9. Bella dan Hector

2030 Kata
Hector pergi meninggalkan Bella dan Emily lalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Hector sungguh tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi rumit seperti ini. Emily yang sadar bahwa hubungannya dengan Hector sudah berakhir, rupanya tidak menyerah begitu saja pada kenyataan. Dari jendela ruang kerjanya, Hector bisa melihat mobil Emily meninggalkan istana. Hector tidak habis pikir kenapa Emily punya ide gila seperti itu dan Bella tidak menolak tantangan dari Emily. Hector menghela napasnya. Hector menyadari kebodohannya karena hadapan Bella dan Emily, dia tidak bisa memutuskan ingin bersama siapa. Seharusnya dia menolak Emily tadi, tapi hati kecilnya sungguh tidak tega untuk menyakiti wanita beranak dua yang memang masih dicintainya itu. *** Hector mencari Bella yang ternyata sedang duduk di sudut kafetaria di galeri istana. “Belle?” “Hai... duduklah, Hector.” Bella menyambut Hector dengan hangat. “Kenapa kamu menerima tantangan dari Emily, Belle?” protes Hector. “Sebenarnya aku menerima tantangan itu karena aku ingin tahu siapa yang kamu pilih, Hector!” “Tanpa menerima tantangan dari Emily seharusnya kamu sadar siapa yang aku pilih!” Hector kesal. “Siapa tahu kamu berubah pikiran? Dengan menerima tantangan itu, aku juga ingin meyakinkan diriku sendiri apakah memang benar akulah yang kamu pilih?” “Kamu berhak menolak keinginan Emily!” “Tidak perlu ditolak. Walaupun nanti kamu akan bersamanya selama 3 hari, aku berharap kamu akan merasa kehilangan aku!” Bella tersenyum menggoda, “tapi tak apa kalau keputusanmu nanti akhirnya kamu akan memilih Emily, Hector!” Hector menghembuskan napasnya dengan berat. Bella tersenyum memandang Hector, “Cerialah, Hector! Besok kita akan terbang ke London!” “Apa??” Bella tertawa, “Maafkan aku, Hector. Tiga hari ini aku akan mengajakmu ke London karena aku ada pekerjaan.” “Lalu kenapa kamu memilih tiga hari yang pertama?” “Alasan pertama, karena aku ingin kamu mengenalku dan mengenal pekerjaanku.” “Alasan kedua?” tanya Hector tidak sabar. “Alasan kedua, supaya kamu bisa tenang menghabiskan waktu tiga hari berikutnya dengan Emily. Aku akan mengatakan pada keluargamu kalau kamu akan bersamaku selama seminggu supaya mereka tidak curiga,” jawab Bella. "Belle!" Hector meremas rambutnya. Bella memandang wajah Hector yang tampan walaupun sedang marah. Hector, Pangeran impian Bella sejak kecil sekarang ada di hadapannya bahkan selangkah lagi menjadi tunangannya. *** Hector mengemasi barang-barangnya sambil memikirkan nasibnya enam hari ke depan. Dua orang wanita sedang berusaha memenangkan hatinya. Hector masih memikirkan kata-kata Bella di galeri istana tadi. Benarkah Bella akan mengatakan pada keluarganya kalau enam hari ini Hector akan bersamanya? Hector tidak habis pikir mengapa Bella bersedia melakukan itu. Bukankah seharusnya Bella melakukan persaingan ketat dan tidak memberikan kemudahan untuk Emily? Drrrrtt... drrrttt.. drrrtt... “Halo?” [Hector, apakah kamu sudah tahu Bella akan mengajakmu ke mana?] Hector terdiam. [Apakah kamu tidak mau mengatakannya padaku, Hector?] “Aku tidak tahu, Em! Bella tidak mengatakannya padaku.” [Hmm... baiklah. Aku tidak sabar menghabiskan waktu bersamamu, Sayang!] Hector menghembuskan napasnya dengan kasar, wanita yang pernah membuatnya sangat tergila-gila, kini sangat menyebalkan. Sepertinya Emily tidak kunjung sadar kalau hubungannya dengan Hector sudah berakhir. “Maaf, Em! Aku masih banyak pekerjaan!” Tut... tut... tut... Hector mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, tanpa mendengarkan kalimat Emily berikutnya. Malam harinya Bella mengatakan pada Ratu Tyara dan Ibu Suri Anne kalau Hector akan menemaninya menyelesaikan pekerjaan sebelum hari pertunangan mereka. Ratu dan Ibu Suri mendukung rencana itu supaya Bella dan Hector bisa memanfaatkan waktu bersama untuk saling mengenal lebih dekat. *** Jet kerajaan mendarat dengan selamat di London. Bella langsung mengajak Hector menuju ke hotel tempat Bella melakukan brifing pemotretannya siang nanti. “Bella!” teriak seorang laki-laki saat Bella dan Hector masuk di lobi hotel. “Hai, Jessy!” Bella menghampiri manajernya yang bernama Jason tapi biasa dipanggil Jessy karena gayanya yang kemayu. Jessy adalah sahabat Ratu Tyara saat masih kuliah di London. Ratu menitipkan Bella pada Jessy untuk dijadikan super model terkenal dan Jessy berhasil mewujudkan impian Bella. “Jessy kenalkan ini Pangeran Hector.” Bella memperkenalkan Hector pada Jessy. “Wah! Senang sekali aku bisa bertemu dengan putra dari sahabat lamaku!” Jessy mengulurkan tangannya pada Hector. “Dia sahabat Mamamu waktu kuliah,” Bella berbisik pada Hector. Hector menyambut hangat uluran tangan dari Jessy, “Senang bertemu denganmu, Jessy!” “Ini benar-benar kejutan, Belle!” teriak Jessy yang sangat bahagia melihat Bella akhirnya bisa bersama Hector. “Pssstt ... Jessy! Jangan banyak bicara yang tidak penting ya!” ancam Bella. Bella sering sekali menceritakan tentang Hector pada Jessy, betapa Bella sangat tergila-gila pada Pangeran tampan itu. Jessy tertawa, “Baiklah! Sepertinya kamu harus meninggalkan pangeran tampanmu sebentar, Belle!” “Aku akan istirahat di kamarku,” pamit Hector. “Baiklah. Mungkin aku baru selesai agak sore, Hector.” Hector memandang Bella, “Kamu mengajakku ke London cuma untuk tidur siang di hotel?!” “Pemotretanku di kamar nomor 527. Kamu bisa ke sana setelah makan siang,” jawab Bella. Hector hanya diam lalu berjalan menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai empat hotel itu. Hector sedikit kesal pada Bella karena Bella memilih waktu yang menurutnya tidak tepat. Kenapa Bella memilih tiga hari yang pertama padahal jelas-jelas Bella sadar kalau ada pekerjaan? Hector menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk ukuran king size di kamar hotelnya, kemudian tertidur pulas. *** Hector terburu-buru masuk ke dalam lift sebelum pintu lift yang akan membawanya ke lantai lima tertutup. Sesampainya di lantai lima, Hector langsung mencari kamar nomor 527. Kebetulan Jessy hendak masuk ke dalam kamar itu juga bersama beberapa krunya. “Di sinikah tempat pemotretannya?” tanya Hector. “Ya, Hector! Ayo masuklah!” ajak Jessy. Hector melihat Bella sedang di rias oleh tim make up. Bella memakai kimono tidur, Bella tersenyum pada Hector melalui cermin riasnya. Beberapa kru sedang menghias tempat tidur dan menaburinya dengan kelopak bunga mawar merah. “Ok, Belle! Sudah siap?” tanya Jessy. “Ok, siap!” jawab Bella. Tanpa canggung Bella melepaskan kimono tiďurnya hingga tersisalah lingerie super seksi di tubuh Bella. Lingerie warna merah menyala itu sangat kontras di tubuh Bella yang berkulit putih. Hampir keseluruhan lingerienya transparan, hanya bagian tubuh tertentu yang tertutup bahan lebih tebal. G-string nya jelas membuat mata kaum lelaki tak bisa lepas dari kemolekan tubuh Bella. Hector baru pertama kali melihat tubuh polos Bella hanya dibungkus selembar kain transparan yang melekat di tubuh Bella. Hector menelan ludahnya melihat bagian-bagian tubuh Bella yang seksi terpampang nyata di depan matanya. Hector seakan terhipnotis dan tak bisa melepaskan pandangannya dari tubuh Bella. Jessy mengarahkan Bella dengan berbagai pose yang menggoda. Bella adalah seorang model yang cerdas sehingga semua arahan gaya yang diberikan oleh Jessy dapat dieksekusi dengan baik oleh Bella. “Oke, Belle! Kamu luar biasa sayang!” “Terima kasih, Jess!” Bella tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Bella membersihkan make up-nya, berganti pakaian, lalu menghampiri Hector. “Hai, sudah makan?” tanya Bella. Hector hanya diam memandang Bella. “Mau menemaniku makan? Aku lapar sekali...” tanya Bella lagi. Hector bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar dari kamar itu. Langkah Hector cukup lebar sehingga Bella harus mengejarnya. Mereka berdua makan siang di resto hotel. “Kamu kenapa?” tanya Bella saat melihat Hector hanya diam saja. “Apakah lingerie dan pose macam itu yang kamu lakukan tiap kali pemotretan?” tanya Hector sinis. “Tergantung permintaan klien,” jawab Bella sambil menyantap makan siangnya. “Apakah kamu juga sering difoto tanpa busana?” tanya Hector. Bella memicingkan matanya memandang Hector. “Maksudmu?!” tanya Bella sedikit kesal. “Semacam foto untuk memuaskan nafsu lelaki, mungkin?” sindir Hector. “Apa? Aku model profesional, Hector. Bukan pelacurr!” jawab Bella kesal. “Apa kamu tidak risih dilihat begitu banyak mata lelaki saat pemotretan tadi?” “Ini pekerjaanku, Hector. Aku sudah terbiasa,” jawab Bella. “Terbiasa telanjang dan memuaskan mata para lelaki?” Bella memandang Hector dingin. “Itulah kenapa aku mengajakmu kemari, Pangeran! Supaya kamu tahu pekerjaanku seperti apa dan kalau akhirnya kamu memilihku, aku berharap ini juga kamu jadikan pertimbangan agar kamu tidak menyesal di kemudian hari! Aku tidak mau menutupi siapa diriku!” jawab Bella kesal. Hector menghembuskan napasnya dengan kasar, “Apalagi pekerjaanmu besok?” “Besok malam aku ada peragaan busana, tapi kalau kamu tidak mau melihatnya juga tidak apa-apa,” Bella melirik Hector. “Kenapa aku tidak mau?” tanya Hector. “Sebenarnya pemotretanku hari ini untuk mempromosikan peragaan busana besok malam,” jawab Bella. “Jadi kamu akan memperagakan busana transparan itu di catwalk??” “Aku dan model yang lain tentunya. Oya, busana transparan itu namanya lingerie, Hector! Peragaan busana besok malam sangat penting karena banyak artis internasional, selebriti, dan orang-orang penting yang sudah memesan tiketnya dengan harga yang sangat mahal.” “Aku mau melihatnya!” ucap Hector dingin. “Baiklah. Aku akan meminta Jessy untuk mengurus tempat dudukmu. Mungkin tidak bisa di front row tapi aku akan meminta Jessy menyiapkan tempat yang bagus buatmu,” jelas Bella. *** Malam itu gedung tempat peragaan busana sangat ramai, para pengunjung mulai berdatangan dengan pakaian dan dandanan terbaik mereka. Hector duduk di baris kelima namun dia tetap bisa melihat panggung peragaan dengan sangat jelas. Satu per satu model mulai melenggak lenggok di panggung menggunakan lingerie-lingerie seksi. Saat seorang model muncul, model itu mendapatkan sambutan antusias dari para pengunjung. Hector membelalakkan matanya saat melihat Bella tampil di atas panggung menggunakan lingerie -yang menurut Hector- paling seksi dibanding lingerie yang dipakai oleh model yang lain. Lingerie yang digunakan Bella berwarna hitam, lingerie ini mengekspos bagian tubuh Bella yang paling menarik perhatian kaum lelaki. Hector melihat para lelaki yang duduk di depannya, mereka memandang Bella dengan tatapan mata yang lapar. Mereka meneriakkan nama Bella di tengah dentuman musik. Bella berjalan dengan penuh percaya diri di catwalk, Hector harus mengakui bahwa Bella adalah bintang pertunjukan malam ini. Di belakang panggung setelah pertunjukan usai Hector berniat menghampiri Bella di belakang panggung untuk mengajaknya makan malam. Dari kejauhan Hector melihat Bella sedang berbicara dengan seorang pria tampan. “Ayolah, Belle! Kita bisa saling mengenal lebih dekat sebelum pemotretan besok lusa,” rayu sang pria. “Tidak, Joe. Aku ada janji,” tolak Bella dengan halus. “Ayolah!” pria itu meraih tangan Bella. Hector mendekati mereka. “Selamat malam, Tuan. Maaf saya harus membawa Bella pergi dari sini!” ucap Hector sambil menatap mata pria itu dengan tajam. “Benarkah, Belle?” tanya pria itu sambil menunjuk Hector. “Aku bersamanya, Joe. Selamat malam,” jawab Bella sambil tersenyum. Pria itu memandang Hector dengan tatapan meremehkan, “Baiklah, sampai ketemu besok lusa!” Pria itu pergi meninggalkan Hector dan Bella. Bella kembali ke hotel bersama Hector naik mobil yang dikendarai Hector. “Dia Joe Anderson? Bintang sepak bola terkenal itu?” tanya Hector sambil fokus mengemudi. “Iya, kami ada pekerjaan besok lusa.” “Lusa?” “Ya, lusa saat kamu terbang ke Querencia menemui Emily, aku akan terbang ke New York dengannya.” “Pekerjaan?” tanya Hector. “Tentu saja! Kamu pikir apa?” tanya Bella kesal, “klien meminta kami untuk menjadi ambasador model sepatu keluaran terbaru di New York,” jawab Bella. “Foto sepatu atau foto seksi?” Bella memandang Hector, ”Foto model untuk sepatu!” “Kamu akan satu frame dengannya?” “Ya, Hector! Ada masalah?” tanya Bella kesal karena dua hari ini Hector seperti meremehkan pekerjaannya. “Tidak, hanya bertanya!” jawab Hector dingin. *** Sesampainya di hotel, Bella dengan cepat memutuskan bahwa mereka akan makan malam di kamar masing-masing. “Pangeran, aku rasa aku akan makan di kamarku saja!” Hector menatap dengan kesal, “Terserah!” Hector berjalan mendahului Bella untuk masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup sebelum Bella tiba di depan lift sehingga Bella harus menunggu lift berikutnya sebelum naik ke kamarnya. Hector dan Bella mengalami komunikasi yang buruk saat perjalanan pulang menuju ke hotel. Di mobil, Bella merasa Hector meremehkan pekerjaannya, sedangkan Hector merasa pekerjaan Bella sangat membuatnya terganggu dan tidak nyaman. Mereka berdua menyadari bahwa di antara mereka tidak ada kecocokan. Bella memandang makanan yang ada di hadapannya. Dia sungguh tidak berselera makan dan tidak ingin sendiri malam ini. Akhirnya, dia berjalan keluar dari kamarnya menuju ke kamar Jessy, siapa tahu Jessy belum tidur dan mau menemaninya mengobrol malam ini. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN