Anita berdiri termangu di depan sebuah klinik kecantikan. Sejak kecil, hidupnya sederhana dan dia tidak pernah memasuki tempat perawatan seperti itu. Dia yang sedang menggendong sang anak, menoleh pada ibunya.
"Apa Ibu sering ke sini?" tanya Anita, memperhatikan wajah ibunya yang dia sadari lebih bersih dan terawat.
"Iya, bercak-bercak hitam di wajah ibu sangat mengganggu penampilan. Jadi, ibu putuskan untuk merawat diri. Sekarang, hasil dari usaha ibu bisa digunakan untuk itu. Apa lagi sih yang bisa ibu lakukan buat menghibur diri? Kamu tau sendiri kan, ayahmu pergi begitu saja. Dia kecantol wanita lain. Jadi, ibu harus bangkit menjadi lebih baik, bukan malah terpuruk. Membahagiakan diri sendiri dengan hal yang positif lah yang ibu ingin jalani sekarang."
Anita tertegun mendengar ucapan ibunya. Baru setelah dirinya menikah, sang ayah pergi dengan perempuan lain. Anita menatap dirinya di pantulan dinding kaca. Dia memiliki nasib yang tidak jauh berbeda dengan sang ibu. Apakah memang takdir mereka seperti itu? Apakah semua lelaki sama saja? Anita mendesah berat. Untuk saat ini pikirannya tentang lelaki memang begitu, semua lelaki sama saja.
Namun, apa yang dikatakan oleh ibunya memang benar. Dia tidak boleh terpuruk dalam kesedihan. Dia harus bangkit. Anita menggenggam tangan ibunya. Dia tidak membersamai sang ibu ketika menghadapi waktu-waktu sulit saat cintanya diduakan, tapi wanita itu begitu kuat dan tegar. Sampai ingin mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik dan itu sekarang sedang dibuktikan oleh Rahma. Harapan dunianya akan lebih baik.
"Sini, ibu gendongkan Cia. Kamu nikmati saja perawatan di sana. Berkonsultasi sama dokter tentang masalah kulit kamu," ujar Rahma, mengambil alih asuhan Cia ke gendongannya. Di belakang klinik ada taman dan Rahma membawa cucunya ke sana untuk menikmati taman selagi Anita melakukan perawatan.
"Tapi, nanti merepotkan–"
"Ibu lebih repot lagi kalo melihatmu sedih. Udah, sekarang mulai lembaran baru. Kita harus menikmati hidup kita dengan hal-hal positif, Nita. Nggak perlu mikirin hal-hal negatif."
Rahma tidak terima anaknya dihina oleh Bagas. Sejak Anita kecil memang hidup dalam kesederhanaan. Sampai menikah pun, Anita harus menjalaninya tanpa perayaan.
"Baiklah, Bu."
Anita memberikan Cia ke gendongan ibunya. Mungkin karena merasakan kasih sayang sang nenek, baru beberapa hari Cia sudah nyaman bersama dengan Rahma.
"Mungkin hari ini bisa mengubah takdir kami," desis Rahma menatap anak perempuannya masuk ke dalam klinik kecantikan.
Rahma sangat bersyukur telah mendapatkan warisan dari hasil penjualan sawah orang tuanya. Semula dia tidak pernah berharap dari warisan orang tua. Karena itu dia hidup sederhana bersama suami dan anak perempuan satu-satunya, sampai sang suami pergi meninggalkannya. Namun, setelah itu, saat orang tuanya tiada, semua saudara membagi rata hasil penjualan sawah di desa sesuai dengan surat wasiat mendiang ayahnya. Dengan uang itu, Rahma bisa mendirikan usaha yang terus berkembang sekarang ini.
Dua jam lamanya Anita melakukan perawatan. Sebenarnya Anita tidak ingin repot seperti itu, tapi bayangan wajah Bagas yang menyebalkan membuatnya ingin berubah. Dia ingin membahagiakan dirinya seperti yang dilakukan oleh ibunya. Buat apa bersedih terus-terusan?
Tidak hanya perawatan wajah, tapi juga rambut. Seorang kapster memijat kepala Anita, membuatnya fresh dan lumayan mengurangi ketegangan di kepalanya yang diakibatkan oleh perilaku Bagas selama ini. Anita keluar dari ruangan dengan wajah segar. Ternyata, memang wanita butuh merawat dirinya sendiri. Bukan harus di klinik kecantikan, tapi menutrisi kulitnya karena kulit juga butuh asupan nutrisi.
Anita keluar dari ruang perawatan dengan wajah segar. Dia berjalan ke taman belakang, tapi tidak menemukan ibu dan anaknya. Dia membuka layar ponselnya.
Nita, maaf ibu pulang duluan. Cia capek tadi di taman, lalu rewel dan ibu bawa pulang karena dia kelihatan mengantuk berat.
Anita mengulas senyum. Ibunya sangat membantu. Anita menghirup udara segar di taman itu. Dia memutuskan untuk keluar melewati pintu belakang taman. Anita penasaran dengan krim yang dia beli sesuai dengan resep dokter kulit tadi.
Cerobohnya, Anita membaca komposisi krim-krim itu seraya berjalan. Dia tidak menyadari ada pria berkacamata yang berhenti dan berdiri di depannya memasukkan kedua tangan ke saku. Menunggu jalannya Anita yang terus saja tanpa melihat kemana-mana. Alhasil, Anita menubruk d**a lelaki itu.
"A-aduh!" serunya menggosok dahinya sendiri.
Anita menelusuri pria itu dari bawah sampai ke atas. Dari kaki jangkungnya, pria itu mengenakan sepatu bertali dan celana jeans dengan kemeja berwarna putih. Dia memakai sebuah kacamata dan dari balik kacamata itu, dua bola mata hitamnya menuju ke arah Anita dengan pandangan tajam menghunus. Rambutnya agak gondrong dan mengombak. Namun, tetap terlihat keren.
Anita meringis melihatnya. Wajah pria itu memang sungguh tampan, tapi kelihatan galak.
"Eh, maaf."
"Apa memang kamu berjalan tanpa menggunakan mata kamu?" tanya pria itu lagi.
Galak sekali. Anita sampai nyaris berhenti bernapas mendengar ketusnya lelaki itu.
"Saya memang teledor, maafkan saya," ucap Anita, membungkukkan badan, berharap lelaki itu akan memakluminya.
"Kamu menubruk saya," ucapnya lagi dengan nada bariton khas lelaki.
"Iya, apa perlu saya lap bajunya, Pak?" tanya Anita.
"Saya belum berumur! Kenapa kamu panggil saya Pak?" tanyanya kesal.
"M-maaf, saya juga nggak tau umur anda berapa. Jadi, saya harus panggil anda bagaimana?" tanya Anita.
"Kamu mau kenalan sama saya? Bilang aja," tukas lelaki itu.
Anita mengernyitkan dahi mendengarnya. Selain galak, ternyata juga kepedean.
"Apa? Nggak, maksud saya kalo bukan panggil dengan sebutan Pak, lalu saya harus menyebut apa? Jangan salah paham begitu," ujar Anita sewot.
Belum juga Anita selesai bicara, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang bertepuk tangan kecil, tapi cukup mengagetkan karena dia sangat mengenal lelaki itu. Ya, dia Bagas yang sedang berjalan dengan Delisa. Hati Anita kembali terasa teriris dengan kehadiran mereka. Bagaimana mereka bisa berada di kota kelahirannya?
Anita membuang muka, masih berdiri bersama dengan lelaki yang dia tabrak tadi.
"Mbak, pulanglah. Ibu mertua memarahi kami. Katanya, kami harus menyusulmu, Mbak. Tolong, maafin kami, Mbak. Aku akan menyewa rumah lain kalo perlu," desak Delisa memegang tangan Anita.
Anita menghela napas melihat Delisa. Wanita yang sungguh baik, tapi dia sudah sakit hati oleh kelakuan Bagas dikarenakan adanya Delisa. Meski sebaik apapun, Anita tetap merasa marah pada Delisa dan Bagas.
Tangan Anita melepaskan tangan Delisa perlahan. Dia menggelengkan kepalanya.
"Nggak. Udah, biarkan aja aku di sini. Biarkan aku tenang dulu. Ibu juga udah ke sini, tapi itu tidak akan mengubah pikiranku," ucap Anita.
Bagas mendengkus mendengarnya. Dia berang sekali melihat tangan Delisa disingkirkan oleh Anita.
"Heh! Anita! Kami ke sini cuma atas paksaan ibu! Dia marah padaku karena menurutnya, akulah penyebab kamu pergi dari rumah! Udah bela-belain ke sini, tapi kamu malah sok jual mahal! Tahu diri lah!" bentak Bagas.
Anita geram sekali. Seketika, hilang sudah rasa cintanya pada Bagas. Dia menemukan diri Bagas yang sangat buruk. Bahkan menghinanya di depan orang banyak. Tangan Anita terkepal kencang menahan sesak di d**a.
"Aku tahu diri, Mas. Makanya aku pergi! Wanita mana yang terima jika dirinya diduakan?" desis Anita.
"Walau bagaimana pun, aku nggak akan mau kembali ke rumah kalian. Anggap saja aku dan Cia sudah mati!" lanjut Anita dengan kedua mata memerah.