“HAH?!” Sarah terbangun dari tidurnya, matanya membulat dengan jantung berdetak sangat kencang seakan habis berlari cepat. Dia terduduk di kasur, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Mimpi buruk yang tidak pernah berakhir. Tidak, lebih tepatnya ingatan masa lalu terburuk dalam hidupnya tak pernah berhenti menghantui dirinya. Sarah menoleh ke kanan, menatap Mala tertidur tenang di kasur lainnya, tidak terusik oleh keributan kecil Sarah. Itu membuatnya tersenyum tipis serta bernapas lega. Dia tidak ingin membuat siapa pun khawatir padanya, terutama orang-orang baik seperti Aelin dan Mala. Telah banyak pihak yang dirugikan oleh kehadirannya di dunia ini sehingga satu-satunya harapan Sarah hanyalah tidak ada korban berikutnya. Namun, harapan itu seolah han

