Gosip Di Sekolah

1019 Kata
Alea berjalan santai di koridor sekolah, dengan tas sangkilnya seraya tersenyum pada teman-temannya yang menyapanya pagi itu. Tanpa ia tahu, ternyata di halaman sekolah banyak siswa yang sedang menggosip tentangnya. Alea masuk ke kelas begitu juga para siswa yang memang sekelas dengannya, karena memang bel sudah berbunyi. "Le ...." panggil seorang gadis sebaya dengan Alea, yang sejak tadi menunggunya. "Dea," balas Alea yang langsung duduk di sebelah gadis bernama Dea, yang rupanya Dea adalah sahabat Alea sejak duduk di kelas 1. "Kok tumben baru datang, biasanya kamu murid yang paling awal datang dan duduk di kelas," ujar Dea yang merasa heran dengan sahabatnya itu. Alea tidak langsung menjawabnya, ia mengeluarkan buku-bukunya terlebih dahulu, barulah menghadap kearahnya. "Aku kesiangan," jawabnya kemudian. "Kok bisa?" Alea menghela napasnya sejenak, mengingat tragedi kemarin ia baru ingat kalau ada yang harus ia urus setelah sepulang sekolah nanti. "Kafe ku kebakaran." "Hah!!" pekik Dea karena terkejut, bahkan Dea sampai berdiri. Dea memang sahabat Alea sejak duduk di kelas 1, tapi karena rumahnya dengan tempat tinggal Alea sangat jauh, dia tidak tahu kabar buruk yang terjadi pada Alea kemarin. Karena teriakan Dea membuat semua siswa yang ada di kelas menoleh ke arah mereka. Alea melihat ke sekeliling, lalu tersenyum begitu canggung. "Duduk!" Alea menarik tangan Dea agar duduk kembali. "Kok bisa kebakaran? lalu, kamu tinggal di mana? dan bagaimana nanti kamu, maaf aku benar-benar tidak tahu," cerocos Dea yang merasa bersalah. Dengan pertanyaan-pertanyaan Dea, Alea sempat bingung harus menjawab apa, karena sesungguhnya ia belum siap mengatakan kalau dia saat ini tinggal bersama seorang pria yang bahkan sebentar lagi akan menjadi suaminya, maksudnya suami kontrak. Namun, ia teringat kalau memang dia sudah memberitahu Dea adanya cabang kafenya. "Aku tinggal sementara di kafe Cabang, selagi menunggu kafe itu di renovasi," ujar Alea sedikit berbohong. "Pasti biaya renov besar. Oh ya, aku punya sedikit tabungan, nanti aku transfer ke rekening mu, ya?" Lantas Dea segera mengambil ponselnya yang ia simpan di tas tapi dengan cepat Alea mencegahnya. Alea memang tidak pernah mau merepotkan siapapun, termaksud sahabatnya. Karena bagi dia Dea yang peduli dengannya saja sudah membuat dia senang. "Emm, tidak usah. Kamu simpan tabungan mu untuk kuliah nanti, aku ada uang kok, tenang saja," ucap Alea penuh kasih. Mata Dea berkaca-kaca, Alea adalah salasatu sahabatnya, karena penampilannya yang sedikit culun membuat ia di jauhkan oleh teman-teman sekolah, terkecuali Alea, yang dengan tangan terbuka, Alea justru menganggapnya sahabat baiknya. Bukan hanya Alea, dia juga mempunyai sahabat lain, yang juga merupakan sahabat dari Alea. "Hai!" seru seorang siswa perempuan yang berpenampilan tomboi. Viona, sahabat dari Alea dan Dea. Viona duduk di kursi paling belakang tepatnya dibelakang Dea dan Alea. Viona melepaskan earphone yang menempel di telinganya lalu mengeluarkan buku-bukunya. Ketika kepalanya terangkat yang ternyata Dea saat ini menatapnya dengan tajam. "Kenapa?" tanya Viona. "Kau ini, sahabat kita sedang kena musibah, kau kemana saja!" Dea mengomel seperti biasanya. "Musibah?" Viona melongok ke bawah meja melihat Alea dari kolong meja. Matanya memicing ketika melihat kaki Alea ada gulungan perban. "Le, kaki kamu kenapa?'' tanya Viona dengan khawatir. Mendengar pertanyaan Viona pada Alea, Dea pun ikut melihat ke arah kaki Alea. "Lho! iya, kaki kamu kenapa? karena kebakaran itu juga?" tanya Dea yang baru sadar dengan kaki Alea. "Hah? kebakaran?" Alea hanya bisa menghela napasnya lalu menepuk dahinya, mendapatkan rombongan pertanyaan dari sahabat-sahabatnya membuat dia sakit kepala. "Kalian ini, buat aku tambah pusing," keluh Alea yang langsung meletakkan kepalanya di atas meja. "Le ... kita serius!" ucap Dea dan Viona bersamaan. "Ssstttt! guru sudah datang," bisik Alea yang melihat gurunya memasuki kelas. Di kantor, Hansel duduk dengan tidak tenang. Padahal masih banyak berkas-berkas yang harus ia periksa, tapi entah kenapa pikirannya terus tertuju pada Alea dan Savian. Dia merasa kalau Savian memang menyukai Alea, begitu juga dengan Alea. Karena selama ini ia melihat Alea yang sangat terbuka dengan Savian ketimbang dengannya. "Apa dia menyukai Savian?" gumam Hansel dengan mengetuk-ngetuk meja dengan penanya. Hansel berdecak, ia berdiri dengan gelisah, tapi kenapa Hansel harus merasa khawatir dengan perasaan Alea pada Savian, bukankah dia hanya menyewa Alea dan bertekad tidak akan melibatkan perasaannya. Namun, kenapa ia tiba-tiba merasa khawatir seperti itu? sungguh, Hansel pun tidak mengerti. Lantas, Hansel menekan tombol di telepon yang ada di mejanya, memanggil Savian agar segera ke ruangannya. Tidak berselang lama, Savian pun datang. "Ya Tuan? Ada yang perlu saya kerjakan?" tanya Savian. Tapi bukannya menjawab, Hansel justru memandangnya dengan tatapan mata yang aneh, menurut Savian. "A–ada apa Tuan? apa saya berbuat salah?" tanyanya lagi dengan gugup. "Jawab dengan jujur! apa kamu menyukai Alea?" Savian tertegun, ia bingung harus menjawab apa. Berbohong kah atau harus jujur, tapi kalau misalnya jujur, bukankah ia sedang menggali lubang kuburannya sendiri? Savian pun bimbang. "Hahah ... kenapa Tuan bertanya seperti itu?" Dengan tawa, Savian berniat mengalihkan perhatian Hansel. Tapi pria 30 tahun itu tidak sama sekali peduli, karena yang dia mau hanya jawaban Savian sekarang juga. "Jawab!" desak Hansel. "Tentu saja, tidak." Hansel memicing, dengan jawaban Savian ia belum puas. Karena ia merasa ada yang janggal. "Sungguh, Tuan. Ya memang kalau bisa di katakan, siapa yang tidak menyukai nona Alea, tapi rasa suka itu bukankah berbeda-beda. Ada suka karena kagum, suka karena sekedar suka, dan ada suka karena perasaan cinta." "Lalu kamu rasa suka yang mana?" Lagi-lagi Savian tertegun, ia menelan ludahnya dengan susah payah. Tangannya ia sembunyikan di belakang tubuhnya, menyembunyikan perasaan yang aneh ketika melakukan kebohongan. "Saya hanya merasa kagum dengan nona Alea, Tuan." Savian bahkan mengutuk mulutnya sendiri dalam hatinya. Ia benar-benar tidak terbiasa berbohong seperti ini. Terlebih lagi berbohong masalah perasaan, membuat hatinya tidak nyaman. Hansel sedikit merasa lega, ia juga bertekad akan menanyakan hal yang sama pada Alea nanti. "Ya sudah, kau boleh keluar!" Savian pun keluar dari ruangan Hansel dengan perasaan yang dilema. Kembali di sekolah Nusa Bangsa. Para siswa berhamburan keluar kelas setelah mendengar bel dan setelah mengerjakan soal ujian mereka. Alea, Dea dan Viona juga keluar dan berniat akan pergi ke kantin, tapi mereka merasa ada yang aneh. Karena saat mereka lewat para siswa yang berpapasan dengan mereka seperti sedang membicarakan salasatu dari mereka. "Tidak sangka ternyata dia simpanan sugar Daddy," bisik-bisik seorang siswa pada teman-teman lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN