Malam tadi Alea tidur begitu nyenyak dari sebelum-sebelumnya, ia bahkan tidak sama sekali bermimpi. Saat ini matahari sudah mengintip dari celah gorden kamar yang sang pemiliknya masih setia meringkuk di bawah selimut tebalnya.
Hansel yang sudah berada di meja makan merasa heran karena Alea belum juga turun dari kamarnya, maka dari itu Hansel pun memutuskan untuk menyusulnya.
"Kenapa dia belum turun juga?" gumamnya di sela-sela langkahnya.
Beberapa kali Hansel mengetuk pintu kamar Alea, tapi tidak ada sedikitpun sahutan dari dalam. Merasa penasaran, Hansel justru memutar kenop pintu yang ternyata pintu itu tidak di kunci.
Dengan ragu Hansel masuk ke dalam, dan ternyata orang yang sejak tadi di tunggunya masih tertidur, padahal pagi ini Alea harus berangkat ke sekolah.
Hansel memutari ranjang, mengintip sedikit selimut yang menutupi seluruh tubuh Alea. Benar saja, memang Alea belum bangun dari tidurnya. Dengan ragu, Hansel pun membangunkan Alea dengan memanggil namanya.
"Alea, hei! kau tidak mau bangun?" ucap Hansel dengan berbisik yang tidaklah mungkin Alea akan bangun dengan cara Hansel seperti itu.
Merasa Alea yang tidak juga terbangun, Hansel pun akan menyentuhnya. Dengan ragu Hansel menepuk pipi Alea yang langsung mengerjapkan matanya.
Mata bulat Alea perlahan terbuka dan yang pertama ia lihat dengan samar-samar adalah wajah tampan Hansel, dan entah kenapa Alea malah tersenyum dengan lembut pada Hansel yang terkesip karenanya.
Hansel segera menegakkan tubuhnya lalu berdehem, ia salah tingkah, pipinya juga bersemu merah. "Ada apa ini?" batin Hansel. "Kenapa dia tersenyum seperti itu?" lanjutnya.
Hansel berdehem seraya berkata, "Apa kau tidak pergi ke sekolah?"
"Emm, sekolah?" Alea mengangkat kepalanya karena ingin melihat jarum jam yang tergantung di dinding. Namun, tiba-tiba matanya langsung melebar ketika melihat jarum jam yang menunjukkan sudah pukul 06:35.
"Haaaahh!! astaga, ada ujian!" pekik Alea yang terjingkat dan langsung bangun dari ranjang lalu berlari dengan tertatih-tatih ke kamar mandi.
Hansel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alea yang ceroboh seperti itu. Menghela napasnya sejenak dan merapikan selimut Alea yang terjatuh di lantai.
"Tidak disiplin!" cetus Hansel sembari keluar dari kamar Alea.
Alea tidak mandi, ia ha ya membasuh mukanya dan menggosok gigi saja setelah itu tergesa-gesa mencari seragam sekolahnya yang dulu ia tinggal di sana.
"Untung aku tinggalkan seragam ini di sini," gumam Alea yang langsung memakai pakaiannya dengan buru-buru.
Dia baru sadar, ketika sedang memakai baju sekolah kalau tadi ada Hansel di kamar lalu ke mana dia sekarang? Alea melihat ke sekeliling yang ternyata Hansel memang sudah tidak ada di sana.
"Mungkin dia sudah berangkat kerja," gumamnya lagi.
Setelah memakai seragam lengkap dan menyisir rambutnya yang sedikit kusut lalu memutuskan untuk menguncir rambutnya saja karena sulit di sisir.
"Sudah, begini saja." Alea memeriksa penampilannya di depan cermin yang bagi dia sudah sangat sempurna.
Namun, saat ia keluar kamar dan turun, tepat di anak tangga bawah di sana Hansel menunggunya dengan melipat tangannya diatas perut.
"Kau mau ke sekolah?" tanya Hansel menatapnya aneh.
"Iya, mau kemana lagi aku dengan seragam ini," sahut Alea.
"Kau ini anak gadis, lebih perhatikan penampilan mu!" ucap Hansel dengan ketus.
Dengan langkah yang agak di seret karena masih merasakan sakit di pergelangan kakinya, Alea memeriksa penampilannya yang menurutnya sudah sangat rapih itu.
"Memangnya ada apa dengan penampilan ku?" gumamnya.
Hansel yang mendengar gumaman Alea hanya bisa memutar bola matanya lalu melangkah pergi meninggalkan Alea di sana.
Alea tidak menghiraukan Hansel lagi karena memang dia sudah sangat terlambat, tidak ada waktu lagi untuk berdebat soal penampilannya. yang terpenting dia harus sampai ke sekolah sebelum jam 07.00.
Alea yang berjalan sembari memainkan ponselnya tidak menyadari kalau Hansel sedang menatapnya dengan bersandar di pintu mobil.
dengan terpincang-pincang Alea terus berjalan menuruni tiga anak tangga untuk ke pelataran rumah. Tiba-tiba langkah Alea berhenti ketika merasakan ada yang menarik kerah bajunya, Alea memutar kepalanya ke belakang yang ternyata Hansel lah pelakunya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Hansel.
"Tentu ke sekolah, mau ke mana lagi," jawabnya kesal.
"Kau mau berjalan kaki, hah?"
"Aku sudah memesan ojek online, sebentar lagi dia sampai." Alea menunjukkan layar ponselnya pada Hansel.
Hansel tidak habis pikir pada Alea yang memesan ojek online padahal ada dia di sana. Lantas Hansel pun segera menarik tangan Alea agar masuk ke dalam mobilnya.
"Ee...eeh. Mau ke mana? aku sudah telat, jangan bercanda deh!" Alea mengomel, tapi Hansel tidak mengindahkannya, ia justru menutup pintunya dengan sedikit membanting lalu berputar ikut masuk ke dalam mobil.
"Hei, aku sudah sangat telat. Hari ini ujian, dan ojeknya sudah hampir sampai," cerocos Alea yang tidak sama sekali Hansel ladeni.
Hansel justru menghidupkan mesin mobilnya lalu menginjakkan pedal gas melakukannya pergi dari sana, tapi ia kembali menghentikan lajunya dengan menurunkan kaca mobilnya seraya bicara pada penjaga gerbang.
"Kalau ada ojek yang datang, beri dia ongkosnya!" perintah Hansel pada penjaga gerbang itu.
"Siap, Tuan!"
Lalu, Hansel kembali melajukan mobilnya pergi dari kediamannya.
"Tuan kita mau ke mana? aku ada ujian pagi ini." Alea bicara dengan mengubah cara duduknya yang mana saat itu mata Hansel tidak sengaja melihat paha mulus Alea yang terpampang jelas karena posisi duduknya yang seperti itu.
Hansel berdehem kembali, melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa sesak. "Duduk yang benar!"
Alea berdecak kesal dan membetulkan cara duduknya, ia benar-benar di buat kesal dengan Hansel. Jelas-jelas ia sudah mengatakan akan ada ujian, tapi Hansel malah mengajaknya bepergian.
Alea gelisah, ia takut kalau nilainya jelek dan akan mempengaruhi nilai-nilai dia yang sudah di bangunnya dengan baik.
Sepuluh menit kemudian, roda mobil pun berhenti yang mana Alea baru menyadari kalau ia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Lantas Alea menolehkan kepalanya menatap Hansel yang duduk dengan acuh di balik kemudi.
"Kenapa? kau akan terlambat kalau terus menatap ku seperti itu," ucap Hansel yang tidak sama sekali menoleh.
"Emm, terima kasih. Kalau begitu aku pergi."
Dengan gerakan tiba-tiba Alea, Hansel terkejut dan bahkan tidak sama sekali bisa berkata apapun. Ya, sebelum Alea turun, Alea meraih tangannya lalu mengecupnya setelah itu turun dari mobil.
Hansel speechless, tangannya gemetar pipinya juga merah. Entah perasaan apa itu, tapi yang pasti Hansel benar-benar terkejut.
Alea yang turun dari mobil, ternyata di lihat oleh teman-teman sekolahnya. Alea yang sudah biasa datang dengan ojek online tapi kali ini justru turun dari mobil mewah, yang tidaklah mungkin mobil itu adalah taksi online.