Mendengar ucapan Pitaloka justru membuat Wulan mengerutkan dahi. Pitaloka secara gamblang mengakuinya sebagai menantu. Bukannya senang, tetapi Wulan justru merasa takut dan ada kekhawatiran dalam hatinya.
"Dia adalah Jessica Winston, calon menantuku." Pitaloka langsung memeluk tubuh Jessica dan membetulkan poni yang menutupi dahinya.
Mendengar ucapan Pitaloka membuat hati Wulan remuk. Dia sudah salah sangka dan ternyata tidak dianggap menantu dalam keluarga sang mertua. Dia hanya bisa meneteskan air mata sambil menatap sendu sang ibu mertua.
"Bu, Ibu ngomong apa, sih? Sudah jelas-jelas ...." Mikaila berusaha membela sang kakak ipar.
Akan tetapi, Pitaloka bergegas menempelkan telunjuknya pada bibir. Hal itu langsung membuat Mikaila terdiam. Pitaloka mendekati sang putri, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya.
"Tetap diam atau kamu mau aku jodohkan dengan Max?" ancam Pitaloka.
Sontak Mikaila menatap sang ibu sekilas, lalu mengalihkan pandangan pada Max yang sejak tadi masih berdiri di tempat awal mereka mengobrol. Lelaki tersebut terlihat mengangkat sebelah alis sambil tersenyum miring. Max menggoyangkan gelas dan menyesap cairan burgundi yang ada di dalamnya.
Gadis itu langsung mematung seketika. Dia tahu betul sifat Max. Lelaki berdarah dingin yang sangat posesif.
Bisa dibilang Max adalah lelaki gila yang biasa mencintai kekasihnya secara ugal-ugalan. Dia mengenal Max sejak kecil karena memiliki hobi yang sama. Jadi, Mikaila paham betul bagaimana sifat lelaki tersebut.
"Jadi, tetap tenang, gadis kecil ibu. Kamu nggak bisa terus melawan ibu. Ingat, pikirkan juga dirimu sendiri. Jangan sampai terseret masalah ini semakin jauh." Pitaloka menepuk bahu sang putri kemudian tersenyum miring.
Wulan masih mematung di tempat sambil terus menatap Jessica yang sekarang tersenyum seakan sedang mengejeknya. Dia benar-benar tidak menyangka sang ibu mertua bisa bersikap sekejam itu terhadapnya. Bahkan Wulan sampai tidak dianggap sebagai menantu.
Tak hanya sampai di sana, malah Pitaloka mempermalukan dirinya di depan keluarga dengan mengatakan bahwa Jessica adalah calon menantu keluarga Jansen. Wulan mulai berjalan menjauh dari tempat itu. Kepalanya terus menunduk seakan hendak menyembunyikan diri dari orang-orang yang hadir di sana.
"Jangan menangis, jangan menangis, jangan menangis!" gumam Wulan sambil menunduk ketika melewati kerumunan orang yang ada di sana.
Mata Wulan mulai sebak dan air mata berdesakan hendak meluncur keluar. Dia terus menahan tangis sampai bisa keluar dari tempat itu. Begitu berhasil melewati kerumunan, Mikaila langsung berjongkok di tengah taman rumah besar itu.
Taman dengan banyak tanaman hias serta memiliki cahaya lampu temaram, menjadi saksi bisu bagaimana terlukanya wanita polos itu. Wulan menangis tergugu dengan suara lirih yang mampu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Suara langkah yang mulai mendekatinya bahkan sampai tak terdengar oleh wanita tersebut.
"Lan, ngapain kamu di sini?" tanya Nathan sehingga membuat gadis itu mendongak.
"Dokter, aku ...."
Butir bening yang keluar dari mata Wulan kini membiaskan cahaya temaram lampu taman. Hal itu membuat air matanya berkilau layaknya butiran permata yang sangat berharga. Melihat sang istri yang tampak begitu kalut membuat hati Nathan terketuk.
Nathan ikut berjongkok kemudian merengkuh tubuh sang istri. Bukannya tenang, kini Wulan justru semakin menangis dengan lepas. Terlebih ketika Nathan mengusap punggungnya.
"Menangislah, keluarkan semua kesedihanmu, Lan. Keluarkan semua emosi sedihmu malam ini, besok kamu akan teersenyum dan hanya diliputi kebahagiaan. Percayalah kepadaku." Nathan tersenyum getir sambil terus mengusap punggung dan puncak kepala sang istri sesekali.
Wulan pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Nathan. Dia terus menangis dalam pelukan Nathan untuk meluapkan kesedihan serta kekecewaan yang dia dapatkan dari Pitaloka. Setelah puas meluapkan kesedihan, dia perlahan melepaskan lengannya dari tubuh sang suami.
"Maaf sudah menyentuh tubuhmu tanpa izin, Dok. Aku ..."
"Nggak masalah, Lan. Aku sudah berjanji sama bapak dan mamak untuk menjagamu. Jika aku mengingkarinya, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan mereka. Aku nggak mau putri kecilnya merasa tidak aman tinggal denganku . Lantas tiba-tiba kembali kepada mereka dan mengadu kalau suaminya sudah membiarkan air mata membanjiri wajah cantik putri itu setiap hari. Mau ditaruh di mana mukaku?" Nathan terkekeh sambil mengusap sisa tangis yang masih membasahi wajah Wulan.
Mendengar ucapan Nathan membuat Wulan tersipu. Wajah gadis itu kini terasa panas dan berubah menjadi kemerahan. Dia tersenyum kecil sambil menggigit bibirnya bagian dalam.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nathan kepada sang istri.
"Sebenarnya ...." Ucapan Wulan harus kembali menggantung di udara karena tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel Nathan.
Lelaki tersebut merogoh sakunya dan mulai mengangkat panggilan tersebut. Setelah selesai, Nathan kembali memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku celana. Nathan membantu sang istri untuk berdiri.
"Ayo, kita masuk ke dalam. Ibu sudah menunggu." Nathan menarik lembut lengan sang istri.
Akan tetapi, Wulan tetap mematung dan menolak untuk melangkah. Matanya kembali sebak. Nathan yang belum mengetahui apa yang terjadi, kini mulai mengerutkan dahi.
"Kenapa?" tanya Nathan.
Wulan masih diam. Dia enggan buka suara soal kejadian buruk yang baru saja dia alami. Wulan lebih takut sang suami tidak percaya dengan apa yang akan dikatakan olehnya.
"Ayo, masuk! Ada aku." Nathan menarik lagi tangan sang istri sambil tersenyum hangat.
Seakan mendapatkan keberanian, Wulan akhirnya mau beranjak dari tempatnya berdiri sekarang. Dia perlahan mengayunkan langkah dan mulai mengikuti Nathan.
Keduanya masuk ke ruangan itu. Nathan seakan menjadi magnet bagi tamu undangan. Ketika dia masuk sambil menggandeng tangan Wulan, semua mata tertuju kepadanya.
Di ujung karpet, Pitaloka tengah berdiri tegak untuk menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu. Dia tersenyum lebar, tetapi tatapan tajamnya menghunus Wulan yang berjalan berdampingan dengan sang putra. Keduanya berhenti tepat di hadapan Pitaloka.
"Kami mengucapkan selamat ulang tahun buat Ibu. Semoga Ibu panjang umur, sehat selalu, serta bisnisnya semakin sukses dan berkembang.”
"Terima kasih, Nak." Pitaloka tersenyum lebar sambil melirik ke arah Jessica.
Seakan mengerti maksud dari Pitaloka, gadis berpenampilan seksi itu langsung berjalan ke arah Nathan. Dia berdiri di antara Nathan dan Wulan sehingga genggaman tangan keduanya terpisah. Tiba-tiba Jessica memeluk tubuh Nathan dan mencium bibir lelaki tersebut.
Melihat pemandangan di depannya membuat Wulan seakan disambar petir. terlebih saat Nathan tidak melakukan perlawanan terhadap apa yang dilakukan Jessica kepadanya. Tak lama berselang, Jessica melepaskan ciumannya.
"Babe, aku sangat merindukanmu!" ujar Jessica sambil mendaratkan kecupan terakhir pada pipi Nathan.
Wulan yang tak sanggup lagi melihat sandiwara di hadapannya kini balik kanan dan langsung berlari membelah kerumunan orang yang ada di sana. Mikaila yang juga menyaksikan kejadian itu hendak mengejar sang kakak ipar, tetapi lengannya dicekal oleh Max. Lelaki tersebut menggeleng dengan tatapan dingin.
Suasana di pesta itu mendadak riuh. Sebagian besar orang yang ada di sana memang belum mengetahui kalau Wulan adalah menantu sah dari keluarga Jansen. Jika memang sudah ada kolega yang tahu, mereka tidak ambil pusing dan justru lebih suka Nathan bersisian dengan Jessica karena gadis itu dinilai jauh lebih baik daripada Wulan.