Vino memapah Beby yang terdapat perban di lutut kirinya. Membantu dengan hati-hati gadis itu berbaring di ranjangnya. “Aa ke bawah dulu ambil minum buat kamu.” kata Vino kemudian keluar kamar. Tok tok tok Beby menduga itu bukan Vino. Selain karena cowok itu baru saja keluar, ia juga sangsi Vino mengetuk untuk sekedar minta izin. “Masuk!” setelah menyuarakan izin, pintu itu dibuka dari luar menampilkan Mia disana. Dengusan malas dibuat Beby sembari memutar bola mata. “Mau ngapain? Mau ngemis maaf?” Mia sudah berdiri disamping tempat tidur anak majikannya itu. Wajah gadis itu sangat serius menatap Beby. “Aku mau Non Beby bilang ke Kak Vino kalo bukan aku yang mendorong Non Beby.” ucapnya sungguh-sungguh. Beby membuat ekspresi merasa sangat aneh. Sebelah alisnya terangkat enggan. “Pen

