Anita hanya termangu ketika melihat hari-hari selanjutnya, Bagas dengan semringah menyiapkan pesta pernikahannya dengan Delisa. Dia mengulang dalam ingatan, pernikahannya dulu dengan Bagas tidak semewah itu. Mereka hanya menikah di depan penghulu saja, tidak ada perayaan apapun.
"Nita."
Anita tersentak merasakan seseorang menyentuh pundaknya. Dia menoleh dan mendapati Tantri sedang ada di belakangnya dengan wajah tak kalah sendu. Anita memaksakan diri untuk tersenyum, tapi gagal. Pada akhirnya, tangis mewakili perasaannya saat itu.
Tantri memeluk Anita dengan erat. Tidak banyak kata yang dia ucap untuk menenangkan hati menantu kesayangannya itu. Hanya elusan tangan di punggung Anita yang bisa dia lakukan.
"Maaf, maaf atas semua ini," ucap Tantri lirih.
Tantri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mencegah Bagas menikah lagi, tapi tidak mungkin karena janin yang dikandung oleh Delisa juga benih Bagas. Namun, saat membiarkan Bagas menikah, itu pun juga melukai perasaan Anita. Tantri ikut sedih dan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Bagas. Yang bisa dia lakukan hanyalah meminta maaf pada menantunya.
Anita sendiri hanya terisak di pelukan ibu mertuanya. Saat itu, dia ingin sekali pulang ke rumah ibunya sendiri. Namun, membawa berita menyedihkan akan membuat pikiran untuk ibunya. Bagaimana dulu dia mengecewakan ibunya dengan mengandung di luar nikah dan sekarang dia dimadu oleh suaminya. Apa yang akan dia katakan pada ayah dan ibunya?
Akhirnya, dia memilih untuk tetap melihat pernikahan suaminya. Mencoba melapangkan d**a, tapi tidak mampu nyatanya. Kedua matanya tetap sembab meski dia tegarkan hati. Anita menyaksikan Bagas mengucap ijab kabul di hadapan orang banyak. Meski belum sah karena kehamilan, tapi pernikahan itu sebagai penutup aib Bagas dan Delisa.
Meski wajah Delisa juga tidak tampak ceria, tapi Anita menaruh rasa iri padanya. Bagas kelihatan sangat bahagia saat itu. Memakai baju pengantin yang bagus, mereka berdua berdiri di atas pelaminan. Kedua orang tua Delisa adalah orang yang cukup kaya, jadi pesta pernikahan itu juga cukup mewah bagi Anita.
Berbanding terbalik dengan pernikahannya yang sangat sederhana karena dia lahir di keluarga yang sederhana pula. Bahkan tidak ada pesta pernikahan karena Bagas tidak menghendakinya. Dia marah jika Anita menyetujui permintaan orang tuanya untuk menikah dengan resepsi meski kecil-kecilan. Anita kira, semua itu karena Bagas adalah orang yang sederhana, tapi sekarang semua pemikiran itu musnah dengan kebahagiaan Bagas akan pesta pernikahannya hari ini.
"Anita, kamu harus kuat," ucap Wina yang datang bukan untuk mengucapkan selamat pada Bagas, tapi hanya untuk menemani Anita yang waktu itu menghubunginya berkali-kali dan menanyakan keberadaan Bagas saat reuni.
Wina merasa bersalah karena sempat mengabaikan insting Anita. Semalam Anita mengatakan padanya bahwa suaminya akan menikah lagi dengan mantan teman SMUnya karena sudah menghamili wanita itu. Itu membuat Wina yakin bahwa Bagas melakukannya di malam setelah reuni.
"Kamu perempuan yang hebat. Nggak banyak perempuan yang melapangkan dadanya menyaksikan pernikahan suaminya," ucap Wina hanya ingin membesarkan hati Anita.
"Aku bukan wanita kuat, Win."
Anita menerawang, tidak tahan menatap ke pelaminan. Ratusan orang hadir ke resepsi, seakan hanya Wina yang perduli dan semua mengabaikannya. Bahkan beberapa orang yang dia kenal karena mantan kakak kelasnya dulu, hanya disambut masam oleh Anita.
Wina menghela napas. Percuma juga memang untuk menguatkan Anita jika seumpama dia sendiri yang mengalami hal seperti Anita, dia juga tidak akan bisa. Wina hanya bisa mengelus lengan Anita. Dalam hatinya dia salut karena Anita masih bisa berdiri menyaksikan pernikahan suaminya. Suami yang selalu dia nanti akan menyambut cintanya, tapi ternyata sia-sia.
***
Anita menggendong Cia di dalam kamar. Dia hanya bisa terdiam di sana, tanpa melakukan apapun. Rumah yang dulunya menjadi tempat dia menunggu datangnya Bagas yang pulang dari kerja atau entah ke mana, sekarang menjadi ambang neraka baginya.
Bagas menggedor pintu kamar dengan suara kerasnya. Anita terperanjat karena sedang menikmati kesendirian beberapa hari itu setelah pesta pernikahan Bagas.
"Buka!"
Anita bergegas melangkah ke pintu. Dia cepat-cepat membuka pintu kamar dan melihat wajah garang sang suami.
"Kamu pindah ke kamar atas! Delisa lagi hamil, nanti akan membuatnya kesulitan kalo dia harus naik turun tangga! Buruan kamu pindah dari kamar ini!" bentak Bagas.
Darah Anita rasanya berdesir mendengarnya. Selama ini dia mengalah dan mengalah, tapi sekarang yang dia dapat hanyalah pengkhianatan.
"Kemarin aku disuruh pindah ke bawah, aku nurut. Sekarang kamu suruh aku pindah ke atas! Di mana perasaan kamu, Mas!" sahut Anita.
Bagas malah mencebik mendengar ucapan Anita.
"Kamu bilang kalo kamu nggak tahan dekat-dekat kalo aku lagi sama Delisa! Makanya kamu aku suruh jauhan kamarnya! Nanti kamu paling nangis kalo dengar apa yang kulakukan di dalam kamar sama istriku!" beber Bagas dengan wajah mengejek.
Anita menghela napas. Entah kenapa dia masih saja bertahan di rumah itu. Hanya melihat Cia, dia tidak tega jika nantinya Cia tumbuh tanpa seorang ayah, meski dia sendiri merasa sengsara.
"Aku juga manusia yang butuh diorangkan, Mas!" tutur Anita membela dirinya.
"Apa aku kurang mengorangkan kamu? Kamu bisa tinggal di sini saja, sudah lumayan, kan? Aku nggak mengusirmu?" ujar Bagas.
Anita mendesah berat. Rasanya habis harapannya tentang cinta. Bullshit rasanya mendengar cinta. Dia berikan cinta, tapi tidak ada balasannya. Rasanya putus asa.
"Udah, aku di atas juga nggak apa-apa, Gas."
Tiba-tiba Delisa sudah ada di belakang Bagas. Anita membuang muka saat melihat wanita itu. Meski Delisa tidak pernah berbuat jahat padanya, tapi rasanya sangat sakit melihat wanita itu ada satu atap dengannya, membuat segalanya berubah menjadi lubang siksa bagi hati Anita.
"Nggak, Sayang. Kamu nggak boleh kecapekan."
Sayang?
Anita menoleh pada Bagas. Panggilan itu tidak pernah dia dapatkan. Dia menggulirkan pandang ke arah Delisa yang berwajah sayu, tapi cantik meski polos tanpa make-up. Pantas saja Bagas tergila-gila dari masa sekolah dulu. Dia tidak tahan saat Bagaa menyisipkan anak rambut Delisa ke belakang telinga wanita itu. Sesuatu yang sangat diharapkan oleh Anita, tapi sampai detik ini tidak dia dapat.
Anita menerobos di belakang punggung Bagas, membawa bantal dan gulingnya.
"Hei! Pelan-pelan! Kalo sampe Delisa luka, kamu harus tanggung akibatnya!" teriak Bagas.
Anita tidak menggubris. Dia berjalan naik ke tangga. Memindahkan semua barangnya ke kamar atas. Bagas juga menyuruhnya membantu Delisa memindahkan baju-bajunya.
"Dia lagi hamil. Kalo sampe kamu nggak bantu, akan terjadi apa-apa sama istriku, kamulah yang aku salahkan!" kecam Bagas.
Bagas mencium kening Delisa, lalu berpesan sesuatu sebelum dia pergi. Anita menatapnya dengan perasaan iri. Namun, dia tetap melakuka pekerjaan rumah tangga agar Bagas tidak lagi marah-marah di rumah.
"Mbak, udah aku aja yang angkat," tutur Delisa halus, memegang koper yang sedang dibawa Anita.
Anita hanya diam, menahan sesak dalam d**a. Kenapa wanita itu cantik juga baik? Kenapa perilaku dia sangat halus dan sempurna? Semua itu malah menyakit hati Anita. Saingannya sangat sempurna hingga dia tidak mampu menyamainya.
"Aku adik kelasmu. Harusnga kamu nggak panggil aku dengan 'mbak'," sahut Anita dengan asal.
Lalu, dia mengangkat kembali koper Delisa dan meletakkannya di kamar bawah. Delisa mengikuti Anita. Dia seperti berusaha mendekati Anita.
"Anaknya cantik, Mbak."
Seharusnya Anita tersenyum dengan pujian itu, tapi dia menghela napas. Sungguh, dia tidak ingin melukai wanita itu dengan ucapan tajamnya saat hatinya sakit. Wanita itu serasa terlalu baik untuk disakiti.
Anita hanya diam menaruh koper Delisa di kamar tamu. Dia melirik ke arah Delisa yang mengelus pipi Cia. Bayi itu malah mengoceh karena Delisa memancing ocehannya. Anita tertegun sebentar, lalu menghela napas kembali.
"Ini mau aku tata atau gimana?" tawarnya berbasa-basi pada Delisa.
"Eh, nggak usah, Mbak. Aku aja yang menata. Udah dibantu bawakan aja, aku terima kasih banyak," ucap Delisa.
Tulus atau tidak, tapi Anita merasa belum bisa menerima Delisa menjadi madunya.