"Bodoh dan rakus." Tatapan tajam dan tidak puas Martini tertuju pada Marsha. Sepertinya ia sedang kesal dengan Marsha yang sedang melahap potongan terakhir telur dadar hangat -yang sengaja ia buat untuk Arsjad- dengan nikmat seperti biasanya. Martini benar-benar tidak habis pikir kenapa Arsjad terus-terusan menunda mengurus surat perceraiannya dengan wanita muda itu. "Kamu kalau udah selesai makan ke warung yang tadi, Ca!" "Hah! Ngapain lagi, Bu?" Martini melotot, entah kenapa kata 'Bu' yang keluar dari bibir mungil gadis itu akhir-akhir ini terdengar menyebalkan di gendang telinganya. "Balikin ini lah!" Martini berkata sambil tangannya mengangsurkan empat lusin bumbu penyedap ke arah Marsha yang tengah meminum segelas air. "Bukannya udah bener ya, Bu? Beli Masako?" "Ya gak se

