Rahma menggendong Cia paginya. Anita merasa lebih nyaman berada di rumah ibunya. Meski kadang jika teringat dengan Bagas, rasanya pedih sekali dengan pengkhiatan suaminya. Terkadang, Anita mengintip akun sosial media milik Delisa. Meski yang dia lakukan hanya menabur garam ke lukanya. Namun, dia merasa penasaran dengan wanita yang dipuja-puja oleh Bagas.
Anita bisa stalking akun Delisa karena berteman dengan suaminya. Terkadang, bulat tekad Anita untuk berpisah, tapi kadang dia merasa enggan.
Rahma membiarkan Anita yang lebih merasa tenang saat hari-hari di rumahnya. Dengan dekat bersama anak dan cucunya, dia sendiri merasa terhibur. Apalagi, Cia sedang berada di usia yang sedang lucu-lucunya.
"Bu, apa Ibu kerepotan dengan adanya aku dan Cia?" tanya Anita setelah seminggu dia berada di rumah ibunya.
"Kamu kok bilang gitu, mana ada nenek yang kerepotan sama anak dan cucunya? Justru, ibu sangat bahagia kalian ada di rumah ini."
Anita memeluk gulingnya sambil memperhatikan ibunya yang sedang sibuk mengganti popok Cia. Anita agaknya bisa beristirahat cukup karena dibantu oleh ibunya mengurus Cia. Rahma memang tidak pernah menunjukkan keberatan. Namun, Anita selalu memakai perasaannya. Terlebih, setelah dia tinggal bersama Bagas. Apapun yang dia lakukan, selalu diwarnai dengan rasa khawatir jika merepotkan.
"Ya ... aku cuma takut kalo Ibu merasa keberatan dengan adanya aku di sini. Aku cuma bisa merepotkan Ibu. Makan ikut Ibu, bahkan Cia selalu Ibu belikan kebutuhannya. Meski baru satu minggu, tapi Anita sudah sangat merasa tidak enak.
"Ibu tau benar siapa kamu. Tapi, kebetulan kamu bilang begitu. Nita, Ibu mau bicara sebentar. Kalo kamu bersedia, kamu mungkin akan menerima tawaran Ibu."
Anita mengernyitkan dahi. Dia merasa ada hal besar yang akan disampaikan oleh Rahma. Rahma meletakkan Cia ke tempat tidur dan duduk dengan nyaman di atas tempat tidur juga, sehingga mereka bertiga berada di tempat tidur yang sama. Anita penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Rahma.
"Begini, apa kamu mau kalau ada kegiatan untuk mengisi waktu?" tanya Rahma.
"Kegiatan? Apa itu bisa menghasilkan uang, Bu?" tanya Anita yang memang sudah ingin sekali bekerja demi kebutuhannya dengan Cia. Siapa lagi yang akan menanggung biaya hidup mereka? Meski memiliki hak, tapi Anita tau, dia pasti hanya akan mendapatkan cemooh jika meminta haknya pada Bagas.
"Tentu saja."
Kedua mata Anita agak berbinar mendengar sahutan ibunya. Namun, kedua mata itu kembali meredup saat teringat sesuatu.
"Ibu, aku sih semangat dan setuju saja kalo ada kegiatan yang menghasilkan. Tapi masalahnya, Cia nanti diasuh siapa selama aku berkegiatan?" keluh Anita. Dia tidak mau merepotkan siapa-siapa.
"Ada Ibu dan Bik Dariyah. Ibu bisa mengasuh Cia. Apalagi, kegiatan itu tidak akan banyak menyita waktu kamu. Kamu bisa ambil kursus sambil melakukan pekerjaan itu."
Kedua mata Anita terbelalak mendengar ucapan ibunya. Sekalinya ada kegiatan, kenapa berlipat begitu?
"Memangnya, apa kegiatanku, Bu?" tanya Anita yang tidak sabar dengan rasa penasarannya.
"Kamu bisa bantu Ibu di perusahaan kecil," sahut Rahma.
Kening Anita berkerut.
"Perusahaan?" ulangnya, tidak mengerti. Selama ini dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh ibunya.
Anita hanya tahu ibunya menjahit demi kelangsungan hidup.
"Nita, sebenarnya selama kamu tinggal, ibu mendapat warisan dari kakek dan nenek. Karena bingung uang ratusan juta itu untuk digunakan apa, ibu berinisiatif membangun usaha kecil-kecilan. Ibu nekat mengontrak rumah di pinggiran kota dan membeli beberapa peralatan jahit. Ada enam pekerja di sana. Tadinya cuma dua orang, tapi ternyata lama kelamaan berkembang selama hampir dua tahun ini."
Anita mengedarkan pandang. Baru dia mengerti sekarang kenapa perabotan ibunya banyak yang sudah diganti. Dia memang tahu ibunya mendapat warisan. Dia kira, uang warisan itu digunakan Rahma untuk membeli perabotan baru. Ternyata Rahma lebih pandai dari pikiran Anita.
"Benarkah, Bu?" tanya Anita masih belum percaya.
"Iya, kalo kamu nggak percaya, besok ibu ajak ke pinggiran kota itu. Seminggu ini para karyawan sedang mengerjakan pesanan kaos olahraga dan seragam sekolah."
Anita takjub sekali. Dia memang menangkap kegigihan ibunya saat bekerja untuknya dulu, tapi dia tidak menyangka Rahma akan melakukan hal sebesar itu.
"Ah, ke mana saja aku? Sampai-sampai nggak tau kalo selama aku tidak menghubungi atau mengunjungi Ibu, Ibu malah sudah memiliki sebuah usaha besar. Ah, ya ampun kebangetan aku jadi anak Ibu," keluh Anita, menepuk dahinya sendiri.
"Nah, karena ada kamu, sekarang kamulah yang akan melanjutkan usaha Ibu. Nantinya kamu juga yang akan menghandle semua, Nita. Kamu bisa ambil kursus atau kuliah management kalo mau serius."
Anita sungguh terpercik semangat dengan ucapan ibunya. Percikan itu bagai api yang disulut dengan bensin. Membara, tapi setelah dia menoleh ke arah Cia, dia kembali surut.
"Nggak usah kamu pikirkan Cia. Cia aman sama ibu. Kamu kan bisa pulang setiap hari. Kita bersama-sama mengembangkan usaha itu, Nita."
Anita memegang kedua pipi ibunya. Wanita itu memang lebih menarik penampilannya sekarang. Tadinya Anita hanya menganggap angin lalu, tapi melihat keseharian Rahma yang memakai baju modis dan penampilan yang lebih baik dari dulu, dia sekarang paham.
"Pantesan Ibu tambah cantik dan lebih modis sekarang. Itu karena Ibu adalah pengusaha. Ibuku pintar sekali mengembangkan usaha," puji Anita, mengelus pipi ibunya dan kemudian memeluknya.
Anita merasa menyesal kenapa di saat ibunya sedang berusaha, dia sendiri tidak ada di samping Rahma. Malah sibuk mengurusi urusannya sendiri.
"Maafkan aku, Bu. Karena aku nggak tau kalo Ibu sedang berjuang untuk usaha Ibu. Aku malah sibuk dengan kehidupanku sendiri," sesal Anita. Malahan, hidup dengan pria yang dia perjuangkan menjadi sia-sia sekarang.
"Ibu hanya ingin bermanfaat bagi orang lain. Selain kita bisa mendapatkan keuntungan, kita juga bisa memberi lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sebelum itu, kamu tau kan kalo Ibu juga sering memberi kursus menjahit? Nah, anak-anak yang kursus itu juga butuh pekerjaan. Merekalah yang menjadi karyawan Ibu," beber Rahma.
Anita menutup sebagian wajahnya. Dia tidak menyangka ibunya akan bergerak sehebat itu. Meski tidak besar, tapi itu sangat luar biasa.
"Ibu luar biasa," ucapnya.
Rahma tersenyum, lalu menghela napas.
"Ibu tawarkan ini semua karena ibu juga nggak tega lihat kamu. Kamu harus bisa sukses, Nak. Agar dia yang mencampakkan kamu tidak bisa lagi merendahkanmu."
Anita mengangguk-angguk. Paham mendengar keinginan ibunya. Mereka kemudian berbincang tentang usaha ibunya. Namun, di tengah-tengah serunya perbincangan mereka, suara pintu diketuk membuat mereka harus menghentikan pembicaraan.
"Siapa, Bu?" tanya Anita.
"Nggak tau, Nita. Coba kamu lihat dulu."
Anita mengangguk, lalu beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Anita terhenyak melihat siapa yang berdiri di depan pintu.