"Bu ... Ibu?"
Anita tidak percaya melihat wanita paruh baya yang menatapnya penuh kerinduan. Tantri, sudah berdiri di depan pintu dengan wajah sedih.
"Nita ... kenapa kamu nggak bilang kalo kamu pulang, Nak?" tanya Tantri mendekap tubuh kurus Anita.
Rasanya sungkan pada Rahma, besannya. Namun, rasa rindunya pada Anita dan Cia telah mengalahkan itu semua. Dia sampai mengabaikan perasaan sungkannya itu pada sang besan dengan menyusul Anita.
"Benar dugaan ibu kalo kamu pulang ke sini, Anita. Maafin kelakuan Bagas ya, Nak?" pinta Tantri.
Di tangan Tantri ada sebuah kantong berisi buah tangan yang dia bawakan untuk Anita, Cia dan juga Rahma.
"Lho, Bu Tantri, sama siapa, Bu? Mari, silakan masuk."
Meski jengkel anaknya diperlakukan dengan tidak baik, tapi Rahma belum pernah mendengar Tantri bersikap buruk pada Anita. Jadi, dia berusaha untuk bersikap netral pada Tantri.
Wajah Tantri agak memucat melihat Rahma menyambutnya. Ini bagai wajahnya disiram air. Malu terhadap Anita dan Rahma. Semua itu gara-gara Bagas.
"Maaf Bu Rahma, maafkan kelakuan anak saya. Saya sudah berusaha memperingatkannya, tapi dia malah mencoreng nama keluarga. Saya mohon maaf sekali lagi pada Bu Rahma."
Tidak disangka, Tantri bertekuk lutut di hadapan Rahma. Sungguh, dia malu sekali memiliki anak seperti Bagas. Menelantarkan Anita, malah membawa seorang wanita yang telah dia peristri. Sampai pada saat ini, Tantri harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan seperti saat itu. Anita pulang ke rumah orang tuanya.
"Bu Tantri, sudahlah. Semua sudah terjadi. Anda tidak perlu berlutut seperti itu. Saya sudah berlapang d**a. Memang, Risiko orang berumah tangga, ada akhir bahagia juga ada akhir mengecewakan."
Tantri mengulas senyum getir mendengar ucapan Rahma. Dia sudah merasa lumayan tenang melihat Anita baik-baik saja di rumah Rahma. Bagas sendiri enggan mencari keberadaan Anita. Dia malah senang karena bebas tidak terganggu oleh Anita dan Cia.
Rahma membantu Tantri bangkit. Rahma tau, hati Tantri tulus meminta maaf. Mertua mana yang sebaik Tantri, mau menyusul Anita ke rumah ibunya karena rasa cemas? Rahma mempertimbangkan itu semua untuk menahan emosinya.
"Silakan duduk dulu, Bu Tantri."
Tantri bergeming. Lalu, menangkap sikap Tantri yang mungkin tidak ingin masuk dengan terlalu lama berkubang dalam perasaan malunya, Anita berinisiatif mengambil Cia untuk dia bawa ke teras rumah. Benar saja, wajah Tantri berseri-seri melihag cucu kesayangannya.
"Cia, nenek kangen sekali sama Cia," ujar Tantri menerima tubuh Cia untuk dia gendong. Sejenak, Anita membiarkan Tantri melepas rasa rindunya pada Cia dengan menggendongnya di teras.
"Kamu nggak bisa bujuk Bu Tantri masuk, Nit?" tanya Rahma yang juga menatap ke arah Tantri yang agak menjauh, menunjukkan bunga-bunga di depan rumah pada cucunya.
"Udah Bu, biar ibu mertua menikmati kebersamaan dengan Cia. Dia sungguhan kangen pada kami."
Rahma mengangguk-angguk.
"Kamu bikinin minum aja, Nit. Sekalian ada makanan di atas meja, kamu bisa hidangkan buat Bu Tantri," titah Rahma.
Anita dengan patuh menuruti perintah ibunya. Dia pun masuk ke dalam untuk menbuatkan minuman.
Sambil menggendong Cia, Tantri mendekat ke arah Rahma. Dia menatap penuh harap kepada Rahma.
"Bu, saya sungguh tidak ingin kejadian seperti ini. Andai istri kedua Bagas belum hamil, saya pasti akan memisahkan Bagas dan istri barunya sebelum menikah. Saya sungguh menyayangi Anita dan Cia. Sampai selamanya mereka akan saya anggap bagian dari keluarga saya. Saya harap, Anita tidak bercerai dengan Bagas," isak Tantri. Baru kali ini Tantri tampak tidak tegar.
"Sudah Bu, semua sudah terjadi," sahut Rahma. Memang sakit terus menerus membicarakan soal Bagas. Rahma ingin sekali menyiram Bagas dengan air panas jika dia sudah tidak waras. Namun, Anita masih sangat menbutuhkan dirinya. Bertindak bodoh seperti itu hanya akan mengantarkannya ke pintu penjara.
"Saya berharap Anita tidak berpisah dengan Bagas. Saya kurang suka dengan Delisa, entah kenapa," beber Tantri.
Rahma menghela napas. Apa yang disampaikan oleh Tantri berbanding terbalik dengan keinginannya. Rasa sayang Tantri mulai menjadikan dirinya takit kehilangan seorang menantu yang sederhana dan begitu rajin.
"Saya hanya menyerahkan pada Anita saja, Bu. Dia sendiri yang punya keputusan musti harus gimana. Kita tidak bisa mengaturnya, Bu."
Tantri mendesah mendengar ucapan Rahma. Tantri duduk dengan gelisah. Dia berharap bahwa Bagas berubah dan bisa menerima Anita dengan baik. Namun, dia sendiri tidak berharap apa-apa pada Delisa.
Setelah beberapa saat, Tantri meletakkan Cia yang sudah tertidur ke gendongan Anita. Dia masih ingin berkunjung, tapi tentu saja suasananya berbeda ketika dia mengunjungi Anita di rumah Bagas.
"Saya kira, ini sudah sore. Saya mau pamit pulang dulu, Bu Rahma. Terima kasih atas pengertiannya."
Tantri berpamitan pada Rahma dan Anita. Dia memeluk Anita dengan erat, seolah esok dia tidak akan lagi bisa bertemu dengan Anita. Dia sudah menganggap Anita adalah anak kandungnya sendiri. Jadi, begitu berat jika Anita akan memutuskan untuk berpisah dengan Bagas. Karena itulah, Anita juga merasa sulit untuk melepaskan status pernikahannya.
Tantri pulang. Rasa rindunya sudah terobati. Anita mengantarnya ke jalan. Tantri menaiki sebuah bus eksekutif untuk pulang kembali ke kotanya.
Rahma mengajak Anita masuk ke dalam kamar usai Tantri pulang.
"Kenapa, Bu?" tanya Anita dengan penasaran.
Rahma membuka lemari putih yang ada di dalam kamar.
"Lihat, kamu bisa pakai semua ini saat bekerja, Nita. Ibu sudah persiapkan semua."
Anita merasa trenyuh melihat apa yang dilakukan oleh ibunya. Betapa dia ingin agar anaknya hidup dengan mulia. Baju-baju itu sangat bagus. Pasti harganya sangat mahal.
"Ibu boros sekali," sungut Anita.
Rahma mendengkus. Dia melihat penampilan Anita dari atas ke bawah.
"Lihat apa yang kamu pakai, Nita. Baju kamu udah usang. Mendingan sekarang kamu pakai baju-baju itu. Rawat dirimu mulai sekarang. Ayo, ganti baju lalu ikut ibu," ajak Rahma.
Anita mengerutkan dahinya. Dia melihat di cermin. Memang, penampilannya sungguh seperti tidak terurus. Dia sendiri lupa kapan memotong rambutnya karena sibuk dengan urusan rumah tangga.
"Ibu juga mau siap-siap. Nanti, ibu yang gendong Cia. Hm, mungkin kita butuh beli stroller jika mengajak Cia jalan-jalan," celetuk Rahma.
Anita hanya menggelengkan kepala dengan ibunya itu. Namun, dia sendiri penasaran akan dibawa ke mana oleh ibunya. Baju-baju yang ada di lemari ada dua belasan potong dan dia yakin baju itu tidak ada yang murah. Anita mencoba memadankan baju-baju itu ke badannya. Dia tersenyum ketika rasa percaya dirinya kembali tumbuh setelah dua tahun ini ditumbangkan oleh Bagas.
"Aku harus berubah lebih baik," tekad Anita melihat pantulan dirinya di cermin.