Kaki Alea Terkilir

1070 Kata
"Hansel!!" Panggilan Alea kali ini membuat pria 30 tahun itu menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Matanya menatap datar pada Alea yang justru memandangnya tajam. Pundak Alea terlihat naik turun, rasanya lelah seharian ini, lelah meratap, lelah berpikir lelah dan lelah memanggil Hansel yang tak kunjung menjawabnya. Hansel melangkah perlahan ke arahnya. Jantung keduanya sama-sama berdegup begitu keras, tapi keduanya juga hanya mengabaikannya. "Kenapa?" suara bariton Hansel membuat Alea bergidik. "Maaf Om, kalau aku lancang," ucap Alea penuh penyesalan. "Cih, kembali 'Om' lagi," gumam Hansel gemas pada calon istrinya itu. "Apa? Om bilang apa?" tanya Alea yang seperti mendengar Hansel bicara tapi tidak jelas di pendengarannya. Hansel menggelengkan kepalanya, mata mereka saling beradu pandang, entah kenapa mereka juga terhanyut dalam sekejap. Apa itu sebuah rasa suka atau ketertarikan antara mereka? tapi sungguh, Hansel maupun Alea tidak mengerti dengan perasaan masing-masing saat ini. "Kenapa kamu mau membatalkannya?" Hansel pun bertanya lagi, membuat Alea segera mengalihkan matanya dari mata hazel Hansel. "Entahlah, tapi aku merasa ... kakek sangat baik padaku, dan aku merasa jahat pada beliau karena telah membohonginya," jawaban Alea membuat Hansel berdecih. "Anggap saja kebaikannya sebuah hadiah karena sudah menikah denganku. Lagipula kakek tua itu memang selalu seperti itu pada siapapun, kau tidak perlu merasa sungkan dan merasa istimewa." Alea terdiam seribu bahasa karena ucapan pria ketus itu, tapi memang ada benarnya. Kenapa juga dia merasa peduli, lagipula dia hanya sementara berada di lingkungan orang kaya itu. "Kalau begitu, cepatlah turun, kakek sudah menunggu kita," ucap Hansel lagi dan Alea pun mengangguk. Hansel berjalan lebih dulu, dan Alea membuntut dari belakang. Tidak ada pembicaraan selama mereka melangkah karena Alea sibuk dengan pikirannya, banyak yang tengah ia pikirkan dan salah satunya adalah kakak Ravindra dan nasib cafenya. Berjalan menuruni anak tangga, tapi karena pikiran Alea kemana-mana membuatnya tidak memperhatikan jalan dan alhasil ia pun salah memijak. Kaki Alea berpijak tidak di tempat seharusnya melainkan di pinggir anak tangga dan kakinya pun terpeleset. "Astaga, Lea!" Dengan sigap Hansel menangkap tangan Alea yang kalau saja ia telat sedetik saja mungkin Alea sudah tergelincir dari sana. "Kamu tidak apa-apa?" tanya khawatir Hansel. "Emmm, tidak apa-apa." Hansel membantu Alea bangun, tapi sepertinya kaki Alea terkilir membuat ia susah untuk berdiri. "Kaki ku sakit!" ringis Alea dan Hansel pun tau kalau kaki Alea terkilir. "Kau tidak bisa berjalan?" tanya Hansel lagi dan Alea hanya diam dengan terus mencoba berdiri tapi memang pergelangan kakinya terlalu sakit untuk di ajak berdiri. "Sepertinya kamu terkilir. Huffft! ya sudah cepat naik!" Mata Alea terbelalak ketika melihat apa yang Hansel lakukan. Ya, Hansel membungkuk didepannya dan memintanya untuk naik ke punggungnya yang lebar itu. Alea terdiam, membuat Hansel kembali menoleh ke belakang. "Cepat naik!" "Apa Anda yakin, Om?" "Ck, cepat!" Akhirnya Alea pun naik ke punggung Hansel yang langsung menggendongnya seperti tanpa beban. Dengan tubuh Alea yang mungil, dan tubuh Hansel yang tinggi tegap tentu tidak sama sekali membuat Hansel kesulitan menggendong Alea. "Maaf selalu menyusahkan mu," ucap Alea pelan. "Ternyata kau sadar diri juga," cetus Hansel seperti biasa yang cara bicaranya memang menyebalkan. "Emm, kalau gitu turunkan aku." Alea berusaha turun dari punggung Hansel, tapi lengan kekar pria itu menahannya dengan erat. "Diam! atau ku lempar!" dan alhasil ancaman Hansel yang tidak terlalu serius itu, berhasil membuat Alea tidak lagi bergerak. Hansel terus menggendong Alea sampai ke meja makan, yang di sana Ravindra melihatnya dengan wajah yang tersenyum senang. Sungguh, dia sangat ingin menggendong cicit dari cucu-cucunya, tapi Hellen yang sudah menikah beberapa tahun belum juga memberikan kabar baik itu, dan sekarang ia melihat kemesraan Hansel dan Alea yang semakin berharap pada mereka agar segera menikah dan memberikan cicit untuknya sebelum ia tutup usia. "Pelan-pelan," ucap Hansel saat menuruni Alea dari gendongannya yang Ravindra baru sadari kalau ada yang tidak beres dengan calon cucu menantunya itu. "Ada apa 'Nak?" tanya Ravindra khawatir. "Kakinya terkilir karena hampir terjatuh dari tangga," jawab Hansel. "Kok bisa? hubungan Randi, Han! harus di periksa, jangan di biarkan!" cemas Ravindra. Randi adalah dokter kepercayaan keluarga Marquez, yang juga sudah di anggap Ravindra seperti cucunya juga. Dokter muda yang sudah menjadi kepala rumah sakit karena ber dedikasi tinggi. "Emmm," sahut Hansel yang langsung mengambil ponselnya dari saku lalu menghubungi Randi. "Ehhh, tidak perlu Kek, di baluri balsam juga sembuh kok!" seru Alea membuat Ravindra terkekeh. "Kamu pikir balsam itu krim ajaib, kaki kamu itu terkilir bukan pegal-pegal," balas Ravindra yang terkekeh. "Ya sudah kamu makan dulu, nanti dokter akan memeriksa mu." Dengan sangat perhatian, Ravindra menyendokkan makanan ke piring Alea yang terus di cegah tapi Ravindra bersikeras untuk melayaninya. Beberapa saat kemudian, Hansel pun kembali dan langsung duduk di samping Alea. Hansel berniat akan menyendokkan makanan untuk Alea tapi ternyata di piring gadis itu sudah penuh dengan berbagai macam makanan dan dia tahu kalau itu perbuatan sang Kakek. "Kau kalah cepat," ucap pelan Ravindra yang sengaja meledek Hansel tapi cucunya itu terlihat sangatlah acuh dengan ledekannya. Mereka makan dengan hening, lima belas menit pun berlalu mereka sudah berada di ruang tengah, kebetulan dokter yang di panggil Hansel pun datang. Dokter muda itu memberikan salam pada Ravindra yang di anggapnya sudah seperti Kakeknya sendiri, karena memang dulu mendiang kakeknya berteman baik dengan Ravindra. "Apa kabar, Kek," Randi memeluk Ravindra yang di balasnya dengan hangat. "Tentu saja baik, kamu bagaimana?" "Seperti yang Kakek lihat." Melihat keakraban Randi dan Ravindra, membuat Hansel jengah. Namun, biar begitu mereka sangatlah akrab, karena sedari kecil mereka adalah teman. "Han, siapa yang sakit?" tanya Randi setelah melepaskan pelukan Ravindra. "Kau belum mengenalnya, sebentar dia sedang ke kamar kecil." Bukan Hansel yang menjawabnya melainkan Ravindra. Hansel yang hanya duduk dengan kakinya yang menyilang, tidak menjawabnya karena dia tahu kakeknya lah yang akan menjawab pertanyaan dokter itu. Alea yang datang dengan seorang pembantu mengalihkan perhatian Ravindra dan Randi. Randi terkesip melihat gadis cantik yang berjalan tertatih dengan di bantu seorang pembantu itu, sungguh ia sangat menggangu kecantikan Alea saat itu. "Dia siapa, Kek?" tanya Randi dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun. "Cantik 'kan?" tanya Ravindra dan Randi justru mengangguk dengan cepat. Hansel yang melihat itu memutar matanya dengan malas. "Iya dia cantik, Kek," jawab Randi kemudian. "Kalau kau mau Kakek bisa menikahkan dia padamu." Ucapkan Ravindra membuat Hansel langsung menolehkan kepalanya, yang semula acuh tapi sekarang tidak, ia justru mendelik tajam pada kakeknya itu. "Dengan senang hati, Kek!" sahut Randi dengan semangat. "Emm, kasihan dia. Kekasihnya tidak memberikan kepastian!" Ravindra menyindir Hansel yang masih menatap tajam ke arahnya. "Emm, kalau begitu biar aku yang akan menikahinya." Bugh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN