"Ternyata dia simpanan sugar Daddy."
Bisik-bisik semua para siswa yang memang di tunjukkan pada Alea, yang bahkan tidak sama sekali peduli, karena memang dia tidak tahu kalau sedang di bicarakan.
Namun, tidak dengan Viona, yang menyadari kalau beberapa siswa sedang membicarakan di antara mereka.
"Tunggu!" Viona menghentikan langkahnya membuat Alea dan Dea terheran.
"Kenapa Vi?" tanya Dea, tapi Viona tidak menjawabnya, dia justru berbalik dan berdiri di depan gerombolan siswa perempuan yang terlihat ketakutan.
"Kalian sedang membicarakan siapa?" tanya Viona tanpa basa-basi pada para siswi.
"Ti–tidak ada," jawab salsatu dari mereka, tetapi Viona tidak percaya, karena dia sangat yakin kalau mereka tadi sedang membicarakan sesuatu tentang dia atau dua sahabatnya.
"Yakin?" desak Viona dengan memandang mereka begitu tajam, yang membuat nyali mereka ciut.
Siapa yang tidak mengenal Viona di sekolah Nusa Bangsa itu, gadis tomboi yang berperangai kasar, bahkan bukan hanya pada sesama perempuan saja, pada para siswa laki-laki pun ia kerap bertengkar. Yang sudah mereka tahu juga, kalau Viona lah yang selalu memenangkan pertengkaran.
"Ada yang menyebarkan gosip kalau Alea simpanan sugar Daddy," beber salasatu dari siswi itu yang tidak lagi tahan menerima tatapan mata tajam Viona.
Viona terkejut, begitu juga Dea dan Alea si korban yang sedang di gosipkan. Entah gosip dari mana itu semua, tapi yang pasti tidak akan ada asap kalau tidak ada api.
Alea tiba-tiba teringat, kalau tadi pagi Hansel yang mengantarkannya ke sekolah, dan mungkin saja ada teman sekolahnya yang melihat Hansel, pikir Alea.
Viona dan Dea sekarang beralih menatap Alea dengan selidik. Namun, Alea tidak sama sekali terganggu, karena memang itu tidaklah benar.
"Kenapa mereka menggosip kamu seperti itu?" tanya Dea dengan mata yang memicing.
Bukannya menjawab justru Alea tertawa terbahak-bahak, padahal kumpulan para siswi juga sangat penasaran dengan jawaban Alea.
"Kenapa tertawa?" Viona menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian ini lucu, kalau aku simpanan sugar Daddy, buat apa aku cape-cape kerja dan mati-matian untuk mendirikan kafe peninggalan orang tua ku."
Ucapan Alea membuat semua berpikir dengan logis, dan membenarkan apa yang dikatakan Alea. Lalu gosip itu kenapa menyebar? pikir semua orang.
"Tadi pagi aku menumpang dengan seseorang karena aku kesiangan," ucapnya lagi.
Kini, jawaban Alea membuat semua ber'oh ria, mereka barulah percaya karena jawaban Alea yang sangat masuk akal.
Melihat teman-temannya percaya padanya begitu saja, membuat Alea bernapas dengan lega. Dia tidak mau kalau misalkan ada yang mengetahui kalau dia akan menjadi seorang istri kontrak dari seorang pria yang usianya terpaut 11 tahun darinya.
Apa se-memalukan itu? sebenarnya tidak, tapi karena Alea belum siap mereka tahu, maka Alea pun memilih merahasiakannya. Bahkan jika saja mereka lihat pria yang mereka panggil sugar Daddy, pasti mereka akan menyesali ucapan mereka sendiri.
Alea terkekeh sendiri, juga merasa bersalah pada semua orang yang lagi-lagi ia harus membohongi mereka semua.
"Lidahku terasa gatal," batin Alea.
Gosip memang mereda, akan tetapi tidaklah hilang. Karena memang tidak semua percaya dengan jawaban Alea. Orang mana yang mau di tumpangi seperti itu, terlebih lagi Alea bukan siapa-siapa. Terkecuali mereka memiliki hubungan khusus. Pikir mereka yang tidak mempercayai alasan Alea.
Bel pulang sudah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing mereka. Ujian hari ini juga terbilang sangat lancar, dan membuat semua siswa senang karena telah menyelesaikannya dengan baik, terutama Alea.
Alea berpisah dengan Dea dan Viona di depan gerbang. Karena tempat tinggal mereka saling berlawanan, maka dari itu mereka tidak pernah pulang bersama seperti lainnya.
Namun, baru saja Alea akan naik ke dalam bis. Sebuah mobil berwarna hitam membunyikan klaksonnya dan membuat Alea menoleh. Matanya memperjelas penglihatannya ia tahu betul kalau mobil itu punya Hansel.
"Hei, Nona! jadi masuk tdiak!" supir bis meneriakinya.
"Maaf, maaf." Alea menarik kembali kakinya dari pijakan tangga bis lalu menghampiri mobil Hansel yang ada di belakang bis tersebut.
Melihat ke sekeliling, takut kalau-kalau teman sekolahnya melihat dia lagi yang menaiki mobil yang sama seperti tadi, yang akan membuat gosip itu lagi.
Setelah memastikan kalau tidak ada yang melihatnya, Alea buru-buru masuk ke dalam mobil Hansel.
"Kamu kenapa?" tanya Hansel yang merasa aneh dengan sikap Alea yang seperti sedang bersembunyi dari seseorang.
"Ah, tidak apa-apa. Kamu kenapa datang?" tanya Alea balik.
"Menjemput mu."
"Hah?" Alea merasa heran dengan sikap Hansel yang sangat mudah berubah-ubah.
"Sudah jangan terlalu banyak bicara, pakai seat beltnya dengan benar!" decih Hansel.
Roda mobil pun bergerak pergi. Membawa dua calon pengantin itu membelah ramainya jalanan ibukota yang padat.
Namun, di perjalanan Alea bingung. Dia tidak bicara akan kemana dia pergi tapi kenapa Hansel tahu kalau dia akan pergi ke cafe yang ada di jalan anggrek.
"Kita akan kemana?" tanya Alea memastikan.
"Kita akan pergi kemana kau ingin pergi," jawab Hansel yang semakin membuat Alea bingung.
"Hah?"
Hansel menoleh dan tiba-tiba melayangkan jarinya dengan menyentil dahi Alea yang berkerut.
"Aawww!" pekik Alea.
"Kamu akan pergi ke cafe mu 'kan?" Alea mengangguk. "Ya sudah, kita akan kesana," lanjut Hansel.
"Tapi aku tidak mengatakan akan pergi kemana, tapi kenapa kamu tahu." Alea merasa tiba-tiba menjadi bodoh, si juara kelas pun frustasi karena merasa bingung.
"Menebak saja." Hansel menjawabnya dengan sangat enteng, mengabaikan Alea yang masih menggaruk tengkuk lehernya.
tibalah mereka di depan bangunan yang sebelumnya terjadi kebakaran di sana. Namun, ada yang aneh, kenapa bangunan yang dia tahu kalau bangunan itu sudah terbakar, saat ini sudah terbangun lagi bangunan walaupun memang belum rampung semuanya.
Alea terburu-buru keluar dari mobil, ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan cafenya yang tadinya hanya tersisa kayu-kayu yang menghitam.
"Lea!" panggil seseorang dari arah belakang.
Alea segera menolehkan kepalanya yang ternyata yang memanggilnya adalah Ravindra.
"Kakek?"
Wajah Alea panik, karena saat ini dia masih memakai pakaian sekolahnya, putih abu-abu.
Kepanikan Alea juga dirasakan oleh Hansel yang merasa khawatir kalau-kalau kakeknya mencurigai mereka.
Ravindra memandang Alea dari ujung rambut sampai ujung kepala bahkan terus menatapnya. Antara terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Ravindra sampai mengusap matanya beberapa kali hanya untuk memastikan kalau penglihatannya tidaklah salah.
Walaupun memang pada akhirnya dia sendiri menyadari ada sesuatu yang aneh, dan dia harus menanyakan itu langsung pada yang bersangkutan.
Maka di sinilah mereka sekarang di taman dekat cafe itu. Hansel dan Alea duduk dengan takut karena mata Ravindra yang terus saja memandang mereka dengan penuh tanda tanya.