Bab 12. Kukira Kau Rumah

1005 Kata
Satu mangkuk sup telah dihidangkan oleh Anita di atas meja makan. Bagas dan Delisa telah duduk di ruang makan. Bagas memegang tangan Delisa, seolah Anita adalah batu di antara mereka. "Kamu harus makan makanan bergizi, Sayang. Pasti anak kita lahir tampan kalo laki-laki dan cantik seperti ibunya kalo perempuan." Delisa menarik tangannya dari genggaman Bagas saat Anita masuk. Menyadari itu, Bagas melengos pada Anita. Dalam pikirannya, Anita yang membuat Delisa seringkali tidak mau dia perlakukan dengan mesra. "Ngapain kamu lama-lama, Nit? Ada bayi yang harus kamu urus. Kenapa malah diam di situ? Harusnya habis masak kamu mandiin bayi kamu atau apalah ... asal jangan di sini," ujar Bagas ketus. Anita terhenyak mendengarnya. Bagas sudah menyuruhnya memasak dan melarang Delisa untuk menyentuh barang-barang dapur, tapi sekarang pria itu malah mengusirnya tanpa perasaan. Tampak tangan Delisa menarik baju Bagas agar tidak bersikap buruk pada Anita, tapi tetap saja Anita meradang. Rasanya hati tersayat ketika pengorbanannya tidak dihargai sama sekali. Anita sudah tidak tahan lagi. Dia menampik mangkuk berisi sup di atas meja sampai pecah di lantai berkeping-keping dan tentu saja isinya tumpah di lantai. "Perempuan nggak tau diri! Apa yang kamu lakukan! Dasar i***t!" maki Bagas, berdiri dan menjambak rambut Anita. "S-sakit!" erang Anita. "Bagas! Lepasin, Gas! Kasihan Mbak Nita!" teriak Delisa, mencoba menarik tangan Bagas. Wajah Delisa benar-benar tidak tega melihat Anita merintih kesakitan karena rambutnya ditarik dengan kasar oleh Bagas. "Sakit!" rintih Anita. Namun, Bagas tetap merasa kesal, sampai kakinya malah menendang perut Anita sampai tersungkur. "Bagas!" jerit Delisa dengan raut marah pada Bagas. Delisa mendekati Anita, tapi ditarik oleh Bagas. "Nggak usah kamu kasihan sama dia, Sa. Dia akan kurang ajar kalo dibiarkan. Sekarang dia memecahkan mangkuk, besok dia bisa memecahkan tulang kakimu." Bagas merangkul Delisa yang sebenarnya masih ingin membantu Anita untuk berdiri, tapi dia mengikuti Bagas agar Anita tidak lagi disakiti. "Ibuu ...." Anita menangis, mengepalkan tangannya dan memukul lantai seraya memegangi perut. Perutnya memang sakit karena tendangan Bagas, tapi bertambahlah sakit hatinya karena Bagas lebih memanjakan Delisa ketimbang menghargai pengorbanannya. Bukankah bertahan dan melayani kedua orang itu sudah sangat berat untuk hatinya? Anita sangat frustasi. Terlebih, suara bayi yang menangis di dalam kamar atas terdengar mengganggu telinganya, membuatnya tambah stress. Susah payah Anita bangkit dan berjalan ke atas. Dia berjalan masuk ke kamar dan melihat bayinya meraung di dalam box. Semua yang di ruangan itu bagai kegelapan di mata Anita. Dia meraih box bayi, menggesernya dengan kasar. Lalu menatap bayinya dengan pandangan sayu. "Kamu bisa diam, nggak? Apa kamu cuma menambah masalah buatku?" racau Anita tanpa sadar. Namun, bayi yang kehausan itu malah tambah menangis kencang melihat ibunya tidak segera memberikan ASI. Anita tambah marah. Dia mengambil bantal dan membawanya mendekat ke box bayi. "Diam atau aku bekap kamu pake bantal ini," desis Anita, menunjukkan bantal itu ke arah Cia yang meraung semakin kuat. "Diam!" bentak Anita. Dia meletakkan bantalnya ke wajah bayi yang menangis seraya menelengkan kepala demi mencari celah oksigen. Lalu, jari-jarinya mulai menekan bantal itu. "Astaga, Mbak!" jerit Delisa yang mendatangi Anita karena suara tangis bayi yang makin menjadi. Delisa mendekat dan menarik tangan Anita, melempar bantal ke lantai dan mendorong Anita agar menjauh dari box bayi. "Mbak, sadar, Mbak! Ini bayi kamu, lahir dari rahim kamu. Jangan kamu bekap dia. Inget Tuhan, Mbak." Ucapan Delisa membuat Anita tertampar keras. Seketika dia tersadar dan kemudian menangis sejadinya. Anita luruh ke lantai, tapi kemudian semua yang seharusnya menjadi tenang kembali keruh saat Bagas berlari ke atas mencari Delisa. "Apa lagi Anita! Kamu mau cari gara-gara? Apa kamu mau cari perhatian kami? Delisa lagi hamil! Dia nggak boleh kecapekan! Malah kamu buat dia naik ke atas cuma untuk melihat bayimu! Aku muak dengar suara tangis bayimu! Aku muak lihat kalian! Pergi saja kalian!" bentak Bagas dengan kedua mata marah. "Bagas, jangan gitu!" sergah Delisa. "Aku yang mau ke sini, bukan gara-gara Mbak Nita!" imbuh Delisa lagi. Anita menatap Bagas dengan tatapan nyalang. Lukanya sudah sangat dalam. Bagas mengusirnya. Selama ini dia bersabar sampai dimadu pun, dia tetap bertahan, tapi akhirnya Bagas mengusirnya juga. Satu hal yang Anita takutkan kini terjadi. "Kamu nggak usah belain dia. Ayo, kembali ke kamar, Delisa." Anita menggigit bibir. Dia menarik napas panjang agar rasa sesaknya agak terkurangi. Lalu, dia memutuskan sesuatu. "Baik! Aku akan pergi hari ini juga!" teriak Anita. Bagas hanya menoleh sebentar, diikuti dengan raut kaget Delisa mendengar ucapan Anita. "Bagus kalo gitu," sahut Bagas. Anita terisak. Dia berdiri dan berjalan ke arah Cia. Bayi itu sepertinya lelah menangis dan terisak lirih. "Maafkan mama, Nak. Maaf, mama janji nggak akan melakukan hal bodoh lagi," isak Anita, menggendong anaknya dan menyusui agar bayinya tidak kehausan lagi. Anita mengelus kepala bayinya dengan sayang. Dia merenung. Hari itu dia harus segera pergi dari rumah Bagas. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Bagas. "Sepertinya dia sengaja agar aku nggak betah di sini. Aku akan menurutimu, Mas. Aku pergi hari ini juga." Meski belum punya tujuan dan bingung akan ke mana, tapi Anita tetap mengemasi bajunya. Memasukkannya ke dalam koper sambil mengendong Cia. Sudah tidak terhitung air mata yang mengaliri pipi. Anita sampai mengikis rasa cintanya pada Bagas. Pria itu tidak kelihatan batang hidungnya saat Anita menyeret kopernya ke lantai bawah sambil menggendong Cia. Anita keluar, menyeret kopernya. Dia menatap ke sekitar sebentar. "Apakah ini takdir yang musti aku jalani? Apa kesalahanku sangat besar, Ya Tuhan?" gumamnya, menatap ke langit. Sebuah taksi berhenti di depan Anita. Dia langsung masuk ke dalam taksi setelah driver membantu memasukkan kopernya ke bagasi. "Mau ke mana, Kak?" tanya driver. "Antar saya ke terminal," sahut Anita memutuskan dengan cepat tujuannya. Apapun keadaannya, baik dan buruknya, dia harus mengatakan pada ibunya. Saat seperti itu, rasa rindu pada ibunya semakin menjadi. Anita segera ingin pulang dan menemui ibunya. Sejenak, dia menatap ke rumah Bagas yang makin menjauh karena taksi yang terus melaju makin jauh. Sungguh, tidak ada suami yang masih dia harap akan keluar untuk menahannya pergi. "Kukira kau rumah, ternyata tidak." Perih. Pada akhirnya Anita tidak bisa memperjuangkan hatinya. Meski sebesar apapun cinta dan pengorbanannya, tapi tidak cukup juga untuk meraih cinta Bagas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN