Melati Tanpa Wangi 20 “Ada apa?” tanyanya datar. Aku meringis tak nyaman, Simon tak tahu jantungku berdetak kencang dilanda kecemasan. Sejujurnya aku sadar, kelangsungan hidupku dan Kang Handi saat ini tergantung pada pekerjaan di rumah pria itu. Menilik bagaimana sebulan yang lalu ia dengan mudahnya memecat suster yang merawat ayahnya, bisa dipastikan ucapannya padaku pun demikian adanya. Simon ingin memecatku. Aku sudah merasakan betapa sukarnya mencari pekerjaan di kota besar hanya dengan mengandalkan ijazah SMP, kebaikan Amin yang membawaku kemari, tapi kini aku terancam akan segera kehilangan pekerjaanku. Entah bagaimana nanti setelahnya, aku tidak yakin bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang sama di tempat lain. “Pak Simon beneran memecatku?” tanyaku tanpa berani menatapn

