bc

Kesetiaan Seorang Istri (Melati Tanpa Wangi)

book_age18+
149
IKUTI
1K
BACA
revenge
love-triangle
HE
escape while being pregnant
forced
arrogant
heir/heiress
drama
bxg
mystery
office/work place
office lady
like
intro-logo
Uraian

Simon muak dengan segala kemunafikan yang ada di sekitarnya. Tak ada yang tulus mencintainya, semua orang bersedia mendekat sebab uangnya yang tak berseri.

Suatu ketika ia bertemu dengan perempuan sederhana yang bersedia menolongnya. Simon bersumpah akan memiliki perempuan itu, apa pun dan bagaimanapun caranya. Lambat laun, keinginannya berubah menjadi obsesi.

Namun, siapa sangka perempuan itu adalah sosok yang telah menikah. Ia istri dari pria lumpuh yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Simon yang kelam.

chap-preview
Pratinjau gratis
1
Jika saja tak kaya, apakah masih ada wanita yang sudi mendekatiku? Puluhan perempuan telah kukencani, tetapi mereka hanya memandang hartaku, tak satu pun yang benar-benar tulus mencintaiku. Perhatian dan senyuman manja yang merekah di bibir-bibir berpoles lipstick merah menyala, semuanya itu palsu, bukan keluar dari hati, semata-mata untuk menguras uangnku. Demi uang, mereka bahkan rela membuka kedua paha lebar-lebar. Muak, bagiku tak ada lagi perempuan tulus di dunia. Perempuan yang melahirkanku pun bahkan sangat rendah, lebih rendah dari alas sepatuku yang mahal. Pada keheningan malam, melalui embusan asap nikotin yang menyebar dalam kegelapan, kubertanya pada sepi, masih adakah cinta yang tulus di dunia ini? Bahkan Mbok Nah pun tidak benar-benar mencintaiku, perempuan itu setia dan patuh padaku, rutin memberiku makanan, kopi buatannya pun selalu tersaji setiap pagi di meja kerjaku. Namun, perempuan itu melakukannya sebab aku menggajinya setiap bulan, memberikan bonus-bonus yang menggiurkan, membuat mata tuanya mendadak bersinar cemerlang. Lagi-lagi uang! Betapa bedebahnya mereka. Aku mendambakan ketulusan, dari siapa saja yang mampu menggulung kehampaan seorang pria sebatang kara ini, menjalani kehidupan yang begitu sepi. Entah, aku bahkan tak tahu apakah benar-benar ada kasih sayang di dunia ini, ketika segala yang kuinginkan didapat dengan uang. Aku lupa, kapan terakhirnya merasakan kasih sayang. Hidup yang b*****h dengan orang tua b*****h, mungkin memang tidak merasakan apa itu kasih sayang. Ketukan pintu terdengar, aku tahu yang datang adalah perempuan panggilan yang kupesan. Siluetnya terlihat dalam kegelapan, lekuk indah tubuhnya bergerak-gerak menggodaku. Seribu kali pun aku memesan, mereka tak mampu memberikan ketulusan yang kudambakan. Bagiku, mereka tak lebih sekedar pemuas, kedudukannya sama dengan alas sepatuku. Rendah. Tak ada tak berharga, termasuk hidupku sendiri. Tak ada yang patut diperjuangkan, sebab memang tak ada yang pantas untuk diperjuangkan. Kehidupan yang bergelimang kemewahan seperti ini pun, aku mulai bosan, sebab banyak kemunafikan di sekitar. Aku tahu, betapa jahatnya orang-orang menggunjingku di belakang, mengata-ngatai kebejatanku dengan penuh kebencian. Namun, begitu berhadapan denganku, senyum mereke merekah indah, bibir-bibir itu melontarkan kalimat-kalimat manis yang menjijikkan, khas penjilat sejati. Jika aku adalah pria miskin, masihkah mereka bisa bermuka dua seperti itu? Sungguh aku tak yakin. Ah, aku tidak yakin, sebab dunia ini diisi penuh oleh orang-orang munafik yang memuakkan. Namun, segalanya berubah, dalam sebuah pertemuan yang tak disengaja, ketidakpercayaanku akan ketulusan dan kasih sayang mendadak tergoyahkan. Bukan tanpa sengaja aku turun ke jalanan, menjalani kehidupan sebagai rakyat miskin yang penuh kesusahan, sebab kehidupanku terasa menjenuhkan. Menaiku bus, aku berdesakan dengan para penumpang, membiarkan aroma-aroma tak sedap menyerbu hidungku. Ikan pindang, bau keringat yang menyengat, bau kentut, hingga bau mulut semuanya bercampur menjadi satu. Di sanalah, aku bertemu dengannya, seorang perempuan yang terlalu sederhana untuk disebut canti. Penampilannya kacau, wajahnya kuyu, indah matanya redup tak sedikit pun menunjukkan pendarnya. Namun, bukan penampilannya yang berhasil mencuri perhatianku, melainkan sikapnya. “Senayan masih kosong! Senayan masih kosong!” Kondektur masih berteriak-teriak di depan pintu, tak peduli suaranya mampu memekakkan telinga penumpangnya. Entah di mana yang kosong, untuk bernapas saja butuh usaha yang cukup keras. Namun, kondektur bersikap masa bodoh, yang terpenting setoran lancar. Kalaupun penumpangnya mau terbang pun ia tidak peduli. “Geser, geser, geser!” Tak ada satu pun yang bersedia bergeser, bukan tak mau, tapi lebih kepada tak bisa. Bus penuh sesak hingga sebagian penumpang berdiri berdesakan. Kupaksakan diri menyeruak di antara tubuh-tubuh dengan berbagai aroma, aku harus segera turun jika tidak ingin bus kembali melaju. Kondektur masih terus berteriak-teriak penuh semangat. Ternyata kehidupan orang miskin begitu sulit, membuatku berpikir ulang untuk meninggalkan segala kemewahan. Berhasil tiba di depan pintu, bus mendadak menderu siap melaju kembali. Buru-buru kubawa kaki melompat, lompatan tanpa persiapan, membuatku jatuh terjungkal di atas tanah. Kurasakan kakiku luar biasa nyeri, seolah ada tulang yang patah. Dan rupanya bukan hanya aku yang bersusah-payah untuk turun. Seorang perempuan menyusul melompat tepat di sisiku jatuh, ketergesaannya membuat sebuah map dalam dekapnnya lepas, berkas-berkas di dalamnya beterbangan di udara sebelum kemudian berceceran di atas tanah. Sebagian diinjak-injak oleh para pejalan kaki. Kupikir ia akan mengejar berkas-berkasnya, lantas memunguti dan mengumpulkannya kembali. Namun, perkiraanku ternyata meleset jauh. Perempuan itu justru menghampiriku, menatap dengan netra yang dilumuri kecemasan. “Bapak tidak apa-apa?” Oh, rasa-rasanya ada yang membelai telingaku, kidung terindah sekalipun tak ada yang mampu menandingi kemerduannya. Suaranya begitu lembut menggetarkan, memenuhi sanubariku dengan kehangatan yang tak pernah kurasakan. Apakah ia melihat wajahku yang tersembunyi sebagian di balik topi hoodie? Kuasumsikan tidak, jika iya, aku yakin ia akan menjerit histeris dan berlari ketakutan. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, aku hanya menggeleng sebagai jawab pertanyaan kecemasaannya. Perempuan itu membantuku berdiri, membimbing lembut seolah aku adalah pria renta yang baru saja jatuh, berpikir kemungkinan tulang-tulangku rontok sangat besar jika ia tak hati-hati. Belum sempat kuucapkan terima kasih, ia berbalik sembari memekik, sadar telah kehilangan map berisi berkas-berkasnya. “Duduk sini dulu, Pak. Aku cari map dulu,” katanya, membantuku duduk di pinggiran trotoar. Segera ia melesat, berlari ke sana-kemari berusaha mencari mapnya. Perempuan itu lebih memilih menolong orang lain dan kehilangan berkas-berkasnya, sulit mencari pemandangan seperti itu dalam potret kehidupan di kota besar yang sarat akan individualis. Netraku mengikuti gerak-geriknya. Ekor kudanya yang melewati bahu bergerak ke sana-kemari mengikuti gerak tubuhnya. Perempuan itu terlalu sederhana, bahkan blus dan rok yang dikenakannya sudah pudar dimakan usia. Lusuh wajahnya tanpa riasan apa pun. Lekat kutatap sosoknya, detik itu juga aku bersumpah akan memilikinya. Tak peduli siapa ia, aku bersumpah akan mendapatkannya. Apa pun dan bagaimanapun caranya, ia harus menjadi milikku. Bersambung …

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.0K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook