“Ma, aku nggak bohong. Ini bukan punyaku.” Kanaya masih mencoba untuk menjelaskan pada ibunya. Sebastian yang melihat bukti-bukti itu hanya bisa diam. Ia sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa. “Kita bicara di luar,” ucap Shita lalu pergi mendahului Kanaya. Melihat ayahnya masih berdiri di depan pintu kamar mandi, Kanaya pun menghampiri. “Pa, papa percaya,’kan sama Kanaya?” Sebastian menatap lekat anak bungsunya. Ia tersenyum lalu mengangguk. “Papa percaya sama kamu. Temui ibu kamu sekarang. Selesaikan masalahnya dengan kepala dingin.” Kanaya tersenyum tipis lalu pergi menemui ibunya. Shita duduk di atas kasur Kanaya. Ia sedang memijat kepalanya yang mendadak pusing. Dari dua anaknya yang sudah menikah belum ada satu di antara keduanya yang hamil di luar nikah. Shita sanga

