11. Menjemput Impian

2110 Kata
Hector melajukan mobilnya di atas batas kecepatan. Dia bahkan sudah tidak peduli kalau nanti akan dihentikan oleh polisi dan ditilang karena melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Hector sudah menghubungi pengawalnya untuk menyiapkan jet kerajaan. Hector akan segera berangkat ke New York siang ini juga. Jarak tempuh dari rumah peristirahatan ke bandara cukup jauh kurang lebih 2 jam perjalanan biladitempuh dengan naik mobil, hal ini membuat Hector tak sabar untuk tiba lebih cepat di bandara. Hector berencana untuk sampai di New York sebelum Bella dan Joe makan malam romantis. Hector sangat terganggu dengan kabar bahwa Joe dan Bella akan makan malam romantis malam ini! Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang menegangkan selama kurang dari 2 jam, Hector sampai di bandara. Dengan langkah yang tegap dan cepat, Hector segera masuk ke dalam jet kerajaan yang sudah disiapkan. *** Sore harinya setelah pemotretan usai, Bella memilih langsung kembali ke kamar hotelnya. “Belle? Joe menanyakan lagi, apakah kamu mau makan malam dengannya?” tanya Jessy. Bella menghela napasnya, “Aku sudah membalas pesannya berkali-kali, Jess! Aku sudah mengatakan padanya kalau aku tidak mau keluar malam ini. Apakah dia belum menyerah juga? Katakan padanya aku ingin istirahat, Jess…” “Baiklah, akan kusampaikan padanya, Belle!” *** Setelah membersihkan diri, Bella menghempaskan tubuhnya ke kasur yang sangat empuk sambil memandang pemandangan di luar jendela kamarnya. Warna langit New York sore ini sudah semburat jingga, sebentar lagi pasti gelap akan menutupi bumi. Sepintas dalam benak Bella, dia sempat memikirkan sedang apa Hector bersama Emily sekarang. Bella meneteskan air mata, walaupun berprofesi sebagai super model tapi tetap saja dia adalah seorang wanita biasa yang akan menangis saat orang yang dia cintai sedang bersama dengan wanita lain. Drrrtt… drrrt… drrrttt... Bella melirik ponselnya yang bergetar di samping tempatnya berbaring. Joe menelepon. Dengan malas dan terpaksa, Bella mengangkat panggilan dari Joe. “Ya, Joe?” sapa Bella. [Belle, kamu belum menjawab pertanyaanku!] “Pertanyaan apa, Joe?” [Apakah kamu mau makan malam denganku malam ini?] “Bukankah Jessy sudah memberitahumu?” [Aku memaksamu kali ini!] “Joe!” suara Bella terdengar memelas. [Bukalah pintu kamarmu, aku sudah di depan kamarmu!] “Apa?? Joe! Sudah aku bilang aku mau beristirahat, Joe! Tolong mengertilah!" [Keluarlah dari kamarmu, Cantik! Aku sudah berada di depan pintu kamarmu!] Dengan malas Bella melangkahkan kakinya menuju ke pintu. Begitu pintu dibuka, Bella melihat buket bunga mawar merah yang super besar hingga menutupi wajah pengirimnya. Bella tak tahu siapa pria dihadapannya itu sampai si pria mengeluarkan suaranya. “Maukah kamu makan malam denganku, Belle?” Joe Anderson menampakkan wajahnya dari balik buket bunga mawar merah yang segar dan cantik itu. Bella tertawa melihat ulah Joe yang bersedia konyol dan gombal untuknya. Joe menyerahkan buket bunga raksasa itu kepada Bella. “Terima kasih, Joe!” “Baiklah! Terima kasih di terima, sekarang bersiaplah kita akan makan malam…” ucap Joe lembut. “Tapi, Joe!” “Aku tidak mau ditolak malam ini, Belle. Please?” Bella menghela napasnya, “Tunggulah sebentar, aku akan berganti pakaian.” “Baiklah, Cantik! Terima kasih ya!” Bella tersenyum lalu masuk ke dalam kamar untuk bersiap makan malam dengan Joe Anderson. *** Hector sudah mendarat di bandara internasional New York menjelang petang, menurut informasi dari orang kepercayaan Hector di New York, Bella menginap satu hotel dengan bintang sepak bola Joe Anderson di sebuah hotel bintang lima di New York. Hector langsung menuju ke hotel tempat Bella menginap. Setibanya di hotel, Hector langsung memesan kamar yang letaknya paling dekat dengan kamar Bella. Saat hendak menerima kunci kamarnya, Hector dikejutkan dengan suara riuh para wartawan yang tiba-tiba mengerumuni dua orang yang baru saja turun dari lift. Tampak seorang pria sedang memeluk wanita yang sangat cantik berbusana warna merah menyala dan segera membawanya keluar dari kerumunan. Hector tertegun, dalam sekejap dunianya seakan runtuh. Wanita cantik itu adalah Bella dan sang pria adalah Joe Anderson. “Ternyata Bella menerima ajakan malam dari pria itu,” gumam Hector. Dengan langkah cepat Hector mengejar Bella dan Joe, namun langkahnya terhalang oleh banyaknya wartawan yang juga sedang mengejar Bella dan Joe. *** “ARRRGHHH!!” Hector berteriak di dalam kamarnya. Kedatangan Hector ternyata sedikit terlambat! Hector POV Sial sekali! Aku datang terlambat. Seandainya Jessy mengirimkan pesan lebih pagi tentu aku tidak akan terlambat dan kecolongan seperti ini! Bagaimanapun Bella adalah calon tunanganku, aku akan membawanya pulang ke istana! Hector berulang kali mondar-mandir ke arah pintu kamarnya untuk melihat apakah Bella sudah pulang dari makan malamnya bersama Joe. Hector dibuat gemas karena hingga larut malam Bella tidak kunjung pulang. Tepat setelah Hector menengok keluar kamar, Hector mendengar suara Joe sedang tertawa. “Mereka sudah datang,” gumam Hector. Dari lubang pintu kamarnya, Hector melihat Joe berpamitan pada Bella dan hendak mencium Bella namun Bella menghindar. “Selamat malam, Joe! Aku harus segera beristirahat!” Bella mendorong tubuh Joe yang sudah sangat lekat dengan tubuh Bella karena berusaha mencium Bella. Joe tersenyum sambil menggaruk kepalanya. “Baiklah, Belle! Aku akan menunggumu sampai kamu siap!” “Siap? Siap apa maksudmu, Joe?” “Siap menerimaku sebagai kekasihmu…” bisik Joe. Dari lubang pintu kamarnya, Hector melihat pemandangan yang membuatnya cukup kesal. Joe berbisik cukup dekat ke wajah Bella. Hector masih bisa sedikit bersabar, Hector juga ingin melihat bagaimana reaksi Bella dengan perhatian dan rayuan yang dilakukan Joe. “Joe, aku menganggapmu sebagai teman baik. Tidak lebih dari itu…” jawab Bella. Joe tersenyum, “Semua akan lebih dari itu, Belle. Aku pastikan itu, Cantik!” “Baiklah, sekarang aku harus benar-benar istirahat, Joe!” “Baiklah. Sampai ketemu besok, Belle!” Bella mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya. Baru beberapa menit setelah Bella masuk ke dalam kamarnya, Bella kembali mendengar bel pintu kamarnya berbunyi. Ting… tong… ting… tong… Dengan kesal, Bella kembali ke arah pintu kamar lalu membukanya. CEKLEK! “Ada apa lagi, Joe?” Tiba-tiba Bella terbelalak, betapa terkejutnya Bella saat melihat sosok di hadapannya setelah pintu terbuka! “HECTOR??!” “Hai, Belle…” sapa Hector. “Kenapa kamu ada di sini?? Bukankah seharusnya kamu bersama Emily??” “Bersama siapa aku sekarang, bukan kamu dan Emily yang memutuskan!” jawab Hector. “Lalu? Buat apa kamu kemari?” Bella mengerutkan keningnya. “Aku menjemputmu. Pulanglah ke istana bersamaku, sebagai calon istriku….” “A- APA??” Bella terbelalak tak percaya dan hampir pingsan. Dunia Bella dan Hector seakan berhenti berputar saat ini. Mereka berdua berdiri di depan pintu kamar Bella dan saling berpandangan. “Aku ingin kamu pulang ke istana bersamaku malam ini, Belle…” ucap Hector serius. Bella mengerjapkan matanya. “Apakah kamu serius?” tanya Bella tidak percaya. “Apakah menurutmu aku main-main? Aku ada di sini dan memintamu pulang bersamaku. Aku harap kamu tidak meragukanku.” Bella memandang Hector, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri. “Apakah aku bermimpi?” Hector tersenyum, “Kita bicara di pesawat, bisakah kita berangkat sekarang?” “Baiklah! Ehm... tapi aku harus packing dulu, Pangeran!” “Tidak ada waktu! Bawalah barang-barangmu yang penting saja!” perintah Hector. “Apa??” “Aku tidak mau laki-laki itu kembali ke kamarmu lagi!” “Hah??” Bella sungguh tampak konyol di mata Hector malam ini. Kedatangan Hector kali ini sungguh membuat Bella kehilangan pesonanya sebagai super model. “Baiklah… bisa tolong hubungi Jessy pakai ponselku ini? Aku membutuhkannya untuk membereskan semua kekacauan yang kamu buat ini, Pangeran!” “Kekacuan yang kubuat?” gumam Hector. Hector menerima ponsel Bella untuk menghubungi Jessy. “Masuklah, Pangeran!” Bella berteriak dari dalam kamarnya. Saat Bella menyiapkan barang-barang penting yang akan dibawanya, Hector menghubungi Jessy, manajer Bella. Tak lama kemudian Jessy datang tergopoh-gopoh bersama beberapa asistennya. “Pangeran Hector! Terima kasih Anda sudah peduli pada Bella!” Jessy memeluk Hector. Hector tersenyum, “Terima kasih sudah membuka mataku, Jess!” “Anda memang sangat tampan seperti Raja Henry! Ckk… ckk… ckkk… Kenapa kalian berdua bisa sangat mirip?” Hector tertawa, “Sudah, sudah! Cepatlah bantu Bella, Jess!” Jessy dan para asistennya dengan cepat membereskan barang-barang Bella. “Terima kasih, Jess. Aku akan berangkat dengan Bella. Pengawalku yang akan membawa barang-barang Bella ini!” jelas Hector. “Baik, Pangeran!” jawab Jessy. “Terima kasih, Jess!” Bella memeluk Jessy. “Selamat, Cantik! Akhirnya dia menjemputmu, kan?” bisik Jessy. Bella tersenyum dengan sangat cantik, membuat Hector tak bisa mengalihkan pandangannya dari Bella. Masih dengan gaun yang sama saat pergi dengan Joe Anderson, kali ini Bella dipeluk erat oleh Hector keluar dari hotel. Beberapa wartawan yang masih berada di lobby hotel berlari-lari mengejar Bella dan Hector untuk mengabadikan momen langka hari ini. Dalam semalam, Bella de Lorraine keluar dari hotel bintang lima dipeluk oleh dua pria tampan yang berbeda yaitu Joe Anderson, sang bintang sepak bola terkenal dan Hector Josh Michael, Putra Mahkota Kerajaan Querencia. Tidak seperti saat keluar bersama Joe Anderson, kali ini ada aura bahagia di wajah Bella karena dipeluk oleh lelaki yang dicintainya. *** Di dalam jet kerajaan Hector dan Bella duduk berdampingan di dalam pesawat. Bella tampak tersenyum ceria, Bella sangat bahagia. Hector tersenyum melihat Bella. “Jadi?” tanya Bella. “Jadi apa?” “Apa yang membuatmu menjemputku ke New York?” “Sebenarnya sebelum kamu membuat keputusan untuk mempercepat kepergianmu ke New York, aku sudah berniat untuk pergi bersamamu ke New York dan mengabaikan tantangan yang sedang kalian sepakati!” jelas Hector. Bella terdiam… Ada rasa penyesalan dalam hatinya, berarti Hector sebenarnya telah memutuskan untuk bersamanya. Namun, tindakan Bella yang gegabah dengan mempercepat kepergiannya ke New York membuat Pangeran Hector sangat marah. “Maafkan aku, Hector…” Bella menggenggam tangan Hector. Hector meraih Bella ke dalam pelukannya. “Apa yang terjadi dengan kencanmu bersama Emily?” tanya Bella. “Di hari pertama aku tiba di rumah peristirahatan itu, aku tidur di mobil hingga larut malam. Aku melihat foto-fotomu dengan laki-laki itu, membuat perasaanku tidak tenang.” Bella tersenyum, “Perasaan apa itu?” “Entahlah, aku tidak tahu perasaan apa itu.” Hector memandang mata Bella yang sangat jernih berwarna cokelat. “Tempat peristirahatan, hmm?” “Ya,” jawab Hector pendek. “Tempat kalian berdua sering menghabiskan waktu berdua tentunya…” “Terakhir ke sana aku masih mencintainya, Belle. Wajar kalau kami menghabiskan waktu berdua.” “Ya… aku tahu itu. Apakah sekarang kamu sudah tidak mencintainya?” tanya Bella sambil membenamkan kepalanya dalam pelukan Hector. “Sebenarnya, sebelum memutuskan menerima permintaan dari keluargaku untuk menjadikanmu calon istriku, aku sudah mengalami saat yang buruk dengan Emily. Dia tidak bisa lepas dari Petter, dia akan kembali mencintaiku saat Petter mengecewakannya.” “Hector, aku masih bingung dengan semua ini. Apakah dengan memutuskan menjemputku ke New York dan tetap memilihku menjadi calon istrimu, itu berarti kamu mencintaiku? Atau bagaimana??” tanya Bella polos. “Apakah kamu keberatan kalau aku belajar mencintaimu sedikit demi sedikit? Karena yang aku rasakan, aku marah saat Joe mendekatimu…” Bella tersenyum, “Baiklah, aku tidak keberatan…” “Terima kasih, Belle….” “Oh, iya…” Bella melepaskan diri dari pelukan Hector, “sebelum aku resmi menjadi istrimu, apakah kamu keberatan kalau aku tetap melanjutkan pekerjaanku sebagai model?” “Sebenarnya aku keberatan…” jawab Hector. “Kamu marah padaku seusai pertunjukan itu karena keberatan dengan pekerjaanku?” tanya Bella. “Maafkan aku, Belle… sebenarnya aku sungguh tidak rela para lelaki itu memandangimu dengan mata yang penuh gairah. Rasanya darahku mendidih, entahlah kenapa aku bisa seperti itu?” Bella tertawa, “Tapi aku tetap professional, Pangeran. Coba saja kamu tanyakan pada Jess! Apakah aku pernah menerima ajakan dari laki-laki hidung belang yang mengajakku pergi seusai pertunjukanku di catwalk?” Hector memandang Bella, “Kamu sangat cantik, Belle … ke mana saja aku selama ini?” “Kamu tergila-gila pada Emily, Pangeran! Sampai-sampai kamu tidak menyadari bahwa ada seorang perempuan yang memujamu sejak kecil.” “Benarkah kamu menyukaiku sejak kecil?” tanya Hector dengan perasaan berbunga-bunga. “Sejak kecil, aku bercita-cita menjadi putri di sebuah kerajaan. Lalu bagaimana caranya? Tentu saja dengan menikahi putra mahkota!” Bella tersenyum hangat sampai serasa hampir menembus jantung Hector. Hector membelai rambut Bella, Bella memejamkan matanya. “Maafkan aku, Belle… aku tidak pernah menyadarinya,” sesal Hector. “Walaupun sudah sangat terlambat dan aku hampir saja putus asa. Tapi aku sangat bahagia saat ini, Pangeran! Aku harap semua ini bukan mimpi dan bukan bagian dari skenariomu!” Hector tertawa, “Tentu saja ini bukan sekedar skenario, Belle. Sejak aku menjengukmu di rumah sakit, aku sadar mengapa keluargaku sangat berharap kamu menjadi calon istriku.” Hector membingkai wajah Bella. Jarak mereka kini sangat dekat, Bella tersenyum lalu dengan sengaja memejamkan matanya dan membiarkan Hector menciumnya. Ciuman dari seorang Pangeran Impian yang sudah lama dinantikannya. Ciuman yang sangat hangat dan lembut di bibir Bella, Bella menitikkan air mata kebahagiaan. tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN