Alea masih diam. Ia tengah berpikir panjang dengan apa yang saat ini sedang di tawarkan untuknya. Matanya melirik ke pada dua pria yang dia tahu namanya dari berkas perjanjian itu. Pria yang ada di sampingnya adalah Hansel Marquez dan pria yang berdiri di sana bernama Savian Altezaa, yang mana nama Savian juga tertulis di berkas sebagai seorang saksi dari terbuatnya berkas perjanjian itu.
"Jadi intinya Anda menawarkan nikah kontrak?" Alea pun bersuara setelah sekian lamanya berpikir.
"Benar, Nona," jawab Savian, tetapi Hansel hanya berdehem dengan mata yang terpejam dan kepalanya yang ia sandarkan di sandaran sofa.
"Tapi aku masih sekolah," keluh Alea karena bagaimanapun ia juga tidak bisa memungkiri kalau dia tergiur dengan nominal yang tertulis.
"Bawa aku ke orang tua mu!" tegas Hansel dengan mata yang seketika menatapnya.
"Boleh, tapi ini sudah malam. Apa Anda berani?" pertanyaan Alea membuat Hansel mengernyit heran.
"Kan bisa besok, anak kecil!" sungut Hansel kesal.
Namun, tiba-tiba suara guntur terdengar cukup keras. Membuat Alea menoleh kearah jendela dan ternyata tak berselang lama hujan pun ikut turun, kepalanya kembali menoleh ke arah Hansel. "Malam ini hujan, kemungkinan akan becek disana, apa Anda rela menginjakkan sepatu mahal Anda di tempat kotor?"
"Maaf, apa Anda tinggal di tempat yang rawan banjir?" kini Savian lah yang bertanya.
Alea tertawa kecil mendengarnya, dan tawa Alea membuat Hansel maupun Savian tertegun. Karena kecantikan gadis tengil itu semakin terpancar kala senyuman lengkap dimple yang menambah manisnya wajah Alea.
"Maksud ku, orang tua ku itu sudah berada di pemakaman," ujarnya dengan senyuman. Akan tetapi bagaimanapun dia tersenyum, mata Alea tidak dapat berbohong karena ada kesedihan disana. Namun, ia tidak mau memperlihatkan kesedihannya pada siapapun.
"Mau apa mereka di pemakaman?" pertanyaan konyol itu keluar dari mulut calon pemilik Dinasty Marquez, ya dia adalah Hansel.
Alea dan Savian membelalak, Savian sampai menepuk dahinya karena frustasi dengan kebodohan Tuan mudanya itu.
"Tuan, maksud Nona Alea, orang tua dia sudah meninggal dunia," bisik Savian langsung ke telinga Hansel.
"Oh, sorry, I don't know." Hansel menatap Alea yang sepertinya tidak mempermasalahkan pertanyaannya dan ketidakpahamannya.
"Tidak masalah. Balik lagi saja ke intinya. Kalau misal aku menolak, bagaimana?"
"Gampang, aku akan mengantarkan mu ke para preman tadi," sahut cuek Hansel.
Alea berdecak kesal seraya bersuara lagi, " Tidak asik pakai ancaman."
"Aku bersungguh-sungguh!" ketus Hansel.
Sekian kalinya, Alea berpikir lagi. Karena bagaimanapun dia juga sedang membutuhkan uang untuk hal yang harus ia lakukan, tapi menikah? apa perjanjian ini akan terjalin hanya sekedar perjanjian saja. Entahlah, Alea juga harus memberikan keputusannya sekarang juga.
"Tapi ini hanya rahasia kita saja, 'kan? maksud ku, bagaimana dengan sekolah ku?"
Hansel mendengus, ia menghela nafasnya panjang. Terlihat kalau Hansel sudah mulai jengah dengan gadis bawel ini.
"Sepertinya kau tidak membaca isi berkas ini baik-baik yak?!" kesal Hansel dengan membanting berkas itu.
"Jelas-jelas di sana tertulis, pihak satu tidak akan ikut campur pihak dua, juga sebaliknya! Lalu di sana juga sudah dijelaskan kalau pihak dua bebas dengan kegiatannya yang sebelum pihak dua menanda tangani perjanjian ini. Apa itu kurang jelas, hah? yang artinya, kau boleh melakukan apapun kegiatan mu, mau itu sekolah, atau bekerja. Aku hanya memerlukan mu bersandiwara untuk menjadi istriku, paham!" ucap panjang lebar Hansel menjelaskan arti isi dari berkas yang tadi ia berikan pada Alea.
Hansel yang menggebu-gebu menjelaskannya, bahkan napasnya sampai naik turun karena sangking cepatnya ia bicara, tapi Alea ia justru hanya ber'oh ria saja.
"Baik, aku setuju!" ucap Alea dengan semangat. "Tapi aku mau nominal ini di bayar di muka, bisa?"
"Bisa, tapi apa jaminannya kalau kau tidak akan melarikan diri?"
Alea terdiam seraya berpikir bagaimana caranya agar Hansel percaya padanya.
"Kau kan kaya, pasti bisa mencari ku sampai ke lubang semut pun, 'kan? oh ya, disini aku bersekolah, lihat itu! kau juga bisa pegang itu untuk jaminan." Alea memberikan kartu pelajarnya pada Hansel.
"Baiklah. Sapri, siapkan uangnya!" perintah Hansel yang lagi-lagi menggunakan panggilan nyelenehnya.
Alea melirik ke arah Savian, ia melihat jelas wajah ketidaksukaan Savian karena namanya yang diubah seenaknya Hansel.
"Nama dia 'kan Savian, Om. Masa pria tampan seperti itu di panggil Sapri," celetuk Alea membuat Savian tersenyum senang karena pujiannya. Tetapi Hansel, ia justru kesal mendengar Savian yang dipuji seperti itu.
"Aku lebih tampan!" cetus Hansel seraya berlalu pergi.
"Dih! jemawa sekali orang itu!" rutuk Alea
pada Hansel yang sombong itu.
"Dia memang seperti itu, Nona. Anda jangan terkejut, ini belum seberapa," bisik Savian yang langsung berpamitan pergi pada Alea.
Alea menghela nafasnya kasar setelah dua pria tampan itu pergi dari sana, dan dia hanya seorang diri di tempat yang masih asing di matanya.
Entah apa yang akan Alea lakukan disana, tapi dia sudah sangat lelah, terlebih lagi sudah beberapa jam Savian maupun Hansel tidak ada yang kembali ke ruangan itu yang pada akhirnya membuat Alea tertidur disofa panjang dengan baju seragam sekolahnya.
Pagi pun menjelang, Hansel turun dari kamarnya menuju meja makan dan tak lama Savian pun datang menghampiri Tuannya itu. "Selamat pagi, Tuan," sapa Savian begitu hormat.
"Hem! Ikutlah sarapan denganku!"
"Terima kasih, Tuan. Saya sudah sarapan sebelum ke sini," tolak halus Savian.
"Hei, apa dia masih tidur?" tanya Hansel pada pelayan yang tadi malam mengantar Alea membawanya kepada Hansel ke ruangan kerja.
Mendengar pertanyaan itu membuat pelayan tersebut kebingungan. Siapa yang di maksud 'dia' oleh Hansel. Tapi seperkian detik kemudian, ia baru mengerti, yang dimaksud Hansel tak lain adalah gadis yang tadi malam, Alea.
"Sata tidak tahu, Tuan,'' sahut pelayan itu.
"Coba lihat sana!"
"Di mana, Tuan?"
Hansel yang sedang mengoleskan butter cream pada rotinya, seketika mengehentikan tangannya lalu menoleh ke arah pelayannya dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Apa maksud mu? hah!'' pekik Hansel begitu nyaring. "Savian, apa jangan-jangan dia masih di ruang kerja ku?" Savian terbelalak dan langsung berlari ke arah ruang kerja Hansel.
Bukan tanpa alasan dibalik kepanikan dua pria itu. Ya, ruang kerja Hansel akan terkunci otomatis dan tidak bisa dibuka dari dalam kecuali Hansel dan Savian yang memegang kata sandi pintu itu. Juga, di dalam sana suhunya akan turun dengan sendirinya setelah diatas jam dua belas malam kalau tidak ada yang memakai elektronik, seperti komputer yang biasa Hansel gunakan.
Lalu apa yang terjadi pada Alea disana?