14. Melarikan Diri

2000 Kata
Bella ingin menangis seperti saat dia kehilangan Papanya untuk selama-lamanya, Bella ingin menangis seperti saat dia mendengarkan lagu yang paling sedih, Bella ingin menangis seperti saat dia harus meninggalkan Querencia untuk meraih cita-citanya sebagai super model. Bella hanya ingin menangis saat ini. “Aku akan tetap bertanggung jawab atas anak yang dikandung Emily… tapi aku tidak ingin menikahinya. Aku akan tetap menikah denganmu, Belle…” Hector meraih Bella dalam pelukannya. Tangis Bella pecah dalam pelukan Hector. Tanpa isak tangis, Hector pun ikut meneteskan air mata kesedihannya. Tangis Bella terdengar begitu menyayat hati, tangis untuk Hector yang sudah dia tahan sejak kecil, kini pecah dalam pelukan Hector. “Maafkan aku kalau aku mengecewakanmu, Belle. Maukah kamu memaafkanku?” Bella mengendorkan pelukan Hector, lalu menyerahkan kotak kayu kecil berisi cincin pertunangan ke genggaman tangan Hector. “Aku tidak bisa menerima ini, Hector. Aku tidak mau menjadi penghalang kasih sayang yang seharusnya diterima oleh janin itu dari kamu dan Emily.” “Aku tidak akan menikahinya, Belle… Tolong tetaplah bersamaku…” pinta Hector sambil menggenggam tangan Bella. “Emily adalah mimpimu, Pangeran...” “Tidak, setelah aku mengenalmu. Tetaplah bersamaku, Belle!” “Aku akan kembali ke London besok pagi.” Bella memandang Hector sembari meminta pengertian dari Hector bahwa dia ingin sendiri. “Tidak! Tidak! Tidak bisa begitu, Belle! Kita harus membicarakan ini dengan kedua orang tuaku dan juga Ibu Suri, mereka bertiga sangat berharap dengan hubungan kita!” Hector mengguncang tubuh Bella seakan berharap Bella tersadar dari mimpi buruknya. “Baiklah, tidak apa-apa kalau memang kita harus membicarakan ini dengan keluargamu. Keluargamu juga berhak tahu keputusanku.” “Keputusan kita!” potong Hector. *** Hector dan Bella menghadap Raja Henry, Ratu Tyara, dan juga Ibu Suri. Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga. Ibu Suri dan Ratu Tyara tampak sangat bersedih melihat kedatangan Bella. Ratu Tyara yang tampak sangat emosional, Sang Ratu langsung berjalan mendekati Bella dan memeluknya. “Maafkan kami, Sayang! Kami berjanji, kamu akan tetap menjadi Ratu mendampingi Hector!” Bella hanya berdiri mematung tanpa ekspresi. Saat Ratu melepaskan pelukannya, Bella berusaha tersenyum, senyumnya sangat pucat. Bella tetap berusaha tegar dan segera duduk setelah dipersilakan. “Bella, kamu pasti sudah mendengar kabar mengejutkan ini.” Ibu Suri berusaha membuka pembicaraan dengan Bella. “Iya, Ibu Suri. Saya sudah mendengarnya.” Suara Bella sedikit bergetar. “Kami semua bersedih. Kami tidak bisa berkata-kata lagi selain… tetaplah bersama Hector!” “Tapi, Ibu Suri…” Ibu Suri segera memotong kalimat Bella, sebelum Bella mengucapkan kalimat berikutnya. “Hector memang harus menikahi Emily, supaya anak itu mendapat pengakuan garis keturunan dari Hector. Tapi kami masih berharap, tes DNA yang akan dilakukan pada anak dalam kandungan Emily tidak menunjukkan bahwa anak itu adalah anak Hector,” jelas Ibu Suri. Hector menundukkan kepalanya. “Bagaimana, Belle? Apakah kamu tetap bersedia menikah dengan Hector?” tanya Raja Henry secara langsung kepada Bella. “Tapi… bagaimana kalau tes DNA itu menunjukkan bahwa anak dalam kandungan Emily memang benar putra Pangeran Hector, Yang Mulia?” “Hector akan menikah dengan Emily, setelah anak itu lahir, Hector akan menceraikan Emily. Bukan begitu, Hector?” tanya Sang Raja. “Benar, Pa! Itu adalah satu-satunya hal yang akan aku lakukan. Maafkan aku karena aku telah mencoreng nama keluarga dengan peristiwa ini.” Wajah Hector penuh dengan rasa penyesalan “Saya… saya bersedia menikah dengan Hector kalau memang hasil tes DNA itu negatif,” ucap Bella dengan sangat tenang. “Artinya, kalau hasil tes DNA itu positif…?” tanya Ibu Suri Anne. “Mohon maafkan saya, Ibu Suri. Maafkan saya Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu, kalau hasil tes DNA itu positif, saya tidak bisa menikah dengan Pangeran Hector, walaupun saya sangat menginginkannya.” Semilir angin senja meniupkan rambut Bella. Hector dan Bella berdiri di antara pilar-pilar raksasa di beranda belakang istana. “Aku akan mengejarmu!” Bella tersenyum, “Aku sedang berada di sini dan tidak kemana-mana, Pangeran. Kenapa harus dikejar?” “Di saat seperti ini kamu masih bisa bercanda?!” Hector kesal. “Berharaplah tes DNA itu negatif, Pangeran. Kalau itu terjadi, aku akan tetap menunggumu.” Hector membuang pandangannya ke taman belakang istana. Bella tahu, itu tak mungkin terjadi… *** Pertunangan Bella dan Hector otomatis dibatalkan karena Bella tidak bisa dipaksa, Bella juga tidak gila kedudukan dan kekuasaan. Bila saat itu Bella mengatakan pada Hector bahwa dia mengejar Hector karena Hector adalah calon Raja negeri ini, sesungguhnya itu tidak benar. Bella menyukai Hector pada pandangan pertama saat Bella berkunjung ke istana. Sejak saat itu Bella menyadari bahwa Hector adalah cinta pertamanya. Bella kembali disibukkan dengan pekerjaannya sebagai super model, bahkan Bella menerima hampir semua pekerjaan yang ditawarkan padanya di akhir tahun dan di awal tahun. Semua itu dilakukan Bella agar Bella bisa melupakan semua yang terjadi. *** Senyum lebar menghiasi bibir merah Emily saat menunjukkan hasil tes DNA itu kepada Hector dan keluarga besar Raja Henry. “Ini anakmu, Hector…” Emily tersenyum lebar. Hector memandang secarik kertas di tangannya dengan wajah tanpa ekspresi kegembiraan sedikit pun. Hector menyerahkan hasil tes DNA itu kepada Raja Henry. Kedua orang tua Emily juga sangat bahagia seperti Emily. “Baiklah, hari ini aku memutuskan bahwa putraku, Pangeran Hector Josh Michael akan segera menikahi Emily secara sipil setelah Emily bercerai dengan suaminya. Kedudukan putra mahkota, hari ini juga aku serahkan pada Pangeran David Josh Michael!” ucap Raja Henry tak terbantahkan. “Secara sipil?” gumam Elisa. “Diamlah, Elisa!” Antony memperingatkan istrinya. “Bagaimana, Antony?” tanya Raja Henry. “Kami berharap tidak hanya secara sipil saja, Yang Mulia!” jawab Antony. “Maaf, tapi karena Emily sudah pernah bersuami maka aturan untuk menikah secara sipil tidak bisa ditawar lagi!” tegas Raja Henry. Kedua orang tua Emily saling berpandangan. “Ah! Baiklah, Yang Mulia.” Akhirnya, kedua orang tua Emily terpaksa menyetujui titah Sang Raja. *** Berita pernikahan Emily dan Hector sengaja dihembuskan dengan kencang oleh keluarga Emily. Pada akhirnya, berita pernikahan ini tidak akan bisa ditutupi untuk selamanya. Keluarga besar Raja Henry sangat terpukul dengan peristiwa ini, namun mereka juga tidak bisa menyalahkan Hector. Nasi telah menjadi bubur, Hector akhirnya akan menikah dengan Emily akibat perbuatannya sendiri. Emily sangat bahagia menyambut pernikahannya dengan Hector setelah Emily ditetapkan resmi bercerai dengan Petter. Emily mempersiapkan semuanya bak seorang putri yang akan menikahi Sang Pangeran. Hector sama sekali tidak pernah ikut serta dalam semua persiapan pernikahannya, semua telah disiapkan oleh Emily dan keluarganya. Raja Henry menghendaki pernikahan itu dilakukan secara tertutup di sebuah kastil bertembok tinggi. Pernikahan berlangsung dengan sederhana walaupun gaun yang dikenakan Emily sangat mewah. Raja dan keluarganya memakai pakaian serba putih sederhana, menandakan bahwa mereka tidak menyambut pernikahan ini dengan sukacita. Emily dan Hector menandatangani berkas-berkas pernikahan di depan seorang pejabat dari catatan sipil. Kini mereka sudah resmi menikah secara sipil. Emily dan Hector kembali ke istana. Kini Emily tinggal di apartemen Hector di istana St. Michael. Emily sangat bahagia. Dia telah mempersiapkan malam pertamanya dengan Hector. Saat Emily sedang sibuk di kamar, Hector melakukan sambungan telepon. “Sudah kamu siapkan, Lui?” [Sudah, Hector! Kamu benar-benar sudah gila!] “Ya, jangan hiraukan aku! Aku sangat tergila-gila pada adikmu!” Hector mendengar suara Luigi sedang mendengkus kesal. [Keluarlah! Aku akan membantumu membuat Emily menderita!] Hector tertawa, “Paling tidak kata-katamu ini cukup membuatku senang, Lui! Hector bersiap-siap keluar dari apartemennya tepat saat Emily muncul dari pintu kamar mereka. “Hector! Kamu mau ke mana?!” Emily berlari mencegah Hector pergi. “Aku ada janji dengan seseorang!” “Aku ikut!” Emily memaksa. “Kamu harus beristirahat, supaya anak kita lahir dengan selamat!” Hector menghempaskan tangan Emily yang sedang menggenggam tangannya. “HECTOR!!!” Emily berteriak putus asa. *** Di depan pintu utama istana, Luigi sudah menunggu Hector di dalam mobil. “Cepatlah, Hector!” teriak Luigi. “Iya! Aku sudah berlari menuju kemari!” protes Hector. Luigi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Membuat Emily menderita, hmm?” Hector tertawa. “Berikutnya kamu yang akan kubuat menderita!” ancam Luigi. Hector hanya tersenyum mendengar ancaman sahabatnya, yang merangkap sebagai pengawal pribadinya, sekaligus berperan sebagai kakak kandung Bella ini. Mereka berdua sudah tiba di bandara internasional Querencia, kemudian berjalan cepat menuju ke dalam jet kerajaan yang sudah disiapkan. Hector menghela napas lega saat dia sudah berhasil duduk di dalam pesawat. *** Bella dan Joe tampak berjalan beriringan masuk ke gedung apartemen mewah tempat tinggal Bella. “Terima kasih, Joe!” “Jangan ragu-ragu kalau kamu membutuhkanku. Aku akan selalu ada untukmu, Belle.” “Maafkan aku, Joe. Kamu harus melihatku seperti ini.” Bella menundukkan kepalanya. Beberapa hari ini media Querencia memberitakan persiapan pernikahan Hector dan Emily. Bella sangat sedih dibuatnya, kemudian Joe datang tepat waktu disaat Bella membutuhkan teman berbagi rasa. “Tidak apa-apa, Belle. Kamu tetap cantik di mataku.” Joe mengecup kening Bella. Bella tidak menolaknya. “Selamat malam, Joe!” “Sampai ketemu seminggu lagi setelah aku pulang dari pertandinganku… Tunggulah aku!” Bella tersenyum. Joe meninggalkan apartemen Bella dengan berbunga-bunga. Bella menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk di kamarnya. Bella sedikit pening karena dia minum terlalu banyak wine mala mini. Bella tertidur pulas. *** Bella bangun keesokan paginya dan merasa bingung karena selimut telah menutupi tubuhnya. Bella terperanjat saat menyadari ada seorang pria tidur di sofa kamarnya. Bella spontan berteriak, “TOLONG!! TOLONG!!!” Bella berlari keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu apartemennya. Bella kembali dibuat terkejut saat seseorang menangkap tubuhnya. “Selamat pagi, Belle!” Bella mengerjap beberapa kali, “HEC-HECTOR??” “Apa kabar, Belle?” “Apa? Hah?? Kenapa kamu ada di sini? Bagaimana kamu bisa masuk??” Bella berusaha melepaskan pelukan Hector yang memerangkap tubuhnya. “Dia bersamaku, Belle!” Bella spontan menoleh, hampir saja Bella melupakan pria satunya lagi yang tidur di sofa kamarnya. “LUI??” Bella cemberut dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Apa yang kalian lakukan! Dasar bodoh!” “Aku hanya membantu temanku ini masuk ke apartemenmu, karena hanya aku yang punya kunci pintu apartemenmu!” “Lui! Kamu memang kakak yang tidak bertanggung jawab! Bagaimana bisa kamu mengajak Hector ke sini padahal dia baru saja menikah!” “Aku menyelamatkannya!” Luigi melotot. Bella menghembuskan napasnya dengan kesal. “Aku sudah mengatakan padamu, Belle. Kalau aku menikah dengan Emily, aku akan berselingkuh denganmu!” “Hahh? Ya ampun, Hector!” Bella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hector mendekati Bella dan duduk di sampingnya. “Ehmm…” Luigi berdehem, “sepertinya aku harus membeli kopi di luar. Aku pergi dulu!” Luigi menyadari bahwa kehadirannya bisa mengganggu suasana romantic yang mungkin akan segera terjadi. Luigi mengambil mantelnya lalu melangkah keluar dari apartemen Bella. Setelah Luigi pergi…. “Belle, aku sangat merindukanmu…” Hector membelai rambut Bella. “Pangeran, ini sudah tidak benar! Aku tidak mau dianggap sebagai perebut suami orang!” protes Bella. Hector meraih tangan Bella dan mencium punggung tangan Bella. “Lucu bukan? Dulu aku membencimu karena mengira kamu bertekad memisahkanku dari Emily dan sekarang aku malah berselingkuh dengan orang yang berniat memisahkanku dari Emily…” Bella memejamkan matanya. Ada rasa bahagia saat menyadari Hector berada di sini untuknya, bahkan sehari sesudah hari pernikahan Hector dengan Emily. Bella membuka matanya, di hadapannya kini ada pria yang sangat dicintainya dan sangat diimpikannya sejak kecil. “Aku harus bagaimana??” gumam Bella dalam hati. Hector meraih tangan Bella, dalam hitungan detik Hector memasangkan sebuah benda di jari manis Bella. “Belle… maukah kamu menerimaku sebagai calon suamimu?” “A-APPAAA??” Bella melihat sebuah cincin yang sangat indah kini sudah terpasang di jari manisnya. “Terimalah aku, menikahlah denganku!” Hector berjongkok di hadapan Bella, seperti seorang pangeran di negeri dongeng yang sedang melamar gadis pujaannya. “Hector! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sedang mabuk atau sedang tidak waras??” Bella mengerutkan keningnya. “Aku sadar dan aku waras, Belle!” Bella menghela napasnya lalu memejamkan matanya. “Calon suami apa maksudmu??” Bella melotot. “Ayo kita menikah! Sekarang!” “Hector, kamu sudah gila!” Bella terbelalak dibuatnya. “Iya, Belle! Aku tergila-gila padamu!” tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN