Ikut Kakek

1005 Kata
Sebenarnya tidak seharusnya, Alea merasa takut. Karena sedari awal dia tidak pernah mengatakan kalau dia bukan anak sekolah. Tapi melihat tatapan mata Ravindra yang seakan merasakan kekecewaan membuat Alea tidak berani menatap mata pria tua itu. Namun, berbeda dengan sikap Hansel yang terkesan cuek pada tatapan sang Kakek, ia tidak sama sekali peduli Ravindra kecewa atau tidak karena menurutnya kalau sudah ketahuan ya ketahuan saja. "Ini bagaimana?" bisik Alea dengan sangat pelan, tapi Hansel hanya menggedikkan kedua bahunya seakan menyerahkan semua masalah pada Alea tanpa berkata apapun. "Jadi apa yang harus Kakek tanyakan pada kalian?" Ravindra pun bersuara setelah sekian lamanya menatap kedua orang itu. "Terserah Kakek, memangnya Kakek mau tanya apa pada kami?" sahut Hansel yang membuat Alea menoleh dengan mata yang terbelalak. Entah apa yang ada di pikiran pria 30 tahun itu, jelas-jelas sang kakek sudah sangat memelas mengatakan itu, tapi Hansel justru memantik api yang sudah berkobar. Plak! Alea memukul paha Hansel dengan sangat kencang, ia benar-benar gemas dengan pria 30 tahu itu. Bisa-bisanya dia berbalik bertanya pada sang kakek yang sudah sangat jelas seperti menahan kekecewaannya. "Sakit!" pekik Hansel. Ravindra yang melihat itu, sedikit menarik sudut bibirnya. Walaupun memang ia sedang syok akan apa yang baru dia ketahui itu, tapi ia senang karena memang cucunya benar-benar sudah mendapatkan pawang. "Kalau tidak bisa menjawab, lebih baik diam," ucap Alea lagi pada Hansel. Hansel mengernyit, entah keberanian apa yang Alea miliki, dan Alea lah orang pertama yang berani melayangkan tangan padanya. "Terserah!" decih Hansel. Alea mendelikkan matanya, lalu beralih menatap pada Ravindra yang masih memandang ke arah mereka. Ekspresi Alea kian berubah di saat matanya beradu pandang dengan Ravindra. Rasa bersalah itu kembali hadir. "Kek, aku benar-benar tidak bermaksud membohongi Kakek, ak—" ucapan Alea terpotong karena Ravindra yang memintanya, ya, tangan Ravindra terangkat meminta Alea untuk berhenti menjelaskan. "Kamu tidak harus menjelaskan apapun Lea, tapi dia!" Ravindra melirik sinis pada cucunya sendiri yang bahkan tidak peduli. "Han, apa kau tidak merasa malu. Bukankah seperti seorang p*****l, hah! Lea, cepat katakan pada Kakek. Dia tidak memaksa mu untuk menikah 'kan? hanya untuk mendapatkan warisan!" Alea terbelalak, mengapa Ravindra seakan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Lantas, apa Alea akan terus bertahan menjadi pembohong. "Berapa usia mu Han?" tanya Ravindra. "Tidaklah mungkin Kakek tidak tahu usia cucunya sendiri, 'kan?'' "Kakek tahu, sangat tahu." Ravindra menghela napasnya sejenak. "Itu berarti usia kalian terpaut 11 tahun. Sebenarnya Kakek tidak masalah dengan perbedaan usia kalian. Kakek hanya tidak mau kamu memanfaatkan gadis manis seperti Alea hanya demi warisan Han." Alea tidak lagi bisa berkata-kata, karena ternyata tanpa ia mengatakan yang sebenarnya, Ravindra sedikit demi sedikit mulai menyadarinya. Hansel menghela napasnya juga. Apa yang di katakan Ravindra memanglah benar, maka dari itu Hansel pun tidak menyahutinnya. Tapi kata 'memanfaatkan' dari sang kakek membuat Hansel tidak nyaman. "Aku tidak pernah memanfaatkannya, Kek. Karena aku benar-benar mencintainya." Alea terbelalak dengan kepala yang tertunduk, dengan spontan ia menoleh ke samping dan ternyata Hansel tengah memandangnya dengan tatapan yang aneh menurutnya. Tidak seperti Hansel biasanya, tatapan ini membuat Alea merinding, entahlah Alea merasa tatapan itu sangat berbeda. Bukannya tersentuh, Alea justru memicing pada Hansel yang masih menatapnya dalam. "Dia sangat ahli berakting!" batin Alea. Ravindra yang melihat tatapan Hansel pada Alea yang begitu dalam, membuat Ravindra kembali percaya. "Baiklah kalau seperti itu. Oh ya Lea, pokoknya Kakek minta, kalau dia menindas mu, segera laporkan pada Kakek, mengerti?" ujar Ravindra dengan lembut dan Alea pun mengangguk dengan lega. "Oh ya, Kakek lupa memberitahu mu. Kakek sudah merenovasi kafe mu yang sebisa mungkin penampilannya dan interiornya akan di buat semirip mungkin, sehingga kenangan yang hancur kembali lagi." Ravindra menunjukan rancangan yang di buat olehnya yang bahkan sangat persis dengan kafenya sebelum terbakar. Namun, Alea merasa aneh. Dari mana Ravindra tahu persisnya kafe peninggalan orang tuanya itu. Bukankah Ravindra sendiri belum pernah datang? "Emmm, Kakek tahu dari mana penampilan kafe ku?" tanya Alea penasaran dan Ravindra tersenyum dengan lembut karena dia tahu kalau Alea akan menanyakan itu. Ravindra pun menunjukan layar ponselnya yang menampilkan sebuah gambar-gambar kafe yang dia dapatkan dari laman internet. Yang ternyata kafe milik Alea terkenal di kalangan selebritis media sosial, yang suka menjelajah tempat-tempat bagus seperti kafe milik Alea untuk menjadi spot pengambilan foto. "Wah! mereka memposting kafeku?" tanya Alea yang tidak menyangka kalau ternyata banyak yang mengenal kafenya. "Jangan bilang kamu tidak tahu kalau kafemu terkenal, Lea?" tanya Ravindra yang merasa bingung dengan calon istri cucunya itu. Alea menganggukkan kepalanya, karena memang dia tidak tahu akan hal itu. Selagi mereka tengah berbincang, atau lebih tepatnya hanya Alea dan Ravindra yang sejak tadi berbincang. Ponsel milik Ravindra berbunyi yang segera di jawab oleh Ravindra. "Hallo. Iya siang, ada apa?" Alea dan Hansel saling melirik merasa penasaran karena Ravindra yang bicara dengan seseorang dengan sangat serius. "Emm, baiklah. Saya akan ke sana, terima kasih." Ravindra mengakhiri percakapan nya. Ravindra terdiam sejenak memandang wajah manis Alea yang seperti sedang memberikan ketenangan. Tapi kenapa? "Kalian ikut dengan Kakek," ucap Ravindra kemudian, seraya beranjak dan berlalu pergi. Hansel ikut beranjak dari duduknya, berbalik sebentar dan memberikan anggukan samar, seakan mengatakan, 'tidak apa-apa ikut saja' lantas Alea pun ikut beranjak dan berjalan bersama-sama mengikuti Ravindra yang sudah masuk kedalam mobil. Ravindra menekan remote pada kunci mobilnya dan segera masuk begitu juga Alea. Merekapun pergi mengikuti kemana mobil Ravindra melaju. "Sebenarnya Kakek mau kemana?" tanya Alea. "Tidak tahu, kita ikuti saja," jawab Hansel yang masih fokus dengan kemudinya. "Oh ya, tentang tadi. Aku hanya sedang mendalami peran,'' ucap Hansel lagi. Alea menoleh lalu mengecilkan matanya seraya berkata."Yang mana? yang kau bilang mencintaiku?" Hansel berdehem lalu menganggukkan kepalanya. "Emm, aku tahu. Aku tahu tanpa kamu menjelaskan, tenang saja," jawab Alea santai. "Bagus kalau begitu, aku tidak mau membuatmu salah paham, kamu harus mengerti." Alea tidak lagi menjawab, karena ia tengah sibuk dengan ponselnya yaang sedang berada di kolom obrolan grup. Suara notifikasi masuk yang terus saja berbunyi membuat Hansel tidak nyaman. Dan entah kenapa dia sangat penasaran dengan apa yang Alea lakukan. Bahkan ia mencurigai Alea sedang berbalas pesan dengan seseorang. "Bisa tidak, jangan berisik!" ucap Hansel ketus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN