12. Pangeran Impian

2030 Kata
Pagi hari di kediaman rumah Keluarga Emily Elisa Adams, ibu Emily, sedang dalam suasana hati yang kurang baik setelah membaca surat kabar pagi ini. Ditambah lagi dia sangat kesal melihat Emily, putrinya, yang hanya bermalas-malasan di kamar sambil merokok. Emily tidak memperhatikan penampilannya yang semakin berantakan, tidak mandi, tidak berdandan, kerjaannya hanya tidur-tiduran, dan merokok! “Kamarmu gelap sekali! Pengap dan bau asap rokok! Apa saja yang kamu lakukan? Bahkan tirai kamarmu saja tidak kamu buka, Em! Bagaimana kamu bisa punya semangat menjalani hari-harimu!” teriak Elisa pada Emily. Elisa dengan kasar membuka tirai kamar Emily. Cahaya matahari yang masuk membuat Emily menyipitkan matanya. “Kenapa marah-marah sih, Ma! Seharusnya akulah yang marah karena semangatku sudah hilang sejak kalian memaksaku berpisah dari Petter!” Emily membalas berteriak. “Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari Petter, tapi kamu malah menyia-nyiakan kesempatan itu! Sekarang dua-duanya malah tidak kamu dapatkan, bukan?!” “Kalian membuatku tertekan! Kalian yang meracuniku untuk menjalin hubungan dengan Hector!” teriak Emily. “Pangeran Hector mencintaimu, tapi kamu selalu saja kembali pada Petter! Sadarlah, Em! Kamu bisa menjadi seorang Ratu bila bersama Pangeran Hector!” Elisa geram. “Mama berkata seperti itu seakan menjadi Ratu di Querencia itu adalah hal yang mudah!” jawab Emily mencibir ibunya. “Lihatlah ibunya Pangeran Hector! Dia sebenarnya hanya wanita biasa, bukan bangsawan! Tapi dia bisa menjadi Ratu di negeri ini!” Elisa menceramahi putrinya. “Ya! Semua itu karena Raja Henry sangat mencintainya. Saat mereka berpacaran, Ratu Tyara saat itu adalah seorang gadis yang belum bersuami, Ma! Sadarlah akan hal itu! Anakmu ini sudah bersuami dan punya anak! Bagaimana bisa keluarga Hector menerimaku sebagai calon ratu??” Emily menyadarkan ibunya. Emily kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga kepala. “EMILY!” Elisa sangat kesal karena Emily mengabaikannya. “Apa lagi, Ma?!” jawab Emily kesal. “Jangan bermalas-malasan! Lihatlah ini! Kamu sudah kalah telak!” Elisa melempar surat kabar yang membuatnya marah hari ini ke arah Emily. Headline berita hari ini menyebutkan bahwa Bella de Lorraine sang super model cantik berdarah Italia itu sedang diperebutkan oleh dua pria yang paling tampan saat ini. “Lihatlah wanita itu! Dia dikejar-kejar oleh dua orang pria! Sedangkan kamu dicampakkan oleh dua orang pria!” “Mama berisik sekali, ya?! Membuatku tidak bisa berpikir saja!” teriak Emily kesal. Emily memandang surat kabar yang dilempar oleh Elisa di tempat tidurnya. Foto di sebelah kiri, Bella keluar dari hotel dipeluk oleh Joe Anderson sang bintang sepak bola yang sedang naik daun. Sedangkan foto di sebelah kanan, Bella keluar dari hotel dipeluk oleh Hector Josh Michael, Putra Mahkota Querencia. Tanpa membaca isi beritanya, Emily meremas surat kabar itu, dan melemparnya ke lantai. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?!” tantang Elisa. “Aku akan segera memikirkannya, Ma!” balas Emily. Elisa kembali mengingatkan, “Jangan terlalu lama, wanita itu sudah selangkah lebih maju dari pada kamu!” “Iya!!” teriak Emily kesal, “keluarlah dari kamarku, Ma! Aku ingin sendiri!” “Dasar tukang tidur! Gadis pemalas! Kamu ini selalu merepotkan orang tuamu saja!” Emily melotot mendengar omelan ibunya, sedangkan Elisa pergi meninggalkan kamar Emily dengan kesal. Elisa membanting pintu kamar Emily dengan sangat keras, membuat Emily semakin emosi. Emily meremas rambutnya lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sebenarnya Emily berniat melupakan kejadian bersama Hector kemarin, tapi foto-foto yang muncul di surat kabar hari ini membuatnya merasa dicampakkan secara terang-terangan oleh Hector. Emily POV Hector, lihat saja pembalasanku! Kamu tidak boleh bersama Bella! Aku satu-satunya wanita yang boleh memilikimu! Dan kamu Bella, aku pastikan kamu akan merasakan penderitaan dan penolakan yang aku rasakan saat ini! Semua kesedihan ini akan berbalik kepadamu, Belle! Aku bersumpah! Bersiaplah merasakannya! *** Sesaat sebelum turun dari pesawat, Hector sempat mengecek ponselnya. Hector menghela napasnya. “Ada apa?” tanya Bella yang sedang bersiap turun. “Ibu Suri ingin menemui kita berdua setelah makan siang… pasti Ibu Suri dan Ratu sudah membaca surat kabar hari ini.” “Apakah itu berita tentangku dan Joe?” selidik Bella. Hector meraih tangan Bella, “Jangan terlalu khawatir, aku akan menjelaskan kepada keluargaku…” “Baiklah, Pangeran…” Hector tersenyum geli. “Kenapa??” tanya Bella. “Jangan panggil aku dengan sebutan Pangeran bila tidak sedang dalam pertemuan formal, Belle…” “Kenapa?? Aku suka menyebutmu dengan sebutan Pangeran… karena kamu memang Pangeran tampan impianku…” “Belle…” Hector menghela napasnya. “Saat aku masih tinggal di Italia, aku senang sekali bila televisi sedang meliput berita tentang keluargamu dan kerajaan Querencia. Aku senang karena bisa melihatmu di televisi,” kenang Bella. Hector tertawa, “Seistimewa itukah aku di matamu?” “Tentu saja! Bukan aku saja yang menganggapmu istimewa, pasti semua gadis seusiaku dan seusiamu di dunia ini menganggapmu istimewa… semua bermimpi ingin menjadi pasanganmu kelak saat kamu dewasa. Apakah kamu tidak menyadarinya?” Hector tertawa sambil meggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Belle…” “Hmmm… pasti kamu sedang sibuk memikirkan Emily saat itu, jadi tidak menyadari bahwa semua gadis mengagumimu!” “Ada David dan Edgar juga, kamu tidak mengaguminya?” tanya Hector. Bella menggelengkan kepalanya, “Tidak, karena aku tahu yang akan menjadi Putra Mahkota adalah Hector Josh Michael, jadi aku mengincarnya…” Bella mengedipkan matanya ke arah Hector. Hector tertawa mendengar penjelasan Bella. “Jadi, karena aku calon raja maka kamu mengincarku? Bagaimana kalau aku menyerahkan posisiku sebagai putra mahkota kepada David?” Bella memejamkan matanya. “Aku pernah mendengar kabar itu. Kamu rela memberikan posisimu kepada Pangeran David demi bisa bersama Emily. Apakah sekarang kamu juga akan tetap memberikannya pada Pangeran David supaya bisa bersama Emily, Pangeran??” Hector sadar Bella telah salah paham dengan ucapannya tadi. “Ehm, bukan begitu maksudku, Belle. Tentu saja aku tidak akan memberikannya kepada David karena sekarang pendampingku adalah seorang super model cantik dan bukan Emily.” Bella berbisik sangat dekat di telinga Hector, “Aku tahu kamu belum mencintaiku, Pangeran. Tapi lihat saja, aku akan membuatmu tergila-gila padaku….” “Oya? Bagaimana caranya?” “Caranya?? Begini….” Bella mencium bibir Hector dengan sangat berani. Hector terkejut, namun sesaat kemudian Hector sangat menikmatinya. Ada sensasi baru saat Hector berciuman dengan Bella. Bella sangat mengejutkan, kadang bisa menjadi seseorang yang sangat pemalu saat dicium, tapi kali ini ciuman Bella sangat berani. Bella juga terlihat sangat cantik dan menggoda dalam pelukannya, membuat Hector semakin berhasrat. Bella tersenyum saat mengakhiri ciumannya, “Kamu akan memintanya lagi dan lagi, Pangeran!” Hector tersenyum sambil memandang Bella yang sedang tersenyum manis menggoda ke arahnya. “Wanita ini sangat istimewa,” gumam Hector dalam hati. Saat Bella dan Hector keluar dari bandara, mereka berdua tidak menyangka bila mereka disambut oleh puluhan wartawan yang langsung mengambil gambar mereka saat mereka keluar dari bandara menuju ke mobil. Hector memeluk Bella dengan erat, seolah ingin segera membawa Bella berlari keluar dari kerumunan wartawan. Para pengawal Hector menjadi pagar betis dan memberikan jalan untuk Pangeran Hector dan Bella menuju ke mobil. *** Sesampainya di istana St. Michael Bella langsung menuju ke apartemen ibunya, sedangkan Hector menuju ke apartemen keluarga kerajaan. Hector sengaja sarapan pagi dan makan siang di kamar karena Hector tidak mau ditanya-tanya, Hector juga berencana menjelaskan semua pada keluarganya saat bersama dengan Bella siang nanti. Hector berjalan menuju ke ruang keluarga. Saat Hector masuk, di sana sudah ada Ibu Suri Anne, Ratu Tyara, dan seorang wanita cantik yang sedang menjadi pusat perhatiannya saat ini yaitu Bella. Bella duduk dengan sangat anggun. Hector tersenyum ke arah Bella, lalu duduk di sampingnya. “Baiklah, Oma. Apa yang ingin Oma bicarakan dengan kami?” tanya Hector. Ibu Suri Anne meletakkan sebuah surat kabar terbitan hari ini. Bella memandang foto dirinya terpampang di halaman utama bersama dengan Joe dan Hector. Bella menundukkan kepala. “Ke mana saja kamu, Hector? Sampai Bella pergi makan malam dengan laki-laki lain!” selidik Ibu Suri Anne. “Maafkan saya, Ibu Suri. Ini semua kesalahan saya…” jawab Bella. Hector memotong kalimat Bella, “Ini semua salahku, Oma.” “Jadi? Salah siapa ini sebenarnya?” tanya Ratu Tyara bingung. “Aku menemui Emily,” jelas Hector. Ratu Tyara dan Ibu Suri Anne tampaknya tidak terkejut. Hector langsung menebak bahwa Ratu dan Ibu Suri sudah mengetahui pertemuannya dengan Emily. “Kenapa kamu meninggalkan Bella dan menemui Emily, Hector??” tanya Sang Ratu. “Maafkan aku, Ma. Aku dan Bella sedikit berselisih paham,” jelas Hector. “Tentang pekerjaan Bella?” selidik Sang Ratu. “Maafkan saya, Yang Mulia. Saya mengajak Pangeran Hector untuk menemani saya bekerja, saya yang salah karena belum menjelaskan pekerjaan saya secara detil kepada Pangeran. Pangeran terkejut saat melihat saya berjalan di catwalk menggunakan lingerie,” Bella menundukkan kepalanya. “Lalu Hector marah padamu?” tanya Ratu Tyara. Bella memandang Hector, meminta Hector menjelaskan kepada mamanya. “Aku awalnya terkejut dengan pekerjaan Bella, Ma. Aku tidak menyangka begitu banyak lelaki yang memujanya. Aku marah karena semua lelaki di ruang pertunjukan itu memandang tubuh Bella,” jelas Hector, “lalu kami bertengkar dan Bella memintaku pulang ke Querencia.” “Lalu dengan alasan itu kamu menemui Emily?” tanya Ibu Suri Anne. “Iya…” jawab Hector penuh penyesalan. “Aku harap kamu tidak melakukan hal-hal yang akan mencoreng nama baik keluarga Josh Michael, Hector!” ancam Ibu Suri. “Aku langsung menyusul Bella ke New York keesokan harinya, Oma. Artinya, dalam pikiranku saat itu hanya ada Bella.” Bella ingin tersenyum, namun dia tidak berani dan terpaksa menahan senyumnya sambil menundukkan kepala. “Siapa pria itu, Belle?” tanya Ratu Tyara. “Dia Joe Anderson, Yang Mulia. Dia rekan kerja saya saat pemotretan di New York. Kami makan malam untuk merayakan suksesnya pekerjaan kami.” “Lalu aku membawa Bella pulang ke istana, Ma… Bukankah aku sudah melakukan hal yang benar?” tanya Hector. “Aku rasa kita biarkan saja berita ini, Ratu. Ada hal positif di balik berita ini, bukan? Paling tidak semua orang sekarang sudah tahu kalau Hector dan Bella adalah sepasang kekasih?” Ibu Suri tersenyum puas. Ratu Tyara menghela napasnya, “Baiklah, Ibunda. Aku akan melupakan kesalahan dan kebodohan putraku kali ini.” “Mama!” protes Hector. “Belle, kami berencana akan segera mengumumkan pertunanganmu dengan Hector di awal tahun baru nanti, supaya awal tahun yang baru juga akan mengawali lembaran baru untuk Hector,” jelas Ibu Suri. “Apakah kamu keberatan Hector?” tanya Sang Ratu. “Tidak, Ma… Aku rasa, aku sudah menetapkan pilihanku,” jawab Hector sambil melirik Bella. Mereka semua akhirnya lega dan bisa tersenyum kembali…. *** Di taman istana St. Michael Setelah berbincang dengan Ratu Tyara dan Ibu Suri Anne, Hector dan Bella memutuskan untuk bejalan-jalan di taman istana. Hector mengajak Bella duduk di salah satu gazebo taman. “Kamu gombal sekali, Hector…” Bella terkekeh. Hector tersenyum, “Memangnya apa yang aku lakukan sampai kamu menyebutku menggombal?” Bella mendekatkan wajahnya ke wajah Hector, “Dalam pikiranmu saat itu hanya ada aku??” Hector membingkai wajah Bella lalu mengecup bibir Bella dengan lembut, kecupan yang sudah mengandung benih-benih cinta. Bella tersenyum saat Hector mengakhiri ciuman mereka. “Siapa ya yang memberi tahu Ratu kalau kamu menemui Emily, Pangeran?” “Sudah pasti manajermu,” jawab Hector. “Jessy??” Bella terbelalak. “Tentu saja! Siapa lagi? Jangan lupa, Mamaku dan Jessy bersahabat!” “Ah! Kenapa aku bisa melupakanya!” Bella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. hening “Benarkah kamu mau bertunangan denganku, Pangeran?” tanya Bella sekali lagi. “Iya, Belle… Apakah kamu masih ragu?” “Hanya saja… rasanya seperti mimpi. Semudah itukah kamu meninggalkan Emily?” Bella memandang lekat wajah Hector. Hector menghela napasnya…. “Memang berat, tapi kamu adalah pilihan yang terbaik untukku dan keluargaku, Belle….” “Aku berjanji akan membuatmu mencintaiku!” “Sebaiknya begitu, karena aku hanya menginginkan pernikahan sekali seumur hidupku,” jawab Hector. “Apakah suatu saat kamu akan menyesal karena telah memilihku dan bukan memilih Emily?” selidik Bella. “Aku rasa tidak, Belle! Hubunganku dengan Emily terlalu rumit.” “Aku akan sangat sedih kalau akhirnya kamu menyesal dan memilih untuk kembali bersama Emily…” “Kalau aku terpaksa kembali bersama Emily, aku akan selingkuh denganmu…” Hector melirik Bella. Bella melotot, “Hector!!” tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN