Dalang Dari Kebakaran

1024 Kata
Setibanya di sebuah gedung yang siapapun akan tahu kalau gedung itu adalah kantor polisi. Hansel mengernyit menatap sang kakek yang keluar dari mobil lalu melambaikan tangannya pada mereka. "Mau apa kakek ke sini?" gumam Alea. ''Entahlah, sebaiknya kita tanyakan langsung,'' sahut Hansel yang mendengar gumaman Alea. Merekapun turun dari mobil dan segera menghampiri pria tua itu. Namun, sebelum Hansel maupun Alea melontarkan pertanyaan, Ravindra sudah lebih dulu mengangkat tangannya seakan mengatakan, 'Tidak perlu bertanya, ikut saja'. Maka Hansel dan Alea membuntut pada Ravindra yang berjalan di depan mereka. Tepat di depan ruang interogasi, polisi yang mengantar Ravindra, Hansel dan Alea ke sana mempersilahkan mereka untuk masuk. Yang mana, Hansel dan Alea masih saja bertanya-tanya di dalam hatinya. "Mau apa sebenarnya Kakek ke sini?" batin keduanya. "Silahkan tuan Ravindra," ucap seorang polisi mempersilahkannya masuk. Begitu mereka melangkah satu persatu untuk masuk, dan kini giliran Alea, matanya langsung tertuju pada seseorang yang duduk membelakanginya, yang dia tahu persis pemilik punggung bongkok udang itu. "Bibi?" Alea terpaku di tempatnya. Wanita yang di panggilnya 'Bibi' itu berbalik dan berdiri dengan wajah masam. Ya dia adalah Risma, adik dari mendiang ibu Alea. "Kenapa Bibi di sini? ada apa Bi, tidak terjadi apa-apa 'kan?" tanya Alea yang masih saja mengkhawatirkan sang Bibi yang dzolim itu. Namun, bukannya menjawab pertanyaan-pertanyaan Alea yang benar-benar khawatir padanya, Risma justru menepis tangan Alea yang sedang menyentuh lengannya. "Tidak usah berpura-pura, aku muak padamu!" sarkas Risma. Ravindra yang sedang bicara pada seorang polisi berpangkat tinggi menoleh saat mendengar perkataan sinis itu. Begitu juga Hansel, ia bahkan merasa geram pada wanita paruh baya tersebut. "Sudah Lea, kita ke sini bukan tanpa alasan. Juga, maafkan Kakek tanpa seizin mu menyeret kasus kebakaran kafe mu sampai ke sini," tutur Ravindra mengusap pundak ringkih gadis 19 tahun itu. "Kebakaran kafe ku?" "He'um, Kakek merasa ada yang janggal pada kebakaran di kafe mu, lantas kakek pun meminta bantuan kepada polisi kenalan Kakek, dan ternyata memang kebakaran itu bukanlah kebakaran biasa, ada seseorang yang sengaja membakarnya," ujar Ravindra seraya beralih menatap Risma dengan tatapan yang begitu tajam. Alea mengikuti arah pandang Ravindra yang menatap Risma, tatapi entah Alea masih belum mengerti apa memang butuh penjelasan yang lebih, Alea pun kembali bertanya, "Siapa Kek?" Ravindra menatap iba pada Alea, sampai ia pun tidak tega mengatakannya. Namun, berbeda dengan Hansel yang justru menjawab pertanyaan Alea yang dia sendiri tahu kalau Alea pasti sudah menebaknya. Terlihat dari mata Alea yang sudah berkaca-kaca. "Bibi mu. Haissh! begitu saja masih bertanya," ketus Hansel yang sebenernya bukan kesal pada Alea, melainkan geram pada Risma, yang mungkin saja kalau Risma bukanlah perempuan sudah pasti habis di buat Hansel. Alea menoleh dengan perlahan, sekarang ia sudah benar-benar kecewa pada bibinya yang jelas-jelas keluarga satu-satunya, tapi dengan tega melakukan itu pada dia. Menerima tatapan nanar Alea, bukannya merasa bersalah, Risma malah bersikap acuh seakan tidak pernah melakukan kesalahan pada keponakan satu-satunya itu. "Kenapa Bibi melakukan ini, kenapa Bi?" lirih Alea. "Kau harusnya berpikir Alea, kenapa aku sampai melakukan ini. Kalau saja kau memberikan hak ku, aku tidak akan pernah berbuat sejauh ini!" ujar Risma dengan marah. "Hak apa yang Bibi pinta dari aku?" "Balas budi mu! apa kau melupakan itu!'' bentak Risma. Sebenarnya Alea tidak pernah menangis karena bentakan keras dari bibinya, tapi kali ini ia justru meneteskan air matanya. Namun, bukan karena takut tetapi ia kecewa dengan sikap Risma. Hansel yang sudah terlalu lama mendengar bentakan Risma untuk Alea, semakin merasa geram terlebih lagi melihat Alea menangis. Maka Hansel pun menarik Alea ke belakang tubuhnya dan dia lah yang berdiri menghadap Risma. "Cukup! apa kau tidak merasa malu sedikit saja. Kau meminta hak? hak apa yang kau maksud, hah! balas budi katamu! cih, memangnya kau sampai bertaruh nyawa untuk dia, iya!" pekik Hansel yang berapi-api. "Ini bukan urusan mu! apa kau tidak memiliki kesopanan? oh iya, mungkin memang didikan orang tuamu yang seperti ini." Risma bersedekap d**a seraya menyindir Hansel yang semakin terpancing emosi. Namun, baru saja Hansel akan maju satu langkah lebih dekat dengan Risma, karena dia sudah benar-benar tidak tahan, Ravindra sudah mengangkat tongkatnya ke d**a Hansel, mendorongnya kebelakang untuk mencegah Hansel melakukan hal yang tidak-tidak. Karena dia tahu tempramen cucunya yang buruk. "Han! sudah, lebih baik kau ajak Alea keluar, karena anjing yang menggonggong akan terus menggonggong kalau kau masih berada di depannya," ucap Ravindra begitu sarkas. Mata Hansel masih menatap tajam pada Risma, tapi dia menurut dengan apa yang di perintahkan oleh Ravindra. Tangannya meraih tangan Alea yang ada di belakangnya, menggenggamnya lalu menariknya pergi keluar dari sana. Alea tidak menolak, ia ikut melangkah kemana Hansel menariknya. Dan di dalam sana, kini giliran Ravindra yang menatap Risma penuh dengan pengawasan. Rasanya ia sangat ingin menampar pipi Risma, atau mencolok kedua bola mata Risma yang sedang membalas tatapannya itu. Namun, dia sadar, kalau mereka berada di kantor polisi. "Kau tahu, Alea adalah gadis yang paling ceria yang aku kenal. Dan ini kedua kalinya aku melihatnya menangis dan itu karena dirimu. Membusuk lah kamu di dalam penjara sana!" ujar Ravindra yang langsung berbalik dan berhenti di depan seorang polisi yang berpangkat tinggi. "Kalau kau masih mau berhubungan dengan ku, jangan pernah membebaskannya!" Ravindra berlalu begitu saja melewati polisi itu. Risma yang mendengar jelas ucapan Ravindra jelas tidak terima, lantas ia berteriak memanggil Ravindra berkali-kali tapi tidak membuat pria lansia itu berbalik. "Kakek tua! b******k! memangnya kau pikir kau ini siapa, hah!!" jerit Risma. "Sudah! kau sebaiknya tenang!" bentak polisi yang ada di balik meja interogasi. Yang berhasil membuat Risma bungkam. Di luar kantor, Hansel yang sebenernya tidak mengerti cara menenangkan seorang gadis hanya bisa menepuk pundak Alea beberapa kali. "Sudahlah, tidak perlu menangisi orang seperti itu. Emmm, aku tidak pandai menenangkan hati orang, tapi yang jelas kau sangat jelek kalau sedang menangis," kelakar Hansel yang membuat Alea menoleh ke arahnya. "Benarkah?" tanya Alea yang masih terisak. "Iya, kalau tidak percaya kau bisa bercermin di sana. Wajah mu benar-benar terlihat buruk kalau sedang menangis," ucap Hansel membuat Alea seketika menghentikan tangisnya. "Apa aku masih terlihat jelek?" tanya Alea lagi dengan bibir yang mengerucut. "Tidak, kau terlihat sangat cantik." Entah itu sebuah pujian yang sesungguhnya atau memang hanya hiburan semata. Tapi yang jelas, ucapan Hansel tadi membuat Alea tersipu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN