Suasana istana menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini terasa sangat hangat karena ada kegembiraan yang menyelimuti seluruh anggota keluarga kerajaan. Seperti sore ini, semua berkumpul sebelum makan malam. Menikmati cokelat panas di depan perapian. Semua lengkap berkumpul, kecuali Putri Claire yang baru saja melahirkan putra pertamanya.
Hector duduk di samping Bella, kini Hector tidak canggung lagi memeluk dan mencium Bella di depan keluarganya. Semua tampak senang dengan hubungan Hector dan Bella. Hector merasakan kedamaian hati saat menjalin hubungan dengan Bella. Di mata Hector, Bella adalah wanita yang sangat sempurna. Bella sangat cantik dan yang paling penting adalah Bella dicintai oleh seluruh anggota keluarganya.
“Hector dan Bella… aku senang sekali melihat kalian berdua…” ucap Ibu Suri Anne.
“Aku juga senang melihat kalian semua tersenyum,” balas Hector.
“Kalian berdua mengingatkanku dua puluh lima tahun yang lalu saat aku sedang memandang Henry dan Tyara di ruangan ini sebelum melaksanakan pertunangan. Kalian berdua mirip Raja dan Ratu saat masih muda…” kenang Ibu Suri Anne.
Hector dan Bella saling berpandangan. Bella memang sangat cantik dan lembut seperti Ratu Tyara, oleh karena itulah Sang Ratu sangat menginginkan Bella menjadi calon Ratu berikutnya.
“Ibunda benar… mereka berdua memang sangat mirip dengan kami berdua, bukan?” ucap Raja Henry sambil tersenyum ke arah Ratu Tyara.
Raja Henry memeluk Sang Ratu mengenang masa-masa pacaran mereka yang sangat indah (kisah cinta Henry dan Tyara dapat dibaca di cerita yang berjudul Princess Tyara).
Hector dan Bella tersenyum, Bella menyandarkan kepalanya di bahu Hector. Suasana sore ini sangat hangat dan penuh cinta.
“Wah… wah… Kita berdua cukup memandang saja ya, Edgar!” celetuk Pangeran David.
“Eitss… sebentar lagi aku juga akan memperkenalkan pacarku pada Mama, Papa, dan Oma! Sepertinya hanya kamu yang cukup memandang saja, David!” ejek Edgar.
“Tidak masalah… nanti aku tinggal memilih salah satu penggemarku yang paling cantik tidak perlu repot-repot mencari! Aku akan memilih yang secantik Bella, bukan begitu Hector?” goda David.
“Hei! Ini calon kakak iparmu! Jangan main mata dengannya!” ancam Hector dengan serius.
Semua tertawa melihat Hector yang kini sudah mulai posesif pada Bella. Bella tersipu malu dibuatnya.
“Kalau kamu sampai meninggalkannya demi wanita lain, aku akan mengejar Bella!” ucap David bersungguh-sungguh.
“Lagi pula siapa yang akan meninggalkan Bella? Jangan bermimpi, David!" Hector mendengkus kesal.
Hector mencium kening Bella. Hector tahu, David bukannya menginginkan Bella tapi David tidak suka bila Hector berhubungan dengan Emily karena posisi putra mahkota akan diserahkan kepadanya. David cenderung ingin hidup bebas, tidak terikat aturan-aturan ketat istana.
“David dan Edgar, kalian bisa mencontoh Papa kalian dan juga Hector kakak kalian. Mereka sudah memilih wanita-wanita yang hebat! Jangan sampai kalian salah pilih,” sindir Ibu Suri Anne sambil melirik ke arah Hector.
“Iya, Oma. Kami tahu!” jawab Edgar menahan tawa saat Ibu Suri Anne melirik Hector.
“Lalu siapa tadi yang kamu bilang sebagai pacarmu, Edgar?” selidik Ibu Suri Anne.
Edgar menggaruk-garuk kepalanya, sambil cengar-cengir tidak mau menyebutkan nama pacarnya.
“Ehem,, Jangan buru-buru, Oma! Pasti akan aku perkenalkan pada Oma! Tapi, biarkan dia mempersiapkan diri dulu!” jawab Edgar.
“Pilihanmu aku harap tidak jauh berbeda dari pilihan Hector saat ini!” Ibu Suri mengingatkan Edgar.
“Iya, Oma… jangan terlalu khawatir!” Pangeran Edgar menenangkan hati Ibu Suri.
(Kisah cinta Pangeran Edgar dapat dibaca di cerita yang berjudul Pretty Maid for The Prince)
Raja Henry dan Ratu Tyara tersenyum melihat putra-putranya yang sudah beranjak dewasa dan mulai memilih pasangannya masing-masing. Walaupun mereka menjodohkan Hector, namun mereka bahagia karena akhirnya Hector bisa mulai mencintai Bella.
***
Seorang wanita muda yang cukup misterius tampak memasuki Rumah Sakit Saint Marry. Wanita itu memakai pakaian serba hitam, kaca mata hitam, dan scarf untuk menutupi wajahnya. Wanita ini sepertinya tidak ingin dikenali oleh orang-orang di sekitarnya. Dengan langkah secepat kilat, wanita itu masuk ke dalam lift dan langsung menuju ke lantai 9.
Setelah melakukan konfirmasi kepada petugas di ruangan itu, wanita berbaju serba hitam langsung diminta masuk ke dalam ruang periksa.
“Bagaimana hasilnya, Dokter?” tanya wanita misterius itu.
“Selamat, Nyonya! Anda saat ini sedang mengandung, usia kandungan Anda saat ini sekitar lima minggu!”
Wanita itu tersenyum puas, “Terima kasih, Dokter! Saya membutuhkan surat keterangan tentang usia kandungan saya!”
“Baik, Nyonya! Akan saya buatkan!” jawab Dokter.
Wanita itu keluar dari Rumah Sakit Saint Marry dengan penuh percaya diri. Senyum bahagia mengembang di bibirnya. Wanita itu melajukan mobilnya menuju ke luar kota. Dia akan menemui seorang pria yang saat ini masih menjadi suaminya.
“Lima minggu?” tanya Petter.
Petter tampak melihat kalender duduk di meja kerjanya.
“Iya! Ini aku bawakan salinan surat keterangan dokter kandunganku!”
Emily mengambil salinan surat keterangan dari dokter kandungan dan memberikannya kepada Petter. Petter membacanya dengan cermat.
Peter tertawa, “Jadi? Ini anak siapa??”
“Aku rasa lima minggu yang lalu kita tidak melakukan apa-apa,” jawab Emily dengan santai.
“Aku lupa, aku tidak yakin!”
“Tentu saja ini anak Hector!” jelas Emily.
“Sejak dulu aku sudah memintamu untuk bercerai, Em. Tapi kamu menolaknya! Kalau kamu bisa membuktikan ini bukan anakku, aku akan menceraikanmu. Tapi kalau ini anakku, aku tidak rela dia kamu pakai untuk membodohi Hector! Walaupun nantinya aku akan tetap menceraikanmu!”
“Ingat-ingatlah dulu! Lima minggu yang lalu apakah kita melakukannya?!” bentak Emily.
Petter yang dibentak langsung mendekati Emily, “Jangan membentakku!”
Petter mencengkeram dagu Emily lalu mencium Emily dengan kasar. Emily langsung membalas ciuman Petter dengan sangat panas. Mereka berdua kembali melakukannya di ruang kerja Petter. Setiap kali melihat Emily marah, Petter tidak bisa menahan hasratnya pada Emily. Emily menyukai kekasaran Petter, Emily sangat puas saat melakukannya dengan kasar. Hal itulah yang membuat Emily tidak bisa lepas dari Petter karena Emily tidak bisa mendapatkan kepuasan dengan cara itu dari Hector. Akhirnya, Emily bermalam di rumah Petter. Mereka berdua menyimpulkan sepertinya itu bukan anak Petter. Emily meminta Petter untuk menulis sebuah surat bermaterai yang menerangkan bahwa lima minggu yang lalu Petter dan Emily tidak bercinta. Dua dokumen penting telah berada di tangan Emily saat ini.
***
Emily dan kedua orang tuanya sudah berada di ruang tamu istana saat ini. Hector berjalan dengan cepat menuju ke ruang tamu. Jantungnya dipacu dengan kecepatan maksimal saat diberi tahu oleh pelayan bahwa Emily dan kedua orang tuanya sedang berada di ruang tamu bersama dengan Raja Henry, Ratu Tyara, dan Ibu Suri Anne.
Hector membuka pintu ruang tamu dengan cukup kasar, membuat mereka yang sedang berada di ruang tamu memandang Hector. Suasana di ruang tamu sangat hening.
Ratu Tyara dan Ibu Suri Anne sedang menangis terisak sambil berpegangan tangan.
“Ada apa ini?!” tanya Hector pucat.
“Duduklah, Hector!” perintah Raja Henry.
Raja Henry terlihat cukup tenang dibanding Ratu dan Ibu Suri. Hector mengambil duduk di sebelah Sang Raja.
“Hector, kedatangan Emily dan keluarganya kemari adalah untuk memberitahukan kabar bahwa Emily sedang mengandung.”
“A-APAA??” wajah Hector semakin pucat, bibirnya bergetar.
“Usia kandunganku lima minggu, Hector… ingatkah kamu lima minggu yang lalu sebelum kedatangan Bella?”
“CUKUP, EM! AKU TIDAK MAU MEMBAHAS ITU DI DEPAN KELUARGAKU!”
Hector sangat marah dan malu. Tapi bagaimanapun juga, Hector menyadari kejadian lima minggu yang lalu memang sangat nyata dan masih terekam di dalam ingatannya.
“Saya harap, keluarga Raja tetap punya harga diri di depan rakyatnya!” ancam Antony.
“Kamu tidak perlu memperingatkanku, Antony! Setelah tes DNA menyatakan bahwa Hector adalah ayah dari anak yang dikandung Emily, kami akan menjamin anak itu sebagai anggota keluarga kerajaan!”
“Kamu harus menikahi Emily, Pangeran Hector! Anak ini harus memiliki ayah saat lahir!” ucap Elisa.
“Menikah itu sudah pasti, supaya anak itu diakui! Tapi ingat! Setelah hasil DNA menyatakan bahwa Hector adalah ayah dari bayi yang dikandung putrimu!” balas Ratu Tyara tak mau kalah.
Hector meremas rambutnya, Hector merasa sangat bingung. Berita kehamilan Emily ini tentu saja akan berpengaruh pada hubungannya dengan Bella. Tiba-tiba wajah Bella terlintas dalam pikiran Hector.
“Bila benar dia adalah putra dari Pangeran Hector, saya harap Emily, putri saya, akan mendapatkan haknya sebagai ibu dari penerus tahta kerajaan ini!” Elisa berkata dengan bangganya.
“CUKUP! Bila Hector menikah dengan Emily, maka posisi putra mahkota tidak lagi dipegang oleh Hector! Apakah kamu tidak tahu tentang hal itu?”
Ibu Suri Anne bergetar penuh emosi saat mengatakan hal itu pada Elisa.
“Bagaimana bisa?” gumam Elisa pada Emily.
“Calon penerus tahta di kerajaanku hanya akan diberikan kepada Pangeran, putra pertama kami yang tidak menikah dengan seorang wanita yang pernah bersuami. Bila Hector menikah dengan putrimu maka Pangeran David yang akan naik tahta kelak!” jelas Ratu Tyara.
“Aku rasa semua yang dikatakan oleh Ratu Tyara sudah cukup jelas. Jadi, semua keturunan Hector dengan Emily tidak akan menjadi calon penerus tahta. Maaf bila itu mengecewakan kalian!”
Raja Henry melakukan skak mat pada keluarga Emily!
“Satu lagi! calon ratu di negeri ini adalah tangan kanan Tuhan dalam membantu Raja memerintah negeri ini. Maka kami juga akan memilih calon ratu terbaik!” ucap Ratu Tyara menahan sesak dan sakit di dalam hatinya.
“Bisakah aku bicara berdua saja dengan Emily?” pinta Hector yang masih menundukkan kepala.
“Baiklah! Aku rasa pembicaraan ini sudah selesai!”
Raja Henry berjalan ke arah Ibu Suri Anne. Raja dan Ratu memapah Ibu Suri Anne keluar dari ruangan.
“Henry, putramu benar-benar membuatku cepat mati…” bisik Ibu Suri Anne.
“Kita bicarakan di dalam apartemen kita, Ibunda… jangan dibahas di sini!” Henry memperingatkan ibunya.
***
Setelah semua orang meninggalkan ruangan
Emily berjalan medekati Hector yang masih menundukkan kepala sambil meremas-remas rambutnya. Mata Hector merah menahan tangis.
“Apakah kamu tidak senang mendengar berita bahagia ini, Hector? Ini putramu…”
“Aku akan tetap menunggu hasil tes DNA? Kapan kamu akan tes DNA?” tanya Hector.
Emily mengeluarkan salinan surat yang dibuat oleh dokter yang menjelaskan usia kandungan Emily dan kapan Emily bisa melakukan tes DNA.
“Saat usia kandunganku 12 minggu. Itu yang paling aman dan paling cepat,” jelas Emily.
“Tujuh minggu lagi…” gumam Hector.
“Aku harap selama menunggu tes DNA, jangan meragukannya, Hector! Kasihan putramu… walaupun masih dalam kandungan, sebenarnya dia butuh kasih sayang dari papanya…” Emily terisak.
“Jangan membuatku bingung, Em!” Hector mengacak rambutnya.
“Kamu bingung karena wanita itu??” teriak Emily.
“Dia calon istriku!”
“Tidak lagi setelah aku mengandung anakmu!” tegas Emily.
***
Hector melihat Bella dari kejauhan, Bella sedang duduk di gazebo taman seorang diri. Hati Hector menangis melihat Bella yang sangat cantik kini terlihat sangat sedih, Bella pasti sudah mendengar berita ini.
“Belle…”
Hector menyapa Bella, lalu duduk di samping Bella. Bella menghapus air matanya….
“Halo, Pangeran…”
Bella masih mencoba tersenyum manis pada Hector. Hector membelai rambut Bella. Bella melihat mata Hector sangat merah menahan air mata.
“Hari ini kita akan memilih cincin kan, Belle?”
“Oya?”
Bella berpura-pura lupa, membuat Hector menyadari Bella sedang bersiap-siap menjauh.
“Aku tahu kamu tidak akan pergi denganku setelah mendengar berita ini...”
Hector mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
“Maka aku sudah membawakan cincin untukmu, simpanlah ini aku tidak akan mengingkari janjiku. Aku akan tetap bertunangan denganmu setelah anak dalam kandungan Emily lahir.”
Hector menggenggam tangan Bella… Bella menitikkan air mata namun dengan cepat dihapusnya.
“Tidak Hector itu tidak benar! Kamu harus tetap bertanggung jawab pada anakmu!” jawab Bella berkaca-kaca sambil memandang Hector, “lupakan aku dan rencana kita… anggap semua itu tidak pernah terjadi. Emily akan tetap menjadi kekasihmu yang selalu kamu impikan, Pangeran….”
Hector tak dapat menahan lagi air matanya, Hector berusaha mendongakkan kepala supaya air matanya tidak menetes di pipi.
“Tidak, Belle! Aku akan tetap bertanggung jawab tapi aku tidak ingin melepaskanmu Belle…”
“Maafkan aku, Pangeran… Aku rasa, aku tidak sanggup…”
Bella menyodorkan kembali kotak kecil yang digenggamkan Hector di tangannya.
"Lupakan aku, hubungan kita belum terlalu jauh, Pangeran. Kamu pasti bisa..." ucap Bella menahan kesedihan.
"Belle..."
tbc