Bab 13. Kembali ke Rumah

1007 Kata
Anita menggendong anaknya seraya menyeret koper melewati jalan-jalan di mana dulu masa kecilnya dia habiskan di situ. Dia menyunggingkan senyum saat melihat suasana yang agak berubah di tempat tinggalnya. Kenangan-kenangan semasa kecilnya terlintas, menari indah dalam benak. "Senangnya masa kecilku. Main boneka, main lompat tali. Ah, masalah beratku hanya PR matematika saat itu. Anita menatap bayinya. Ada sesal, tapi juga ada si kecil yang memercikkan kebahagiaan tersendiri. Cia adalah obat dari segala kegundahannya. Kedua mata Anita berkaca-kaca saat teringat dia nyaris membunuh darah dagingnya sendiri beberapa waktu yang lalu. Sedikit bersyukur karena meski bagaimanapun, Delisa telah menyelamatkannya. Entah apa yang akan dia terima sekarang jika tidak ada yang menyadarkan dirinya. Anita mencium kening Cia. Bayi yang tidur nyenyak dalam pelukannya itu. Tidak ada raut dendam meski ibunya nyaris menghilangkan nyawanya. "Mama nggak akan lagi membiarkan kamu sakit, Nak." Anita melanjutkan langkahnya menuju ke rumah. Kakinya berhenti di depan rumahnya. Sebuah rumah yang sederhana dan banyak sekali kenangan saat kecil di situ. Kemudian, dia melangkah mendekat ke pintu. Agak ragu sebelum mengetuk, bayinya menggeliat dan menangis. Seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh untuk keluar. Pintu dibuka oleh Rahma, ibu Anita. "Ya Allah, Nak? Anita? Ini Cia?" berondong Rahma saat itu. Rahma memeluk Anita sejenak. Menciumi kedua pipi anak perempuan yang dia rindukan itu. Kemudian menciumi kedua pipi Cia. Meski kaget, tapi dia juga senang akan kedatangan anak dan cucunya. Lama mereka belum bertemu lagi setelah Anita melahirkan Cia. Rahma membuka pintu lebar-lebar agar Anita bisa masuk. Dia masih mengawasi sekitar. Anita tahu yang ada di kepala ibunya. "Aku sendirian, Bu." Rahma heran juga, tapi dia bisa menanyakannya nanti. Dia menutup pintu utama dan cepat-cepat menyuruh Anita duduk. Rahma mengambil Cia dari gendongan Anita dan menimangnya sebentar. Lalu, dia letakkan di atas sofa yang dia jaga setelah Cia kembali tidur. Rahma menatap ke arah Anita setelah suasana kembali tenang. Ada sebuah pertanyaan di benaknya tentang ketidak adanya Bagas bersama anak dan cucunya. Seharusnya seorang suami masih bertanggung jawab mengantarkan istri dan anaknya yang masih bayi ketika bepergian ke luar kota seperti itu meski ke rumah ibunya sendiri. "Kenapa–" "Bu, bagaimana proses cerai itu?" tanya Anita, memotong pertanyaan Rahma. Seketika tangis Anita tumpah di hadapan ibunya. Rasanya tidak kuat menahan sesak di dalam d**a yang dia pendam beberapa hari itu. Melihat ibunya, rasa hati Anita ingin menahan diri, tapi tidak bisa. Air mata tumpah seketika tanpa bisa dia tahan. Rencana untuk menutup perasaan sedihnya, bubar sudah. "K-kalian kenapa?" tanya Rahma, mengelus lengan Anita. Meski terlihat ingin membuat anaknya tenang, nyatanya hatinya hancur mendengar pertanyaan Anita yang menunjukkan bahwa pernikahan putri pertamanya itu tidak baik-baik saja. Semula, dia memang tidak menyetujui pernikahan itu, tapi apa boleh buat karena Anita hamil duluan, maka dia otomatis harus setuju. Terlebih lagi, Anita tampak sangat mencintai Bagas waktu itu. "Mas Bagas ... Mas Bagas nikah lagi, Bu!" isak Anita, menumpahkan segala kekesalannya dengan menangis sepuasnya di pelukan Rahma. Kedua mata Rahma berkaca-kaca. Hatinya turut sakit mendengar penuturan dan kondisi Anita. Wajah putrinya yang dulu dia sayangi, dia upayakan memiliki kehidupan yang layak, dia lindungi ketika dalam bahaya, dia usahakan kesembuhannya ketika sakit, malah sekarang dengan mudahnya disakiti oleh menantunya sendiri. Rahma memeluk Anita dengan erat. Badan Anita kurusan sekarang. Dia mengerti. Pernikahan Anita pasti tidak sebahagia yang diharapkan oleh anak perempuannya itu. Ternyata, Bagas pun tidak bisa menjadi pengganti sosok ayah bagi Anita. Pelindung anak perempuannya itu juga berpisah dengan Rahma sejak Anita kecil. Memasrahkan Anita pada Bagas ternyata adalah kesalahan yang disesali oleh Rahma sekarang. "Kapan itu? Kenapa ibu tidak tahu saat Bagas menikah lagi?" tanya Rahma. "Maaf, Bu. Sengaja Anita nggak kasih tau Ibu, karena Anita nggak mau Ibu pikiran," isaknya, melepas perlahan pelukan ibunya dan menatap kedua mata bening sang ibu. Rahma mengusap dua bulir yang membasahi pipi Anita. Sakit sekali rasanya melihat anaknya menderita. Wanita mana yang hatinya baik-baik saja saat suaminya mendua? "Apa dia tinggal serumah dengan kalian?" tanya Rahma lirih. Dia tahu, Anita pasti sudah sakit sekali saat mengatakan suaminya menikah lagi. "Iya, dan dia tidak bisa bersikap adil, Bu. Dia selalu memerintah aku untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga, tapi istri keduanya dia sayang-sayang." Anita laksana anak-anak yang mengadu pada ibunya. Tumpah semua perasaan kecewa dan sedihnya saat itu. Dia baru merasa agak berkurang sesaknya setelah mencurahkan semua perasaan pada seseorang. Selama ini dia memendamnya. Bercerita dengan Wina juga kurang memuaskan. "Astaga," ucap Rahma, mengelus dadanya sendiri. Hatinya perih mendengar anaknya dimadu, tambah lagi diperlakukan tidak adil oleh menantunya sendiri. "Sabar, Nita. Apa sudah kamu pertimbangkan perceraian itu?" tanya Rahma, meski dia sendiri gemas dan ingin Anita berpisah dengan Bagas, tapi dia juga harus menjadi penengah. "Buat apa bertahan dalam pernikahan yang tidak sehat, Bu? Dia tidak pernah mencintaiku. Mas Bagas selalu bilang begitu padaku. Aku telah salah menikah dengannya, Bu." Rahma membiarkan Anita meluapkan perasaannya. Pasti rasanya stress selama ini berada dalam rumah yang menjadi neraka baginya. "Kalau itu yang terbaik, lakukanlah, Nita." Anita menyusut air matanya. Menatap kedua mata ibunya. Semula dia tidak yakin dengan pemikirannya untuk menggugat cerai suaminya, tapi perasaannya tidak kuat lagi. Menyaksikan suaminya lebih menyayangi wanita lain, membuatnya kecewa dan sedih. Anita mengangguk. Seolah ada kekuatan yang mendorongnya untuk mewujudkan pemikirannya itu. Itu kekuatan dari seorang ibu. Ibunya telah setuju dengan perpisahannya. "Jika memang dirasa tidak ada perubahan, maka lakukan apa yang menurutmu bisa membuat nyaman. Yang penting kewarasan kamu, Nak. Ibu nggak mau kamu tertekan di rumah suami kamu itu." Anita mengangguk lagi. Memang, hanya ibunyalah yang bisa mengerti perasaannya. "Iya, Bu. Makasih, Bu." Plong rasanya, tapi sebuah keputusan penting dia bentuk saat itu. Anita harus membulatkan tekad untuk berpisah dari Bagas yang sangat dia cintai. Rasanya memang sayang sekali, tapi mengingat segala pengorbanan yang dia lakukan dan itu semua tidak berguna bagi harapannya, Anita memilih untuk mengalah. "Perceraian itu bukan hal yang terbaik, tapi kadang perceraian itu melegakan." Ucapan Rahma membuat Anita merasa agak tenang. Meski saat melihat Cia, tidak tega rasanya untuk membiarkan dia tumbuh tanpa sosok ayah. Bagaimana masa depannya, Anita masih gamang. Yang penting, sekarang dia sudah memutuskan. Mungkin keputusannya itu bisa membuat sebuah lembaran baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN