Dering ponselnya menggema membuat Kanaya beranjak turun dari tempat tidur. Panggilan dari Max membuat Kanaya gugup. Baru saja ia memikirkan pria itu, sekarang Max sudah menghubunginya. “I-iya?” “Kamu sudah makan?” tanya Max membuat Kanaya menepuk jidatnya. “Itu… hehehe belum,” jujurnya. Terdengar Max menghembuskan napas panjang. Kanaya tahu Max akan marah padanya untuk itu ia sudah mempersiapkan telinganya mendengar kemarahan calon suaminya. “Besok kita temui ahli gizi supaya kamu bisa makan,” ujar Max membuat Kanaya merasa bersalah. Karena diet Kanaya membuat Max membuang waktu dan mengeluarkan uang lebih banyak lagi. “Tidak perlu, aku akan makan sekarang. Kamu tidak perlu khawatir.” Kanaya coba untuk menenangkan. “Janji?” tanya Max membuat hati Kanaya berdesir. Ia senang Max

