyata karyawan cafenya. Alea mengangkat kepalanya dengan linangan air mata ya g segera ia hapus. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Alea pada karyawannya. "Maafin Dina Kak, Dina juga tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba ada api, api itu tiba-tiba menyambar, lalu ...." Gadis muda bernama Dina itu tidak bisa lagi berkata apa-apa, rasa bersalah pada Alea yang sudah memungutnya dari lembah duka dan memberikan kehidupan yang lebih layak justru ia membuat musibah yang dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. "Tidak apa-apa, Dina. Yang penting kamu tidak apa-apa," jawab Alea. Ya dia hanya bisa berkata seperti itu, walaupun dia sendiri tengah berduka. Hansel yang merasa kasihan segera melangkah dan menenangkan Alea. Mungkin bagi orang berdompet tebal sepertinya kena musibah seperti itu akan mudah teratasi, tapi tidak dengan Alea yang memang hanya memiliki cafe itu sebagai tunjangan hidupnya. Ravindra menatap iba pada calon istri cucunya itu. Matanya beralih memandang api yang masih berkobar di sana. Kaki rentannya melangkah ke arah dua orang polisi yang baru saja tiba entah sengaja di panggil atau memang tidak sengaja lewat. "Selamat pagi," sapa Ravindra. "Oh, selamat pagi Tuan Ravindra. Anda juga di sini?" balas salasatu polisi itu. Mereka berjabat tangan, dan ternyata polisi itu memang mengenal Ravindra bahkan seperti menghormati kehadirannya. "Bisa bicara sebentar," ucap Ravindra dan salasatu polisi itupun mengangguk lalu ikut kemana Ravindra mengajaknya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi terlihat polisi tersebut terus menganggukkan kepalanya setiap Ravindra bicara. "Terima kasih, kalau begitu." Mereka kembali berjabat tangan dan Ravindra kembali kepada Alea dan Hansel yang masih berada di tempatnya. Selagi mereka masih memperhatikan kerja para damkar yang sangat cekatan itu, seorang pemadam kebakaran yang membantu memadamkan api menghampiri mereka dengan beberapa kotak di tangannya. "Anda pemilik cafe ini?" tanyanya pada Alea yang langsung di jawab dengan anggukan. "Maaf, hanya ini yang bisa kami selamatkan." Ketua tim damkar itu memberikan kotak-kotak yang dibawanya pada Alea yang langsung diterima. "Terima kasih ..." lirih Alea. Di dalam kotak itu hanya ada beberapa pakaian dan benda lainnya yang mungkin tidak terjamah oleh si jago merah. "Apa penyebab dari kebakaran ini?" tanya Hansel pada ketua tim damkar. "Sejauh ini kami masih menyelidikinya, Pak. Dengan di bantu beberapa pihak berwajib semoga bisa segera di ketahui penyebabnya." Hansel mengangguk dan ketua tim tersebut pun berpamitan untuk membantu yang lainnya lagi. "Dina, kita kan sudah memiliki ruko yang niatnya akan kita buka cabang di sana. Kamu dan lainnnya bisa tinggal disana kok," ucap Alea yang masih saja memikirkan orang lain ketimbang dirinya. "Lalu Kakak bagaimana?" tanya balik Dina pada Alea. Namun, baru saja Alea akan menjawabnya justru Hansel menyela begitu saja. "Dia akan tinggal dengan ku." Alea tercengang, tapi Ravindra juga menimpalinya, "Benar, kamu bisa tinggal di rumah calon suamimu. Dan oh ya, untuk memulai ini semua pasti kamu perlu modal juga 'kan? Kakek akan menanamkan modal untuk mu," ujar Ravindra yang semakin membuat Alea merasa bersalah karena telah membohongi kakek baik itu. . Di rumah Hansel, Alea mengurung diri di kamar yang sepertinya memang benar-benar di peruntukkan nya. Ia terus memikirkan kebohongannya pada pria tua yang bahkan sangat baik padanya, ingin membatalkan kontrak pun tidak bisa, karena memang duitnya sudah dia berikan ke karyawan cafe juga untuk lainnya. Alea mulai menyesali perbuatannya. Sedang ia termenung, Hansel pun masuk ke kamar setelah mengetuk pintu. "Kakek menunggu di meja makan," ucap Hansel membuat Alea tersadar dari lamunannya. "Emm, kau duluan saja." Hansel mengangguk dan akan berlalu tapi ia kembali menoleh ketika mendengar Alea yang menghela napas. "Ada apa?" tanya Hansel. "Tuan, apa bisa aku mengembalikan uang yang kau berikan padaku dengan cara menyicilnya?" Hansel mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti apa yang di maksud oleh Alea, tapi ia sangat ingin tahu apa yang di maksudnya. Hansel pun duduk di samping Alea menatapnya dengan mata yang tajam. "Apa maksudmu?" Lagi-lagi Alea menghela napasnya. Dia sendiri pun sebenarnya tidak tahu kapan bisa melunasinya kalau Hansel menyetujui pembatalan itu, tapi dia benar-benar merasa bersalah kalau masih meneruskan sandiwara ini. "Kakek sangat baik padaku," lirih Alea. "Emm, jadi?" "Bukankah kita sangat jahat kalau terus membohonginya." Hansel memicing, sepertinya ia mulai mengerti apa yang di maksud oleh Alea. "Maksudmu, kau mau membatalkan kontrak kita begitu?" tebak Hansel dengan sangat tepat. Alea tidak menjawabnya, dan menurut Hansel, tebakannya memang benar. "Aku ada pekerjaan, ku tinggal dulu." Hansel beranjak pergi meninggalkan Alea. "Tuan?" panggil Alea tapi tetap di abaikan. "Om?" masih di abaikan. "Hansel!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN