Bab 36 Martini keluar dari kamarnya dengan perlahan. Ia merasa seperti orang yang habis kalah perang. Kedua pelipisnya ia tempeli dengan koyo cabe, karena pusing dan stress memikirkan pernikahan anaknya. Martini mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang berantakan. Seakan tidak mempedulikan keadaan rumahnya, ia mendudukkan bokongnya di sofa. Seketika debu berterbangan. "Uhuk uhuk!" Martini mengibaskan tangannya ke udara. Ia melihat keadaan rumahnya yang berantakan. "Ya ampun, pada kebangetan banget sih, rumah kaya gini di diemin aja!" Gerutunya. Kemudian ia beranjak dari sofa. Martini mengenakan dasternya yang lusuh, mengikat rambutnya ke atas. Sehingga nampaklah leher dan bahunya yang juga ia tempeli koyo cabe. Kemudian ia mulai merapikan dan membersihkan seisi rumahnya send

