Tok.. tok.. tok..
Tak berapa lama pintu kamar Jessy dibuka.
“Bella??” Jessy terbelalak melihat Bella di hadapannya.
Jessy mengira Bella dan Hector akan makan malam romantis dan menghabiskan malam panjang berdua. Tapi kenyataannya, gadis cantik ini mengetuk pintu kamarnya. Entah apa yang Bella inginkan..
“Temani aku makan malam, Jess!” pinta Bella memelas.
“Hah? Makan malam? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Jessy.
Bella melotot ke arah Jessy, seolah memaksa Jessy untuk segera bersiap menemaninya makan malam.
“Baiklah sebentar aku ambil jaketku,” ucap Jessy.
***
Di sebuah restoran kecil yang sepi pengunjung
“Ada apa, Belle?” tanya Jessy sambil menyeruput kopinya.
“Sepertinya aku tidak akan memenangkan hatinya, Jess!”
“Kenapa kamu bilang seperti itu? Semangatlah, Belle!” Jessy mengguncang bahu Bella.
“Dia tidak menyukai pekerjaanku. Dia terus-terusan mengeluh dan memandang rendah pekerjaanku,” jawab Bella sambil memandang jalanan dengan tatapan kosong.
“Memandang rendah? Kejam sekali kalimatmu?? Mungkin dia hanya butuh menyesuaikan diri, Belle!” Jessy meluruskan.
“Tapi tinggal satu hari besok, Jess! Aku tidak yakin dia akan memilihku!”
“Lagi pula buat apa kamu terima tantangan dari Emily, Belle?! Kamu sudah di atas angin sebelum menerima tantangan ini!”
Bella menghela napasnya, “Aku akan mengatakan pada Hector, kalau aku akan mempercepat keberangkatanku ke New York. Aku akan menyerah saja, Jess!”
“Hei, cantik! Kenapa denganmu?! Aku tidak pernah melihat kamu menyerah! Tolong jangan menyerah!” Jessy menatap lekat bola mata Bella.
“Tidak! Aku sudah memutuskannya! Sepertinya Hector memang bukan jodohku...”
“Belle! Aku mohon pikirkan baik-baik! Menjadi kekasih Pangeran Hector adalah impianmu sejak kecil!”
“Ayo, kita makan saja! Aku tidak mau membicarakannya lagi! Oya, Jess sampaikan pada Pangeran Hector bahwa besok kita berangkat ke New York, katakan padanya untuk kembali ke Querencia saja.”
Jessy hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena ulah Bella, sedangkan Bella menyantap makan malamnya dengan lahap. Sejenak Bella melupakan masalahnya dengan Hector.
***
Keesokan harinya di kamar Bella
Tok! Tok! Tok!
“Ya! Sebentar!” Bella berlari kecil menuju ke pintu sambil mengikat rambutnya ke atas.
Bella membuka pintu kamarnya, muncullah lelaki tampan nan rupawan yang selama ini sangat dicintainya.
“Belle? Ada apa ini! Manajermu bilang kamu akan mempercepat keberangkatanmu ke New York!”
“Masuklah!” Bella mempersilakan Hector masuk.
Bella dan Hector duduk berhadap-hadapan.
“Sampai di titik ini aku merasa kalau kita memang tidak cocok, Hector.”
“Lalu beginikah caranya? Dengan menghindariku? Aku sudah mengontak brand sepatu yang kamu maksud. Mereka tidak memajukan jadwal pemotretanmu, Belle!”
“Aku mempercepat kepergianku ke New York karena aku sudah yakin kita tidak akan bersama. Jadi, buat apa aku memperpanjang sehari lagi bersamamu? Itu hanya akan membuatku sakit hati,” jawab Bella.
“Bisakah kamu membicarakannya baik-baik denganku? Bukan malah menyuruh manajermu yang menyampaikannya padaku?!” protes Hector yang merasa diremehkan.
“Maafkan aku Hector,” jawab Bella singkat.
“Seharusnya kamu tidak menerima tantangan dari Emily kalau memang tidak tahu cara memenangkan tantangan itu, Belle!”
“Setidaknya tiga hari bersamamu sudah cukup bermanfaat. Aku bisa tahu perasaanmu padaku dan minatmu pada pekerjaanku, Pangeran!”
“Perasaan memang tidak bisa dipaksakan!” jawab Hector singkat.
“Ya, aku tahu. Aku sadar posisiku, Pangeran Hector! Aku hanya wanita pengganti kekasihmu!”
“Baiklah, bila ini keputusanmu! Pergilah dan aku akan kembali ke Querencia hari ini!” jawab Hector sinis.
“Jangan khawatir, aku akan menghubungi Ratu dan keluargaku setelah aku menyelesaikan pekerjaanku! Aku akan mengatakan bahwa aku tidak akan melanjutkan perjodohan ini!” ucap Bella tegar.
“Terserah kamu, Belle! Aku pergi!”
Hector berjalan keluar dari kamar Bella dengan perasaan yang sangat kesal. Jadi, Bella mengajak Hector kemari hanya untuk menikmati kamar hotel, disuguhi pekerjaan yang cukup vulgar, dan akhirnya Bella menyerah? Hector mengepalkan tangannya lalu membanting pintu kamar Bella.
***
Di dalam pesawat menuju ke New York
“Dia sepertinya marah, Jess.”
“Aku sudah memintamu untuk memikirkannya baik-baik, Belle. Sekarang kamu sudah kehilangan kesempatan untuk bersama Pangeran Hector.”
“Biarlah, Jess! Mungkin jodoh Hector memang Emily Adams. Aku akan melupakannya! Aku akan menjadi model yang sangat bahagia!” jawab Bella sambil tertawa untuk menutupi kesedihannya.
“Belle...”
Jessy sangat prihatin melihat Bella. Di luar dia sangat tegar, tapi di dalam hatinya ada luka, kepedihan, penyesalan, dan kekecewaan.
“Dengar Jess! Besok aku akan tidur seharian di hotel. Jangan ganggu aku, supaya lusa aku bisa tampil sempurna!”
“Baiklah, Belle! Tapi ingat pesanku! Jangan menangis seharian di kamar!” ancam Jessy.
Bella tertawa, “Aku tidak akan menangis karena selalu ditemani manajer yang sangat hebat! Terima kasih, Jess!”
Flashback On
“Itu dia orangnya, Em! Anak baru itu!” Salah satu teman Emily menunjuk ke arah Bella yang sedang asyik melukis.
Emily dan gengnya menghampiri Bella yang sedang menyelesaikan tugas melukisnya di studio lukis sekolah.
Emily mendorong bahu Bella, “Hei anak baru! Kurang ajar sekali kamu!”
“Ada apa ini?” tanya Bella bingung karena merasa tidak punya kesalahan.
“Jangan coba-coba dekati Pangeran Hector! Dia sudah lebih dulu menyukaiku!” jawab Emily.
“Tidak ada larangan untuk mendekati siapa pun di sekolah ini!” Bella menyingkirkan tangan Emily yang menekan bahunya.
“Hei! Dengar gadis miskin! Jaman sekarang tidak ada cerita tentang Cinderella, kau tahu?! Jangan bermimpi untuk mendapatkan perhatian dari Pangeran Hector! Ratu di negeri ini tidak akan mengizinkan putranya bersama dengan gadis pengungsi yang miskin sepertimu!” Emily menekan d**a Bella dengan kuat hingga Bella terdorong ke belakang.
Emily dan gengnya meninggalkan Bella yang tampak berantakan karena seragamnya terkena percikan cat pewarna lukisan. Bella juga harus membersihkan lantai yang terkena tumpahan air dan cat akibat ulah Emily.
Sejak saat itu Bella berjanji dalam hatinya untuk menunjukkan pada Emily bahwa gadis pengungsi yang miskin itu akan mendapatkan cinta dari Pangeran Hector dan keluarganya.
Flashback off
***
Jessy sedang mengontak pihak hotel untuk konfirmasi kamar dan mobil yang menjemput mereka di bandara. Tiba-tiba...
“Bella!”
Seseorang berteriak memanggil nama Bella dan berlari-lari ke arahnya.
“Joe? Kamu juga sudah sampai di New York hari ini?” tanya Bella.
“Ya, tapi aku tidak terbang dari London. Kebetulan aku ada pekerjaan di Brasil jadi langsung ke sini. Lumayan bisa istirahat sehari. Di mana Pangeranmu?” Joe mengedarkan pandangannya mencari Hector.
Bella tertawa, “Dia sudah pulang ke kastilnya!”
“Apakah kamu berkencan dengannya, Belle?” tanya Joe penasaran.
“Tidak, Joe. Dia sudah punya kekasih,” jawab Bella.
“Oh, begitu?” Joe menyunggingkan senyumnya, “Aku patah hati malam itu tapi sekarang aku lega mendengarnya!”
Bella tertawa, “Apa maksudmu, Joe? Jangan menggombal menjelang pemotretan kita!”
Joe terbahak, “Kamu tahu aku sangat menyukaimu, Belle!”
Jessy mendekati mereka berdua, setelah menelepon hotel.
“Ayo, Belle! Mobil sudah menunggu kita di depan. Joe, sampai ketemu besok!” ucap Jessy.
“Sampai besok, Belle!”
Bella berlalu meninggalkan Joe Anderson, bintang sepak bola yang sedang naik daun. Sudah beberapa bulan ini Joe berusaha mendekati Bella. Saat diminta menjadi brand ambassador sepatu pria oleh merek sepatu terkenal dari New York, Joe menerima pekerjaan itu asal yang dijadikan brand ambassador untuk sepatu wanitanya adalah Bella de Lorraine. Ternyata, perusahaan sepatu tersebut menerima usulan dari Joe dan besok mereka akan melakukan pemotretan untuk launching produk terbaru.
***
Kalau Bella tidak mengatakan pada keluarga kerajaan bahwa Hector dan Bella akan pergi berdua selama seminggu, tentu saja Hector saat ini akan langsung kembali ke istana. Hector tetap menjaga kata-kata Bella di depan keluarganya. Sekarang ini dengan terpaksa Hector pergi menemui Emily, wanita yang sudah dia putuskan beberapa minggu yang lalu.
Hector langsung menuju ke tempat yang sudah disiapkan Emily, sebuah rumah peristirahatan di tepi danau. Hector memandang rumah di tepi danau itu dari dalam mobilnya saat mobilnya sudah hampir sampai di tempat yang dimaksud oleh Emily.
Hector tidak langsung turun, dia sempat memandang ponselnya, Emily berkali-kali menghubungi Hector tapi sengaja diabaikan oleh Hector. Hector sempat tertidur di dalam mobil, malam harinya Hector baru masuk ke dalam rumah. Emily menyambut Hector dengan marah-marah.
“Kenapa baru datang??” Emily sangat kesal.
“Penerbangannya ditunda karena cuaca buruk,” jawab Hector asal.
“Baiklah, sebaiknya kita berendam dulu, Sayang! Aku sudah menyiapkan hot tub untuk kita berdua!” Emily sangat bersemangat.
“Aku ingin mandi air panas sebentar saja, Em. Aku tidak mau berendam. Aku sangat mengantuk!”
Emily kecewa tapi dia tidak berputus asa, Emily sudah menghias tempat tidur mereka berdua dengan bunga-bunga, wewangian aroma terapi, dan cahaya lilin temaram. Emily menunggu Hector di kamar sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut sambil membayangkan adegan romantis yang nanti akan dilakukannya bersama Hector.
Cukup lama Emily menunggu, akhirnya hanya dengan berbalut selimut, Emily keluar dari kamar. Betapa marahnya Emily saat melihat Hector tidur lelap di sofa dengan TV yang masih menyala.
“Bangun, Hector!”
Emily meneriaki Hector dan mengguncang tubuh Hector, namun Hector sengaja tidak membuka mata. Emily menangis terduduk di lantai, di bawah sofa tempat Hector tidur. Akhirnya, Emily kelelahan dan masuk ke dalam kamarnya. Hector membuka mata setelah yakin Emily sudah tidur.
Hector memandang langit-langit rumah itu. Ada hal yang membuat Hector murung dan tidak tenang. Saat berada di dalam mobil, Hector melihat beberapa foto di media online yang memberitakan bahwa Sang Super Model, Bella de Lorraine bertemu dengan bintang sepak bola berbakat, Joe Anderson, di bandar udara internasional New York hari ini. Mereka berdua digadang-gadang oleh para peggemar mereka untuk menjadi sepasang kekasih. Dalam foto itu Bella terlihat sangat cantik, tak bercela. Ada rasa sakit seperti teriris di hati Hector saat melihat beberapa foto menampilkan Bella dan Joe sedang berbincang akrab, bahkan Joe memandang Bella seperti seorang laki-laki yang sedang dimabuk cinta.
***
Pagi harinya, Hector sudah bangun dan duduk di tepi danau sambil merokok. Emily menyusul Hector dan duduk di sampingnya. Emily memeluk lengan Hector dan menyandarkan kepalanya di bahu Hector. Hector hanya diam.
“Kenapa semalam tidak menyusulku di kamar?”
“Aku tertidur di sofa,” jawab Hector singkat.
“Ayo, kita makan. Aku sudah menyiapkannya sarapan buat kita berdua.”
Emily bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Hector. Mereka masuk ke dalam rumah. Emily sangat bersemangat menyiapkan makanan untuk Hector. Hector menyantap makanan yang disiapkan Emily, entah kenapa Hector tidak bersemangat. Padahal semua yang disiapkan Emily untuknya ini adalah hal yang sangat mereka berdua sukai, mulai dari berendam di hot tub, tidur berdua dengan suasana romantis, dan sarapan pagi berdua. Semua itu adalah kebiasaan yang mereka lakukan saat menghabiskan waktu bersama.
***
Drrrt! Drrttt! Drrrt!
Pesan singkat masuk ke nomor Hector.
Jessy:
Pangeran Hector saya tahu Anda sedang bersama Emily. Malam ini Joe berencana mengajak Bella makan malam berdua. Bella belum memberi jawaban. Besok pagi-pagi sekali Bella pulang dari New York ke London bersama Joe. Kalau Anda masih peduli pada Bella dan tidak mau Bella jatuh ke pelukan Joe, paling tidak Anda harus berangkat malam ini.
Hector membuka foto-foto yang dikirimkan Jessy ke ponsel Hector. Walaupun foto-foto itu untuk produk sepatu, namun pose yang dilakukan oleh Bella dan Joe cukup provokatif sehingga membuat darah Hector mendidih.
“Berani-beraninya dia! Statusnya masih tetap calon tunanganku!” gumam Hector dalam hati.
“Ada apa, Hector?” tanya Emily yang melihat Hector sangat serius memandang ponselnya.
“Oh, bukan apa-apa!” jawab Hector.
“Hector, aku ingin mengajakmu berendam di hot tub. Kita belum melakukannya semalam …” ucap Emily manja.
Hector hanya diam, tubuhnya ada di sini bersama Emily tapi hati dan pikirannya sedang ada di tempat lain.
“Hector! Kamu mendengarku??”
“Ya?”
“Sedang memikirkan apa?” tanya Emily.
“Tidak ada.”
“Ayo, kita berendam! Aku sudah menyiapkannya…”
Emily dengan ceria memeluk Hector dari belakang, lalu melepaskan kancing baju Hector. Tiba-tiba Hector mencegah Emily …
“Em! Tolong hentikan! Aku rasa… aku harus berada di tempat lain saat ini! Maafkan aku, Em! Aku harus pergi sekarang …”
Hector berdiri dan membereskan barang-barangnya.
“Ini karena Bella, kan?!” Emily berteriak histeris.
“Em, ingatlah, kita sudah mengakhiri hubungan ini!”
“Tapi dia sudah menerima tantangan ini!” teriak Emily.
Emily kalap dan mulai melempari piring gelas ke arah Hector.
“Dia memang menerima tantangan ini!” Hector mencengkeram tangan Emily, “tapi aku yang memutuskan akan bersama siapa bukan?? Jadi sebaiknya kita lupakan tantangan yang tidak masuk akal ini, Em!"
“Jangan katakan kamu memilihnya, Hector! Baru berapa hari kalian bertemu, apakah semudah itu kamu meninggalkan aku dan cinta kita??” Emily terlihat sangat kecewa.
“Maafkan aku, Em! Kita sebenarnya sudah mengakhiri semuanya hari itu! Maafkan aku, aku harus pergi sekarang!”
Hector berjalan dengan cepat menuju ke mobilnya. Emily berlari-lari mengejar Hector.
“TIDAKKK, HECTOR!! KAMU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN AKU!! HECTOR!!”
Emily terus berlari mengejar mobil Hector sambil menangis dan berteriak, namun rupanya hal itu tidak menghentikan langkah Hector untuk meninggalkannya. Mobil Hector berlalu dengan cepat meninggalkan rumah peristirahatan yang tenang di tepi danau itu. Meninggalkan Emily dan semua kenangan cintanya.
tbc