Mobil Pitaloka melaju kencang membelah jalanan kota Denpasar siang itu. Dia meminta sang sopir untuk mengantar ke apartemen Nathan karena ingin membicarakan acara pertunangan Mikaila dengan Max. Sebelumnya Pitaloka sudah menghubungi Nathan, tetapi putranya itu tidak menjawab panggilannya. Langkah Pitaloka semakin cepat ketika menyusuri lorong menuju unit apartemen Nathan. Dia terus melangkah dan berhenti tepat di depan pintu kediaman Nathan. Jemari lentik dengan kuku panjang yang dipoles menggunakan kuteks itu kini menempel pada permukaan bel. Beberapa kali tidak mendapati pintu di hadapannya terbuka, tentu saja membuat Pitaloka kesal. Dia mendengus dan langsung memasukkan kata sandi yang sebenarnya sudah dia tahu. Begitu pintu terbuka, Pitaloka mengerutkan dahi. "Siapa dia? Pembantu ba

