Malam hari, Aelin menyibukkan diri bermain benang laba-laba dari skill-nya, membuat kreasi ikatan seperti anak kecil. Sebenarnya cukup lucu. Dia bisa saja pergi keluar jeruji tanpa perlu usaha. Mendekam di penjara hanya akan membuatnya suntuk hingga tertekan. Terlebih, untuk seseorang seperti Aelin yang tidak menyukai konsep terkurung. Namun, sekali lagi, otaknya bekerja keras memberikan teguran bahwa diam di penjara adalah pilihan terbaik untuk sementara waktu. “Bintang,” ujar Aelin riang menatap kreasi ikatan benangnya, “hati, berlian.” Itu ada kreasi kesekian selama Aelin bermain kurang lebih dua jam sejak kepergian Valin. Bukan waktu yang sebentar, alhasil detik ini kebosanan mulai menekan dirinya kuat-kuat. Mata merah Aelin beralih ke Sugha yang masih saja tertidur pulas. Emosinya

