Bab 10. Satu Bulan Berlalu

1037 Kata
Tiga bulan usia Cia, bayi itu makin pintar karena Anita menstimulasi bayinya dengan baik. Walau hati Anita tidak baik-baik saja dengan sikap suaminya yang makin parah. Pria itu jarang pulang setelah ditanyai soal malam setelah reuni. Bagas marah karena menilai Anita terlalu cerewet dengan urusan pribadinya. Sore itu, Anita sedang menyapu halaman. Seperti biasa, dia sibuk membersihkan rumah saat Cia tidur siang. Sapu lidi itu terhenti di depan dua kaki yang memakai sepatu putih bersih dengan merk yang menunjukkan kelas seseorang. Anita terhenyak melihat sepatu yang dia ketahui harganya bisa mencapai jutaan. Kedua matanya menelusuri ujung kaki hingga ke atas. Dia seorang wanita berwajah sayu, tampak sangat lelah seperti ada yang dia pikirkan dengan berat. Meski begitu, tidak mengurangi kecantikannya. Kulitnya putih terawat, kedua matanya berwarna hazel dengan bibir yang pink. Wanita itu masih tampak cantik meski rambut gelombangnya tergerai acak. Anita mencoba menyunggingkan senyumnya pada wanita itu. Barangkali ada yang bisa dia bantu. "Apa ... ini benar rumah Bagas?" tanya wanita itu dengan lemas dan lirih, seperti kurang tidur dan makan. "Iya," sahut Anita dengan empati. Namun, timbul berbagai pertanyaan di benaknya. Siapa wanita itu? Kenapa dia menanyakan suaminya. "Saya mau ketemu." Anita masih memegang sapunya, masih dengan tanda tanya besar dalam benaknya. Sepertinya dia pernah melihat wanita itu, tapi dia tidak ingat bahwa Delisa adalah kakak kelasnya sewaktu SMU dulu. "Anda siapa?" tanya Anita pada akhirnya setelah rasa penasarannya mendesak kuat. Bersamaan dengan itu, Bagas memarkir mobilnya di car pot. Dia segera keluar dari mobil. "Saya ... mantan temannya–" "Delisa!" potong Bagas, menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh Anita. Kedua wanita itu menoleh ke arah Bagas. Namun, hanya Delisa yang mendapatkan perhatian Bagas. Sampai Anita tercenung melihat wajah Bagas yang berseri. Baru kali ini dia bisa melihat wajah cerah suaminya. Rasanya agak aneh dengan pemandangan di depannya. Namun, ada sesuatu yang terasa menelusup ke relung hatinya dan itu sakit! "Delisa, kamu kemari? Kamu cari aku? Ada apa?" berondong Bagas, bahkan tidak memperdulikan Anita yang berdiri di antara mereka. "Bagas ... aku ... aku hamil," lirih Delisa. "Apa? Itu ... Kamu hamil anak kita?" tanya Bagas. Sapu yang dipegang oleh Anita jatuh ke tanah seketika mendengar ucapan Bagas. Rasa sakit tadi, seolah menjadi tombak yang menghujam jantungnya. Nyeri sekali. Tangan Anita bergetar hebat. "Apa-apaan kamu, Mas?" cicit Anita dengan nada suara bergetar menahan tangis. Bagas menoleh ke arah Anita. Setelah menatap Delisa, rasanya Anita seperti upik abu yang kurang terawat. Bagas berdecih. "Apa? Kamu nggak dengar tadi? Delisa hamil anak aku. Tentu saja aku akan bertanggung jawab dengan itu. Kalo kamu nggak setuju, silakan kamu pergi saja dari rumah ini." Hari itu sangat cerah, tapi dalam hati Anita rasanya badai besar menerpa. Sakit sekali rasanya. Anita meremas baju di bagian d**a, karena dalam d**a itu rasanya sangat perih. Rasanya sangat sesak di dalam d**a sampai Anita lupa caranya bernapas. "Mas! Aku bisa menahan sakit saat kamu memperlakukan aku seenaknya, tapi aku nggak bisa, Mas! Sakit banget rasanya kalo sampai kamu menikah dengan wanita lain!" jerit Anita, kedua bulir matanya mengalir deras membasahi pipi. "Maaf, Mbak," ucap Delisa lirih, menatap ke Anita, lalu bergulir ke arah lain. Kedua matanya juga berkaca-kaca. Dia tidak bermaksud merusak rumah tangga Bagas, tapi dia sendiri tidak tahu yang harus dilakukan saat tiga hari yang lalu dua garis merah tampak di sebuah alat pendeteksi kehamilan. Delisa mengecewakan kedua orang tuanya. Mereka minta Delisa mencari ayah dari anak yang dia kandung untuk meminta pertanggung jawaban apapun kondisinya. Anita tidak menjawab perkataan Delisa. Yang ada di hatinya cuma sakit dan sakit. Dia berlari ke dalam, meninggalkan tumpukan daun kering yang berserakan kembali oleh angin usai dia tinggalkan. Anita menangis sejadinya di dalam kamar. Ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya saat itu juga. Dia bersimpuh di lantai menangisi nasibnya yang sangat buruk. "Kenapa Tuhan? Aku udah bersabar untuk mencintainya! Aku udah bersabar untuk mendapatkan cintanya suatu hari nanti! Tapi apa yang aku dapatkan! Dia malah menghamili wanita lain!" teriak Anita dengan sangat frustasi. Anita menarik-narik rambutnya hingga acak-acakan, tapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya saat ini. Tidak masalah seorang wanita menghadapi sikap buruk suaminya, asal itu bukan soal perselingkuhan dan KDRT. "Hinaan, cacian yang dia lontarkan padaku selama ini masih bisa kuterima karena memang aku tidak menarik di matanya. Tapi, aku akan hancur saat dia menikahi wanita lain!" isak Anita, luruh di atas lantai. Anita menangis, meringkuk di atas lantai yang dingin. Ketika suaminya ingin menikah lagi, bahkan mertuanya pun tidak akan bisa menahannya meski sebaik apapun Tantri pada Anita. *** Bagas memainkan kotek gasnya saat berhadapan dengan Anita. "Aku bakal tetap menikahinya walau apapun yang kamu lakukan." Malam itu, setelah semua agak reda, Anita duduk di hadapan Bagas yang menatapnya dengan pandangan datar. Anita membuang pandangan ke arah lain. Rasanya masih sesak sekali di d**a, bahkan sampai Bagas tega mengatakan hal itu padanya. "Apa kamu masih menganggapku manusia, Mas?" tanya Anita berdesis. Bagas mencebik dan akhirnya tertawa mendengar ucapan Anita. "Aku mencintai Delisa begitu lama dan sekarang aku akan menikah dengannya. Jika kamu paham dan mengerti tentang cinta, kamu pasti membiarkan aku menikah dengannya." Anita menggelengkan kepala, berniat menahan laju air matanya lagi, tapi tidak bisa. Air mata sialan itu tetap saja mengalir. "Seorang wanita tidak bisa terima jika suaminya menikah lagi, Mas," sahut Anita lirih, terbata bercampur tangisnya. "Iya, tapi seorang lelaki punya hasrat dan itu tidak aku dapatkan ketika hidup bersamamu, Anita." Dada Anita kembali bagai mendapatkan sebuah bogem mentah. Sangat nyeri. "Kalau kamu masih bertahan, silakan. Tapi jika tidak, kamu yang akan pergi. Aku tidak bisa membiarkan Delisa hamil tanpa suami karena aku adalah ayah dari benih yang dia kandung. Sebagai sesama wanita, kamu harusnya punya perasaan empati padanya." Empati? "Lalu, aku dapat apa, Mas?" tanya Anita, menunjuk ke dadanya sendiri. Air mata tidak habis mengaliri kedua pipinya, bahkan sampai kedua matanya sembab. "Kamu? Kamu kan sudah dapat tanggung jawabku. Itu kan yang kamu mau? Sekarang giliran aku yang ingin bahagia. Ngerti?" Bagas menatapnya tajam, malah seolah Anita yang bersalah kepadanya. "Jadi, aku masih baik karena memperbolehkan kamu di rumah ini. Bersikaplah baik pada Delisa. Dia orang yang aku cintai." Anita hanya diam. Dia menangis tersedu saat Bagas meninggalkannya sendiri di ruang tamu. Tangis Cia dalam gendongan tidak mampu membuat Anita menghentikan tangisnya juga, malah makin menyayat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN